Jalan Jalan ke Medan Yuk

Poin Jalan-jalan Terkumpul, Rindu Jelajah Medan Terobati

Kota Medan itu bagaikan rumah kedua bagi saya. Dulu,  hampir sebulan sekali saya mengunjungi ibu kota provinsi Sumatera Utara selama satu minggu.  Di sana, saya bergabung dengan komunitas backpacker Medan, lalu traveling bersama. Aktivitas yang dilakukan beragam, mulai dari jelajah destinasi wisata di Sumatra Utara hingga Aceh, hingga menyisir pulau-pulau di barat Sumatera, seperti Kepulauan Banyak dan Sabang.

Lalu, bagaimana dengan destinasi wisata Medan?

Sayangnya, saya selalu melewatkan kesempatan itu karena sesampainya di  Medan, saya biasanya bergegas ke Jambi untuk bekerja selama dua minggu.  Satu minggu kemudian, saya kembali ke Medan untuk bergabung dengan komunitas backpacker.

Sejak mutasi kerja di Batam, semuanya tinggal kenangan, apalagi dengan pola kerja 5-2 seperti saat ini. Jangankan backpacking, jalan-jalan gaya koper pun sulit karena hanya ada  libur di hari Sabtu dan Minggu.

Setelah enam tahun lebih, kerinduan itu semakin menjadi-jadi. Berawal dari oleh-oleh bika ambon dan bolu Meranti yang dibawa oleh seorang teman. Sesegera mungkin, saya melihat jadwal penerbangan Batam — Medan.

Teaser #PiknikAkhirPekan Ke Medan

Dengan penerbangan terakhir Batam — Medan  di  hari Jumat dan penerbangan pertama Medan — Batam Senin pagi, sepertinya saya bisa traveling tanpa harus cuti.

Tiket ke Medan memang tidak terlalu mahal, tapi niat piknik akhir pekan ini harus saya urungkan demi keseimbangan neraca keuangan. Walau untuk traveling seperti ini yang saya butuhkan hanya biaya tiket pesawat dan penginapan, saya sudah tiga akhir pekan ini berturut-turut  ke luar kota (boros!).

Setelah merenung sambil berpikir jernih mencari solusi untuk tetap bisa ke Medan tanpa kocek besar, saya coba buka akun Traveloka App. Saya ingat kalau di aplikasi ini ada program Loyalty Points untuk pelanggan setia Traveloka seperti saya ini. 😀

Tak ingin buang waktu, saya langsung cek jumlah poin yang sudah terkumpul sejak beberapa bulan lalu. Saya berharap ada cukup poin yang bisa ditukarkan dengan tiket pulang-pergi. Setelah dihitung-hitung, ternyata poinnya cukup! Yeah! Saya pun langsung memesan tiket PP.

Pesan tiket pp Batam - Medan dengan Traveloka App
Pesan tiket pp Batam – Medan dengan Traveloka App

Jadi begini ceritanya, setiap traveling (jalan-jalan pribadi atau dinas kantor), saya selalu membeli tiket pesawat dan kamar hotel menggunakan Traveloka App di ponsel. Nah, setiap pesan tiket pesawat maupun booking hotel, saya akan mendapatkan poin yang bisa ditukarkan dengan tiket maupun kamar hotel di transaksi berikutnya.

Masa berlaku poin ini hanya satu tahun terhitung saat poin didapat. Hitung-hitung, saya mengumpulkan poin agar bisa pesan tiket atau hotel gratis. Kalau kamu bagaimana? Sudah punya akun di Traveloka App? Kalau belum, mending langsung install, biar nanti kalau pesan tiket atau hotel lagi, bisa langsung dapat poin.

Kamar bayar kombinasi

Hari Jumat, usai jam kantor saya langsung menuju Bandara Hang Nadim Batam. Meski pesawat delay  satu jam, penerbangan berjalan lancar. Sesampai di Bandara Kualanamu, saya memutuskan untuk tidur di sana.  Bernostalgia merasakan menjadi seorang  backpacker sekaligus menghemat bujet gak ada salahnya kok.

Sejujurnya, saya belum sempat membuat itinerary perjalanan. Saya langsung buka ponsel dan mencari beberapa informasi menarik tentang Medan dari internet Oke, ada beberapa destinasi wisata di kota ini yang bisa saya kunjungi selama dua hari.

Loyality poin bisa digunakan untuk memesan kamar juga lho
Loyality poin bisa digunakan untuk memesan kamar juga lho

Kalau malam ini saya tidur di bandara, bagaimana dengan esok dan lusa? Saya benar-benar lupa memesan kamar hotel. “Kenapa gak sekalian pas kemarin redeem tiket pakai Loyalty Points, ya?” gumam saya. Mengecek kembali jumlah poin, ternyata sisanya tak cukup untuk memesan kamar seharga 285 ribu Rupiah. Duh!

Saya langsung buka situs web Traveloka untuk cari informasi Loyalty Points, eh ternyata kamar hotel bisa dibayar dengan poin dan tunai. Jadi, jika poin tak mencukupi, saya bisa membayar sisanya dengan cara tunai atau menggunakan beragam metode transaksi yang ada di aplikasi. Beres sudah masalah urus penginapan!

Hari Pertama – Antara Kesawan hingga Pasar Hindu

Medan memiliki banyak bangunan tua bersejarah yang menggambarkan keragaman suku dan agama. Salah satunya adalah Tjong A Fie Mansion, rumah seorang saudagar kelahiran Guangdong, China yang memiliki kontribusi besar akan kemajuan Kota Medan.

Mewahnya Mansion Tjong A Fie
Ball room di lantai 2 Tjong A fie Mansion
Ball room di lantai 2 Tjong A fie Mansion

Di rumah besar bergaya Tiongkok kuno, saya terkagum melihat setiap detail interior dan eksterior bangunan yang ternyata elemennya tidak berasal dari China saja, tapi juga dari Eropa, seperti ubin bercorak dari Italia atau kaca patri dari Spanyol.

Dengan membayar tiket sebesar 35 ribu Rupiah, seorang pemandu mengantar berkeliling ke bangunan dua lantai ini. Pertama-tama, ia memperlihatkan foto keluarga besar Tjong A Fie, lalu mengajak menjelajah ruangan demi ruangan.

Partisi kayu asli Mansion Tjong A Fie Medan
Partisi kayu dengan ornamen emas di  Mansion Tjong A Fie Medan

Usai berkeliling di Mansion Tjong A Fie, saya memenuhi janji bertemu dengan seorang blogger yang dikenal dengan panggilan “Nyonya Sepatu”. Awalnya, kami berniat makan siang bersama di Tip Top, tapi karena sudah makan siang kami ngemil santai saja.

Dari restoran Tip Top, kami menyusuri Jalan Kesawan yang kini berubah nama menjadi Ahmad Yani. Selama perjalanan, Noni alias Nyonya Sepatu bercerita banyak tentang beberapa bangunan bersejarah di kawasan ini.  Salah satunya adalah Losum atau London Sumatera,  gedung pertama di Sumatra yang memiliki lift.

Gedung Losum (London Sumatra) , gedung pertama di Sumatra yang menggunakan lift
Gedung Losum (London Sumatra) , gedung pertama di Sumatra yang menggunakan lift
Kantor Pos dan Titik Nol kota Medan
Kantor Pos dan Titik Nol kota Medan

Layaknya pemandu wisata, ia mengatakan bahwa  titik nol Kota Medan berada di kantor pos. Posisinya ditandai dengan sebuah besi logam di ujung kubah bangunan bergaya Eropa klasik
Setelah kembali ke depan Losum, kami berjalan ke belakang menuju Warren Huis, sebuah bangunan tua bekas toserba pertama di Medan. Jelang sore, bangunan ini terlihat sangat Instagram-able. Membuat saya dan Noni mendadak narsis karena kami berfoto hampir hampir di setiap sudut bangunan ini. 😀

Noni berkata bahwa di jalan samping Het Waren Huis, terdapat Pasar Hindu yang merupakan pusat jajanan dan sarapan pagi. Nyatanya, pasar ini tutup pada sore hari. Melihat sekitar pasar, ternyata tak kalah keren untuk dijadikan tempat berfoto.

Warren Huis - Supermarket pertama di kota Medan
Het Waren Huis – Supermarket pertama di kota Medan
Pasar Hindu pusat jajanan pagi kota Medan yang instagram-able
Pasar Hindu pusat jajanan pagi kota Medan yang instagram-able

Dan akhirnya, edisi narsis di depan kamera hari itu  kami tutup dengan berfoto di mural pertama Kota Medan. Mural ini menggambarkan pengendara bentor (becak motor) bersama  penumpangnya.

Mural pertama kota Medan, naik bentor bareng orang utan
Mural pertama kota Medan, naik bentor bareng orang utan

Hari Kedua – Kemasyhuran Kesultanan Deli & akulturasi budaya

Pagi ini, saya berencana menyusuri jejak kemasyhuran Kesultanan Deli.  Destinasi pertama adalah Masjid Raya Al-Mashun yang berada di Jalan Sisingamangaraja. Siapa saja yang melihatnya arsitektur masjid yang berusia sekitar satu abad ini pasti akan merasa takjub. Sekilas, bentuknya hampir mirip dengan Masjid Raya di Banda Aceh. Namun jika diperhatikan lebih jeli, arsitekturnya memiliki perpaduan gaya Timur Tengah, India, dan Spanyol.

 Megahnya pintu gerbang Masjid Raya Al - Mashun
Megahnya pintu gerbang Masjid Raya Al – Mashun

Ini bukanlah kunjungan saya pertama ke Masjid Raya Al-Mashun. Enam tahun lalu, saya pernah menyambangi masjid ini secara sekilas. Sekarang, saya baru tahu bahwa terdapat makam sultan Deli dan kerabatnya di bahwa di halaman masjid ini.

Saya pun sempat berbincang dengan penjaga masjid yang masih kerabat sultan. Ia bercerita bahwa Masjid Al-Mashun diurus secara mandiri oleh keluarga sultan. Di tahun ini, bangunannya sudah mulai direnovasi secara besar-besaran. Halaman masjid yang semula hanya rerumputan diganti dengan lantai batu agar bisa memuat jamaah lebih banyak. Nantinya, kolam di tengah halaman masjid dipercantik dengan air mancur dan lampu-lampu. Sementara itu, dinding keramik bagian luar akan diganti dengan yang baru tanpa mengubah motif aslinya.

Masjid Raya Al - Mashun sedang direnovasi
Masjid Raya Al – Mashun sedang direnovasi

 

Sejak 24 tahun lalu, Masjid Al-Mashun memang belum direnovasi, sehingga keluarga sultan memiliki inisiatif untuk memperbaikinya agar terlihat lebih cantik.

Menjelang siang, saya pun melangkahkan kaki menuju Istana Maimun yang berada di Jalan Brigadir Jenderal Katamso. Bangunan yang didominasi warna kuning ini bukan hanya merupakan destinasi wisata, tapi juga dijadikan sebagai ikon Medan.

Istana Maimun peninggalan Kesultanan Deli Melayu
Istana Maimun peninggalan Kesultanan Deli Melayu

Banguan dua lantai dengan luas 2.772 meter persegi ini memiliki ornamen interior perpaduan gaya Melayu, Arab, Spanyol, India, dan Italia. Tak heran, menjelang akhir pekan seperti ini Istana Maimun ramai dikunjungi wisatawan. Tiket masuknya tergolong murah, hanya 5 ribu Rupiah. Lebih serunya, wisatawan dapat menyewa pakaian ala sultan untuk berfoto hanya dengan mengeluarkan uang 30 ribu Rupiah.

Atraksi dendang Melayu di Istana Maimum setiap hari Minggu
Atraksi dendang Melayu di Istana Maimum setiap hari Minggu

Usai makan siang, Tata, rekan lama dari komunitas backpacker saya, mengusulkan untuk ke sebuah tempat unik di kota. Sebetulnya, ini bukan tempat wisata melainkan gereja yang desainnya mirip kuil Hindu.

Lukisan Sultan di Istana Maimun
Lukisan Sultan di Istana Maimun
Mewahnya interior istana Maimun
Mewahnya interior istana Maimun

Mungkin kamu pernah mendengar Gereja Kuil Graha Bunda Maria Annai Velangkanni? Ya, gereja Katolik ini sekilas memang terlihat seperti kuil, tapi jika diperhatikan lebih seksama, tak ada ornamen patung dewa melainkan hanya ada salib.

Gereja Kuil Graha Bunda Maria Annai Velangkanni, gereja bergaya kuil Hindu di kota Medan
Gereja Kuil Graha Bunda Maria Annai Velangkanni, gereja bergaya kuil Hindu di kota Medan

Medan memang kota multietnis. Hampir semua agama dan etnis ada di kota ini dan masyarakatnya hidup berdampingan dengan damai sejak dulu.  Salah satunya buktinya ada pada Masjid Raya Al-Mashun yang dibangun oleh Sultan Deli dengan bantuan dana dari Tjong A Fie keturunan Tionghoa.

Jadi, tak heran jika budaya berbagai etnis di kota ini melahirkan budaya baru seperti ragam kuliner lezat  dan arsitektur yang bisa dilihat dari bangunan tua maupun modern.

Destinasi wisata terakhir saya di Medan ini memang tak ada hubungan dengan wisata budaya atau kuliner, tapi ingin memenuhi rasa penasaran saja. Kebetulan tidak jauh dari Gereja Kuil Graha Bunda Maria Annai Velangkanni, terdapat penangkaran buaya yang tersohor.

Meski saya dan Tata agak khawatir dengan aroma tak sedap yang berasal dari kolam penangkaran buaya, kami tetap berjalan menuju ke sana.

Jreng-jreng! Akhirnya, kita  bertemu dengan ratusan buaya (tapi bukan buaya darat). Destinasi wisata ini cocok dijadikan wisata keluarga dan edukasi bagi anak-anak untuk mengenal hewan yang konon menyeramkan ini. Meski begitu, hewan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Tahukah kamu bahwa tas Hermes yang harganya ratusan juta rupiah, bahan baku kulitnya berasal dari buaya yang hidup di penangkaran?

Jalan-jalan dua hari di Medan kali ini cukup mengobati kerinduan. Kalau akhir pekan lalu saya kangen kota ini, bisa jadi nih tiba-tiba saya kangen kamu *eh, maksudnya kangen kota lainnya. Kira-kira, ke mana lagi ya?

Ada yang punya ide? Saya masih ada 10.000 poin lagi untuk merindu ke berbagai daerah nih. *sambil elus dada* Ciye!!!

17 pemikiran pada “Poin Jalan-jalan Terkumpul, Rindu Jelajah Medan Terobati

  1. Mansion Tjong A Fie cakep bener ya kak… Suka ngeliatnya. Aku belum pernah ke Medan. Kemaren pengen ke Medan, tapi kayaknya gak puas kalo cuma sehari, kudu nunggu cuti agak lama, biar sekalian bisa ke Danau Toba 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s