Bagai menuai memipi, AirAsia menjauhkan sejenak dari hiruk pikuk kota Jakarta. Ini bukan perjalanan luar biasa, namun menyadarkan bahwa ada dunia lain di luar sana selain memandang layar komputer dan terjebak kemacetan berjam-jam. Lanjutkan membaca “Pengalaman Pertama AirAsia , Kelana Candi”
Lunch time! Usai upacara bendera Hari Kemerdekaan RI ke 69 tiba-tiba kangen masakan tradisional Indonesia. Berhubung nggak ada lomba 17-an di kantor langsung kabur ke Taming Sari Cafe di Turi Beach Resort, Batam. Lanjutkan membaca “Kuliner Tradisional di Hari Merdeka”
Lagu Tanduk Majeng rancak dibawakan kelompok musik gaul Joko Kendil. Tabuhan gamelan berpadu laras dengan beragam alat musik tabuh; gendang , beduk bahkan ember bekas. Kerangka mobil bekas diubah menjadi panggung bergerak, penuh hiasan gunungan dan ukiran warna-warni. Layaknya pagelaran musik pertunjukan seni tradisional terlihat meriah mengundang antusias warga.
penampakan Natar (kampung halaman) dari atas pesawat
Aroma mudik kembali menyeruak sejak H-2 lebaran, menghamburkan lalu lalang manusia di bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan. Kini saya terseret menjadi bagian dari mereka, mendorong troli besar berisi oleh-oleh untuk sanak saudara di kampung. Berhimpitan mengantri di loket tanpa tata krama lalu menyelonong masuk memotong garis.
Pasti pada mau protes, judulnya ayam kampung kok gambarnya kwetiau siram. Maaf bro, awalnya juga nggak tahu kalau menu andalan rumah makan Tua Poh Tie adalah ayam kampus, kampung. Lanjutkan membaca “Ayam Kampung Tua Poh Tie”
“Yakin kita nginep di sini?” Dragon Inn Premium Hotel mengingatkan akan film gangster dan mafia Hongkong. Sekilas Febri menoleh memastikan hotelnya terang benderang , tidak berada di lorong gelap.
“Kayaknya bukan hotel esek-esek.” Febri meyakinkan saya. Maklumlah kita berdua om baik-baik jadi nggak tahu apa sebetulnya definisi hotel baik-baik , kurang baik atau tidak baik. Karena jujur kita selalu berlaku baik kalau di hotel *pencitraan*. Lanjutkan membaca “Dragon Inn Premium Hotel – Johor Bahru”
Turpi, wanita 19 tahun tergagap dalam pergaulan wanita baik-baik. Sejak usia 13 belas tahun dirinya diprogram oleh para germo bagaimana menarik dan melayani lelaki. Setiap gerak tubuh harus ada nilai jual minim moralitas. Jangan tanya iman, agama atau hal religius lainnya, itu kenangan masa lalu ketika masih di kampung. Terlahir yatim piatu seolah hidup tak memberikan pilihan. Janji bekerja di pulau seberang ternyata tipu muslihat. Lanjutkan membaca “Pelacur Itu”
Ceritanya ada yang kangen berat Jambi. Usai ngubek-ngubek hardisk nemu foto lenggang, varian mpek-mpek potong dadu digoreng bersama kocokan telur. Disajikan bersama mie kuning dan acar mentimun dalam linangan cuka manis pedas membara. Lanjutkan membaca “Mamad , Mpek-Mpek Super Pedas”