Setelah pandemi banyak banget curhatan traveler yang sudah memesan kamar di aplikasi nganu, eh ternyata zonk! Hotel sudah tak bekerjasama dengan kamar dan kamu nggak dapat kamar. Deritanya cari hotel baru, padahal hari sudah malam dan high season. Cari hotel sama susahnya mencari jodoh ketika kamu sudah berusia di atas 40 tahun dengan rekening yang nggak tebal dan perut mulai membuncit. Eh!
Kejadian di atas satu dari sekian kejadian drama pesan memesan hotel yang kadang bikin mood traveling kontan melorot sampai ke bawah lutut. Tapi sesungguhnya drama hotel itu bantak banget, apalagi kalau kamu travel blogger :).
1 PHP Endorse Hotel
Kejadian ini mungkin hampir 10 tahun lalu, saat saya mulai me-review hotel. Singkat cerita, saya mendapatkan rekomendasi dari seoarang rekan SMP yang tinggal di Australia . Teman saya ini mantan suaminya horang kayah di kota P, punya banyak hotel di negara M dan juga ada beberapa di benua A. Gila ya tajir bener!
Setelah divorce hubungan tetap baik dengan teman saya. Saya sempat tanya kenapa pisah (kenapa aku jadi kepo). Ternyata tak mudah menjadi keluarga horang kayah, yang kaya 7 turunan dan 7 tanjakan. Mending jadi mantan ajalah, malah hubungan kami sekarang sangat baik.
Balik ke hotel. Berbekal rekomendasi saya berangkat dengan tiket pesawat promo ke kota P. Mantan suami teman saya memberikan nomor kontak orang kepercayaan. Saya mencoba mengontak dan beliau menginformasikan sudah di-arrange kamar dengan view terbaik (paling mahal kayaknya). Setelah stay beberapa hari saya kembali mengontak untuk mengucapkan terimakasih kepada orang kepercayaan. Tapi ternyata tak bisa dihubungi, sempat bertanya kepada petugas hotel apakah mengenal orang kepercayaan ini.
Meski petugas bilang mengenal si bapak tapi perasaan saya kok nggak enak. Hingga hari ketiga orang kepercayaan ini sulit dihubungi, padahal saya ingin bertemu dan mengucakpan terimakasih. Hari ke tiga saya memutuskan untuk pindah ke hotel lain dan saat check out ternyata saya harus membayar. Orang kepercayaan tidak bisa saya hubungi. Jujur agak kesal dan ingin curhat ke teman saya. Gimana sih orang kepercayaan, mantan suami loe!. Tapi sudahlah, jadi pelajaran saja daripada terjadi drama dan hubungan mantan suami istri jadi tidak baik baik saja.
Dua malam terakhir saya tinggal di hotel lain dan tetap membuat review hotelnya mantan suami teman saya yang mem-PHP saya.
- [VLOG] Perpustakaan Fasilitas Terlengkap Sejengkal Saja dari Batam Library@harbourfront
- Ini Bukan Omdo (Omong Doang), Komedo Bisa Bikin Gaya Kamu KO
- Hai Batam, Ramadan Sebentar Lagi Datang, Buka Puasa Dimana Ya
- Dari Siang Sampai Malam di National Gallery Singapura
- Video Series – Happy Birthday Transgasindo ke-23
2. Lantai Jangan Basah
Tidur berjamaah dengan orang beda negara bahkan benua terkadang melahirkan beberapa culture shock. YA tiba-tiba ada pasangan saat malam yang mustinya anteng bobok di ranjang masing-masing. Eh paginya kok udah numpuk dan uleng2an. Walau tak ada suara aneh tapi genjotan kasur berirama bikin saya migrain atas bawah
Kalau pengalaman kali ini sekamar dengan wanita dan kami berdua saja. Iya berdua nggak ada tamu lain walau ada 4 ranjang kosong. Pasti kamu dah berpikir, bakal asik. oh tidak teman-teman, room mate saya kali ini wanita tua lebih tepat nenek-nenek dan sepertinya long stay.
Awal perjumpaan kita mengobrol banyak Apalagi waktu itu saya masih belajar ngetrip ke luar negeri dan dia sudah keliling dunia. Nah drama terjadi saat saya keluar kamar mandi dan mendapati lantai kamar mandi basah. Iya basah oleh air karena saya pup dan pee sambil mainan air. Eh dia ( si nenek) mengomeli saya bahwa lantai kamar mandi tidak boleh basah, andai basah harus dikeringkan karena berbahaya. Panjang lebar, ia menjelaskan (tepatnya mengomel) kepada saya bahwa lantai kamar mandi dan toilet harus senantisa kering dan bersh. Aku terdiam seribu bahasa.
3. Kamar Dua Pria
Menurut kamu kalau tiga pria ingin traveling bersama. Bagaimana cara agar hemat bujet. Pastinya ambil satu kamar untuk dua orang dan ekstra bed atau stay bersama di hostel. Tapi berbedalah dengan dua teman saya yang awalnya mengaku sepupu tapi ternyata, ah sudahlah.
Saya berkenalan dengan pasangan ini melalui komunitas traveling dan sempat traveling bersama tiga kali ke luar negeri. Dan bodohnya saya tak paham dengan apa yang terjadi. Dengan alasan privasi, saya manut saja ketika sepasang manusia sama kelamin ini memilih sekamar dan selalu menyarankan saya untuk pisah kamar. Awalnya saya berpikir positif , mungkin mereka terganggu suara mengorok
Tapi belakangan kok rasanya ada yang salah, apalagi di beberapa tempat mereka memilih hotel mewah layaknya bulan madu. Kalau mengikuti mereka tidur di hotel berbintang dan saya sendirian tentu akan boncos. Tanpa bersu-udzon sayapun melipir ke hostel terdekat. Dan itu berkal-kali, dari trip religius, trip hore-hore sampai long trip.
Baiklah sekali lagi saya tanyakan ke beberapa rekan jalan. Apakah mereka pasangan sepupu? Beberapa dari mereka malah tertawa terbahak, ” Sepupu dari Hongkong. Masa loe nggak paham sih?”
Begini dua pasangan itu tinggal di kota Sumatra yang cukup kental menjalankan agama. Jadi bagi mereka untuk bertemu dan memadu cinta tak semudah membalikan selangkangan. Jadi momen traveling ke luar negeri dijadikan ajang silaturahmi kelamin.
Paham Sampai di sini?
4. Tagihan Kamar 719
Pagi itu saya memang check out lebih awal untuk mengejar penerbangan Jakarta- Batam. Saat diresepsionis saya mendapatkan tagihan makan dan minum di resto. Merasa tak melakukan transaksi tersebut saya pun kompline. Petugas meng-crosscheck ke restoran dan benar dinyatakan bahwa kamar 714 valid melakukan transaksi makan dan minum.
Jujur saya agak emosi karena waktu yang semakin mepet dan petugas hotel tidak solutif dan responsif. Akhirnya sayapun mengambil inisiatif agar petugas hotel memeriksa transaksi beberapa kamar yang nomornya mirip denan kamar saya 714. Seperti nomor 719, 774 dan 779 karena kecurigian typo penulisan . Dan benar saja ketika dicrosscheck ulang, transaksi resto milik kamar 719.
Tadinya mau marah karena nyaris ketinggalan pesawat tapi sudahlah marah tak akan menyelesaikan masalah, lagian masalah sudah selesai.
5. Review Gratis Berakhir Nelangsa
Ini kisah review gratis yang berujung dusta. Saat pandemi karena ingin membantu industri pariwisata yang sedang terpuruk, saya staycation tanpa endorse untuk konten video dan tulisan. Setelah memesan lewat aplikasi sayapun semangat menyambangi homestay yang memiliki kolam renang di kawasan Baloi.
- [VLOG] Perpustakaan Fasilitas Terlengkap Sejengkal Saja dari Batam Library@harbourfront
- Ini Bukan Omdo (Omong Doang), Komedo Bisa Bikin Gaya Kamu KO
- Hai Batam, Ramadan Sebentar Lagi Datang, Buka Puasa Dimana Ya
- Dari Siang Sampai Malam di National Gallery Singapura
- Video Series – Happy Birthday Transgasindo ke-23
Setelah menunggu agak lama di ruang resepsionis, ternyata homestay sudah tidak ada kerjasama dengan aplikasi dan properti ini dalam proses pindah tangan. Nah lho!
Saya mencoba menghubungi CS aplikasi melalui telepon yang ternyata dibalas dengan mesin dan setelah sekian purnama tersambung. Tentu saja setelah habis pulsa nyaris 50 ribu. Belumlah proses refund terkonfirmasi , telepon putus dan CS lagi-lagi tak bisa dihubungi. Kembali saya mencoba menghubungi lewat e-mail dan tidak ada respon. Ya ampun, niat baik mengapa jadi ribet begini?
Ini bukan soal uang yang tak bisa dikembalikan, tapi ada rasa terzolimi. Ketika berniat baik kok malah jadi nelangsa dan mengemis uang sendiri. Saya teringat, sepertinya punya rekan , marketing dari aplikasi yang bersangkutan. Saya mencoba menghubunginya dengan mengirimkan bukti transaksi beserta kronologis.
Ya kira-kira 3 jam kemudian saya dikirimkan voucher yang senilai kamar dan dilebihkan 50 rupiah saja. Saya dan teman yang sudah membawa peralatan tempur (gadget buat ngonten) akhirnya cuma bengong di kafe. Sambil berpikir hidup kok gini amat?
“Kalau niat baik nggak direspon baik, itu namanya ujian.”
6. Kamar Busuk Singapura
Sebetulnya cerita ini sudah pernah kisahkan di sini tapi dengan gaya jenaka yang bikin kalian bakal ngakak sampai koprol. Saya akan mengikuti Canon Photo Run di Singapura karena jadwal kerja padat, saya berangkat dari Singapura Jumat sore. Harapannya Sabtu pagi tak terburu-buru naik kapal feri dan mencari venue.
Singkat cerita sampai hotel jelang malam dan langsung check in. Saya ditempatkan di kamar hostel yang lebih mirip gudang dibanding kamar. Karena saya sangat lelah mau kompline pun malas, tapi kamar itu sangat tidak layak. Isinya kebanyakan penghuni long stay dengan barang seabrek.
Malam pertama masih bisa dimaafkan, malam ke dua kamar yang mirip gudang kedatangan tamu anak muda. Dan gilanya tengah malam ia melakukan matrubasi di tempat tidur tanpa penutup (selimut). Saya yang tengah malam terbangun akan tahajud, tetiba pandangan ternodai dengan adegan senggama genggam.
Sumpah ini pengalaman paling buruk tinggal di hostel. apakah ini membuat saya trauma? Oh tentu tidak, besok kalau ada yang matrubasi akan saya bangunin dan suruh pakai pengaman biar nggak muncrat kemana-mana. Njirrr!

Ingin menunggang kuda Gratisan
Dalam membangun https://www.geraimaduapis.id/ tulisanku masih banyak yang harus diperbaiki, semoga kelak tulisan ku bisa sebagus kakanya.
hallo juga
halo
7. Resepsionis Selebritis Duni Maya
Ini bukan tentang kamar buruk atau drama pemesanan tapi tentang resepsionis yang kurang responsif karena sibuk menebar jaring di dunia maya. Kejadian ini mungkin 10 tahun lalu di negeri antah berantah (nggak mau sebut kotanya). Dengan berbekal ransel saya terdampar di sebuah hostel murah meriah, harga per malam tak sampai 100 ribu rupiah, fasilitas oke dan posisinya strategis.
Tapi resepsionisnya super sibuk. Mas-Mas yang hidungnya mancung dan body-nya gempal dengen bulu bertaburan di sekujur wajah dan tubuhnya. Selalu saja ber-haha hihi di telepon atau video call. Ini bukannya julid ya tapi saya kan mau check in tapi dia slow banget. Kalau sekarnag sudah dapat dipastikan dia sibuk main tik tok dan live sambil memamerkan bulu-bulunya. Eeh.
Karena kepo, pada satu kesempatan sayapun menguping apa yang dibicarakan hingga sesibuk ini hidupnya. Oh ternaya Mas resepsionis punya hobi merayu wanita dari seluruh negara, lalu mengajak wanita itu singgah di hatinya dan kosannya.
Hmmmm. Kira-kira apakah kalian salah satu korbannya?
8. Harga Tiga Kali Lipat
Tahun lalu saya merencanakan perjalanan sempurna ke KL , ya secara sudah 3 tahun lebih nggak ke KL. Kamar hotel sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelum hari H, dan dibayar di muka dengan kartu kredit. Eh tapi tiga hari sebelum keberangkatan, semua pesanan kamar dibatalkan sepihak dengan alasan sistem atau apalah gitu.
Karena memang butuh saya memesan kembali dan kamar hotel yang sama, plus waktu yang sama. Harga dah naik menjadi tiga kali lipat dan ternyata modus seperti ini banyak banget.
9. Hotel Limpul
Jujurly sih , aku tuh anaknya nggak terlalu picky soal fasilitas hotel, apalagi kalau traveling sendiri bukan dinas kantor. Karena ini konsepnya cuma mau hunting foto santai, hotel murah meriah jadi pilihan. Nama kota disamarkan tapi nggak jauh dari pulau Batam.
Singkat cerita memesan kamar hotel 50 ribu, iya kamar hotel bukan hostel. Sampai di depan bangunan saya langsung bengong, bangunan lebih mirip rumah tua ketimbang hotel. Setelah beberapa menit menunggu di lobi , barulah penunggunya keluar dan memberikan kunci.
Kamar saya berada di lantai dua dengan balkon terbuka. Rasanya tak ada tamu lain kecuali. Saat pintu kamar dibuka ternyata kamarnya tak terkunci karena memang tak bisa dikunci. Sebetulnya kamarnya cukup luas , ada dua tempat tidur dan lemari di depan kamar mandi. Saya curiga ranjang satunya bekas dipakai orang dan seprai tidak diganti.
Karena saya niatnya hanya tidur tanpa banyak berpikir langsung mandi dan tidur. Entahlah apa yang terjadi malam itu, kalau saya peka mungkin sudah melihat berbagai penampakan. Asli ini bukan hotel tapi rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
- [VLOG] Perpustakaan Fasilitas Terlengkap Sejengkal Saja dari Batam Library@harbourfront
- Ini Bukan Omdo (Omong Doang), Komedo Bisa Bikin Gaya Kamu KO
- Hai Batam, Ramadan Sebentar Lagi Datang, Buka Puasa Dimana Ya
- Dari Siang Sampai Malam di National Gallery Singapura
- Video Series – Happy Birthday Transgasindo ke-23
- Mengintip Komunitas Seni Konteporer di Tanjung Pagar Singapura – SAW 2025
- Travel Vlog Series – Serunya Tokyo Di Musim Semi
- Tak Gentar Diguyur Hujan, Lomba Perahu Layar Pulau Pemping
- Culinary Vlog – Christmas Dinner Batam Hotel Marriott Harbour Bay
10. Pesan Hotel Tapi Ngemper
Pernahkah anda liburan memesan hotel tapi pada akhirnya tidak ditiduri karena nggak mampu pulang karena mahalnya ongkos taksi. Ini kisah awal di Batam, masih semangat semangat jalan ke Singapura. Kebetulan saya mendapat tiket Hallowen di Universal Studio Singapura. Ternyata acara selesai pukul dua dinihari.
Saat ingin ke stasiun MRT ternyata sudah tidak beroperasi, begitu juga bus. Waktu itu belum ada aplikasi taksi online, tapi dari informasi seorang rekan, harga taksi di Singapura malam hari mahal banget. Karena melihat banyak pengunjung USS lain tidur di depan pintu gerbang dengan sigap saya ikutan mengambil posisi tidur.
Mengempar di salah satu teras bangunan yang aman dari hujan, jaket digelar sebagai alas dan ransel dijadikan bantal. Sayapun meringkuk tidur ngemper di depan USS bersama dengan ratusan orang. Uhuy!
Tenang karena acara seperti ini tidak rutin sepertinya panitia memaklumi, jelang pukul 5 saya pun pulang dengan MRT ke hotel lalu tidur sampai pukul 11 siang dan check out. Lumayanlah masih bisa tidur di kasur beberapa jam.
11. Hotel Saklek di Moscow
Ini pengalaman berharga bagi yang ingin traveling ke Russia, beberapa hotel di Russia itu saklek masalah nama yang tercantum di dalam voucher booking. Jadi ceritanya kami memesan kamar hotel di aplikasi burung biru yang hanya bisa mencantumkan satu nama di setiap kamar walau ditempati berdua. Saat check in petugas hotel memastikan bahwa kamar yang ditempati sesuai voucher kode booking. Jika tak sama dan tercantum kami tidak diijinkan masuk kamar.
Meski pada akhirnya diijinkan masuk tapi kami harus mengurus terlebih dahulu ke burung biru dan memasukan nama di pemesanan kamar. Asli reseptionist saklek banget khas orang Russia. Nggak ada basa-basi mukanya lempeng aja lurus seperti kanebo kering.
12. Tidur Di Ruang Tamu
Semuanya terjadi karena saya ketinggalan kapal feri Singapura-Batam. Setelah ngamen di negeri jiran, rasanya lelah melewati perjalanan darat KL-Singapura, mau ngemper kok rasanya nggak sanggup. Dadakan saya singgah ke hostel di Singapura yang kebetulan ownernya orang Indonesia, berharap dapat ranjang tapi semua sudah penuh. Waktu menunjukan pukul 9 malam , rasanya mau keliling mencari yang lain lelah.
Sang owner menawarkan tidur di ruang tamu dengan ranjang tambahan, pastinya dengan potongan harga. Sayapun menerima dengan suka cita. Ya kadang hidup tak seribet itu. Setelah mandi dan makan malam saya pun langsung tidur nyentak di ruang tamu yang disulap jadi peraduan.
Ini nggak terlalu drama tapi menyadarkan bahwa sejatinya kita bisa tidur dimana saja, tanpa harus ribet butuh privasi, bantal dan ranjang empuk.
Ya kamu kan lelaki Mas, tidur dimana saja aman, tidak ada yang menjamah.
Iya juga sih. :D

[…] Photo Via : http://www.tripzilla.id Photo Via : ungaran.id Photo Via : id.wikipedia.org Photo Via : dananwahyu.com Photo Via :…