Wisata Malam Melintas Jejak Sejarah Tanjung Pandan

Rasanya tak ingin membuang waktu dan menikmati malam terakhir di Belitung, malam ini sayapun kembali menjelajah pusat kota Tanjung Pandan. Setelah terbangun dari mimpi indah pendek, tepat pukul 22:00 WIB saya keluar dari hotel  berjalan ke arah pelabuhan menjauhi pusat kota. Hingar bingar dan keramaian kota sudah nyaris tidak terasa di sini.

Gang Kim Ting adalah sebuah kawasan jalan kecil di kawasan pecinan Tanjung Pandan merupakan sentra penjualan ikan asin dan terasi. Menjelang sore hari , kios penjual makanan awetan hasi laut ini berubah menjadi tempat mangkal penjual makanan . Sebuah gapura bergaya oriental dengan huruf kanji mempertegas bahwa ini adalah kawasan pecinaan.

Tidak jauh dari Gang Kim Ting terdapat sebuah bangunan berwarna merah jambu dengan halaman yang luas, yaitu Kelenteng Hok Teh Ce. Kelenteng sederhana yang dibangun pada tahun 1868 merupakan salah satu bentuk alkuturasi budaya cina dengan penduduk setempat. Pada masa lalu banyak bangsa cina didatangkan di Tanjung Pandan untuk bekerja di tambang timah di bawah kepemimpinan Kapten Ho A Jun. Bangunan yang dikenal dengan Kelenteng Pasar Ikan ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Cagar Budaya.

Tepat di depan hotel Surya tempat saya menginap ada sebuah bangunan bergaya Belanda dengan tujuh pilar di depannya. Kesan bangunan tua dan angker sangat terasa di sini. Ketika mengambil gambar ditengah malam ada perasaan bergidik di bulu kuduk saya. Tapi ini adalah bagian dari sensasi wisata malam. Setelah membaca sebuah papan putih di depannya akhirnya saya tahu ini adalah kediaman  Kapiten Phang Tjong Toen. Seorang juru tulis tambang yang bekerja pada  John F. Loudon  tahun 1853. Rumah yang dibangun pada 1868 ini dimiliki oleh keturunan sang kapten yaitu Ny Ester Lena. Sayang sekali sepertinya bangunan ini tidak terbuka untuk umum. Mungkin jika terbuka bagi umum bisa menjadi salah satu objek wisata malam seperti Lawang Sewu untuk mengguji nyali.

Untuk menetralisir suasana mistis sayapun berjalan menuju simpang lima mencari suasana yang lebih ramai. Berdiri sebuah  Boulevard Simpang Lima Tanjungpandan (BSLT) yang khas dengan batu Satam dan air mancur. Taman kota yang dibangun pada tahun 2010 dan diproyeksikan menjadi ikon Belitung ini ternyata sempat menimbulkan reaksi kontra pada masa pembangunan. Bangunan yang diprakasai oleh Bupati Belitung Ir.H.Darmansyah Husein dituding akan mengilangkan unsur sejarah. Karena membuat Tugu Pahlawan di areal taman kota harus dibongkar dan membuat beberapa ikon buah nanas dan lambang Belitung Parang-Ikan Tenggiri dipindahkan. Namun kini masyarakat bisa menerima kehadiran batu satam raksasa di tengah kota sebagai ikon yang mempercantik kota Tanjung Pandan.

Menjelang tengah malam kota ini semakin sepi, toko toko sudah tutup yang tinggal hanya kedai kopi dan dua gerobak makanan berjajar di dekat simpang lima. Sayapun kembali menyusuri tiap sudut jalan di sini, tapi yang ada hanya kesunyian. Di salah satu ujung jalan saya menemukan sebuah bangunan bertuliskan Eks. Kantor Billiton Mij. Tak banyak informasi dan gambar yang saya bisa saya dapatkan karena bangunan ini tepat di samping kantor polisi. Dan saya  menjaga sikap karena  aparat memperkatat pengamanan Belitung ,  dijadwalkan esok  presiden akan berkunjung untuk membuka acara Sail Wakatobi Belitung Sail 2011.

Menikmati malam sambil menyusuri saksi sejarah sebuah kota memberikan satu sensasi perjalanan yang berbeda. Malam ini saya bisa benar-benar menikmati kota Tanjung Pandan dari sisi yang lain. Wisata tidak harus identik dengan sesuatu yang indah, gemerlap dan mahal. Terimakasih malam, Tanjung Pandan dan bulan yang telah menemani penjelajahan kali ini….

23 Comments on “Wisata Malam Melintas Jejak Sejarah Tanjung Pandan

  1. Ping-balik: Pulang Melewati Dua Lautan: Tanjung Pandan – Boom Baru | Danan Wahyu Sumirat

  2. Ping-balik: Hunting-Wrong Time and Wrong Place | Danan Wahyu Sumirat

  3. Ping-balik: Jejak Sang Laskar Gantong | Danan Wahyu Sumirat

  4. Ping-balik: Sesi Pemotretan Tak Terduga (Belitung) | Danan Wahyu Sumirat

  5. Ping-balik: Kelenteng Sang Dewi Laut | Danan Wahyu Sumirat

  6. Ping-balik: Satam Si Hitam Nan Misterius | Danan Wahyu Sumirat

  7. Ping-balik: Fotografi Jalanan & Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  8. Ping-balik: Sesi Pemotretan di Pulau Gede, Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  9. Ping-balik: Pulau Babi Kecil, Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  10. Ping-balik: Menjangkau Batu Tertinggi di Tanjung Tinggi | Danan Wahyu Sumirat

  11. Ping-balik: Sunset di Tanjung Tinggi | Danan Wahyu Sumirat

  12. Ping-balik: Pulau Gede (Babi Besar) Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  13. Ping-balik: Menyibak Layar Pulau Batu Berlayar | Danan Wahyu Sumirat

  14. Ping-balik: Danau Kaolin: Anugerah, Musibah, Berkah | Danan Wahyu Sumirat

  15. Ping-balik: Basah+Hujan+Lapar = Mie Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  16. Ping-balik: Beauty and Pose in Lengkuas Island | Danan Wahyu Sumirat

  17. Ping-balik: Tanjung Kelayang 10.10.11-12.10.11 | Danan Wahyu Sumirat

  18. Ping-balik: Merasakan Sari Laut di Tanjung Pandan | Danan Wahyu Sumirat

  19. Ping-balik: Langkah Pertama Pantai Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  20. Ping-balik: Melayang-layang Menuju Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  21. Ping-balik: Sang Surya Tenggelam di Tanjung Pendam | Danan Wahyu Sumirat

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: