Madura Cultural Trip #9 – Sejenak Petik Laut

perahu dihias meriah jelang petik laut
perahu dihias meriah jelang petik laut

Ngapote ka’ wa lajere e tangale
Reng majeng tantona la pade mole

Mon tengguh deri ombek pajelena
Mak cek benyak a ongguh leh olehna

Oo mon ajeling odikna oreng majengan
Abental ombak sapok angen salanjenga

Lagu Tanduk Majeng rancak dibawakan kelompok musik gaul Joko Kendil. Tabuhan gamelan berpadu laras dengan beragam alat musik tabuh; gendang , beduk bahkan ember bekas. Kerangka mobil bekas diubah menjadi panggung bergerak, penuh hiasan gunungan dan ukiran warna-warni. Layaknya pagelaran musik pertunjukan seni tradisional terlihat meriah mengundang antusias warga.

antusias menyaksikan musik gaul, kesenian tradisional Sumenep
antusias menyaksikan musik gaul, kesenian tradisional Sumenep

Keramaian  salah satu desa di Pamekasan Madura, menghentikan langkah Tim Mahakarya Dji Sam Soe singgah sejenak. Destinasi ini sebenarnya tidak  masuk dalam itinerary perjalanan bukan? Ah namanya juga jalan-jalan, tambah destinasi tak apa, asal tak ketinggalan pesawat.

Sesaji baru akan dilarung esok tapi kesibukan persiapan Petik Laut  sudah terlihat di desa Petiken, kecamatan Pademewu, Madura. Petik laut merupakan acara larung sesaji sebagai bentuk rasa syukur atas berkah , rejeki dan keselamatan. Tradisi masyarakat nelayan yang sudah berlangsung  ratusan tahun.

“Kalau tak ada acara ini nelayan tak kumpul-kumpul, mereka terus melaut “, tutur  Haji Ibnu (47) kepala desa Petiken. Menegaskan acara ini sebagai ajang bersosialisasi warganya.

Tiga puluh  perahu pengiring gitik – perahu kecil tempat sesaji –  bersolek di pesisir. Warga bahu-membahu menghias kapal, memasang bendera ditali penopang layar. Lambung dan buritan dicat warna terang dengan  ornamen khas Madura. Selain kepala kerbau dan kambing, gitik akan dilarung bersama 41 macam jenis buah-buahan.

 

Tiba-tiba muncul penari topeng dan macan-macanan meramaikan persiapan Petik Laut. Bergerak lincah mengikuti alunan musik gaul. Sang macan bergerak liar meloncat kian kemari mirip barongsai. Setelah mengejar-ngejar penonton, kucing besar ini bermanja ingin disawer. Tak pelak lagi, selembar uang dari penonton membuatnya jinak lalu kembali menari.


Enggan rasanya meninggalkan kemeriahan pesta rakyat di pinggir pantai. Rasa hati makin penasaran ingin menyaksikan larung sesaji . Beiringan menumpang kapal warna-warna menuju samudra, melepas rasa syukur dan doa.

“Ayo teman-teman kembali ke Bus. Setelah ini kita ke pabrik jamu Madura.” Komando Mas Bram Gelar Cultural. Kegundahan hati ingin tetap singgah langsung sirna, membayangkan jamu pembangkit stamina pria. Jreng… jreng… Auuu…

“Aku ingin jamu manjakani, biar bisa bermanja-manja dengan suamiku.” Suara wanita di belakang bikin gagal fokus.

Terus aku minum jamu untuk siapa?

warga sibuk menghias kapal
warga sibuk menghias kapal

Madura Cultural Trip #1- Prolog Hati
Madura Cultural Trip #2 – Momen Monumental
Madura Cultural Trip #3 – Gentongan, Membatik Dengan Hati
Madura Cultural Trip #4 – Memangku Warisan Wayang Topeng Madura
Madura Cultural Trip #5 – Sumenep , Keraton di Timur Madura
Madura Cultural Trip #6 – Masjid Jamik, Sanepan Dalam Arsitektural
Madura Cultural Trip #7 – Pesarean Raja di Asta Tinggi
Madura Cultural Trip #8 – Semangat Membesi Aeng Tong Tong
Madura Cultural Trip #9 – Sejenak Petik Laut

31 pemikiran pada “Madura Cultural Trip #9 – Sejenak Petik Laut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s