Langkah Pertama Pantai Belitung

Aroma laut di Tanjung Pendam kemaren rasanya semakin kuat terhirup di udara pagi ini. Tak sabar untuk bergegas berlari mencari pantai terdekat dan terindah di pulau ini. Tujuan pertama hari ini adalah Tanjung Binga, merupakan kawasan kampung nelayan yang terletak sekitar 20 km arah utara kota Tanjung Pandan. Dari sini kami berencana mengunjungi pulau Lengkuas. Sebetulnya pulau Lengkuas bisa dijangkau dari Tanjung Kelayang tapi karena ada upacara tolak balak dan pelarungan sesaji, kapal disana enggan berlayar hari ini.

Melalui dermaga kayu dibelakang rumah seorang nelayan pelayaran hari ini dimulai. Suasana belitung dengan batu besar-besarnya sudah terasa. Tampak gundukan batu kecil menyembul dari dalam laut, melambungkan angan tentang eksotika negeri Laskar Pelangi.

Sekitar 15 menit perjalanan kamipun melewati sebuah pulau tak  berpenghuni dengan sebuah batu besar seperti kepala burung di depannya. Ternyata ini adalah pulau burung merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Belitung. Kapal kamipun masih terus melaju ke pulau Lengkuas, dari kejauhan tampak mercusuar berdiri gagah menembus birunya langit. Sesampai pulau Lengkuas kami tidak langsung merapat tapi terus bergerak ke utara mencari spot snorkling.

Sesampai di titik snorkling kamipun langsung menceburkan diri ke birunya laut Belitung. Terumbu karang di sini mungkin tidak seindah di Karimunjawa tapi ikan di sini cukup banyak. Seorang rekan saya sempat melihat ikan clown fish berenang nyaman di perairan ini. Ketika sedang asyik berenang menikmati keindahan bawah laut , tiba-tiba datang sebuah kapal nelayan. Awaknya mengingatkan agar kami tidak terlalu jauh dari pantai pulau Lengkuas dikarenakan arus bawah sedang deras dan ada kemungkinan akan badai. Menurut kepercayaan penduduk setempat setelah  diadakan upacara pelarungan sesaji biasanya akan ada badai besar. Untuk menghormati kepercayaan penduduk setempat kamipun merapat ke pulau Lengkuas.

Pulau Lengkuas masih dalam kawasan kecamatan Ijuk memilik luas sekitar 1 hektar yang merupakan kombinasi bebatuan besar, hutan serta pantai pasir putih. Yang unik dari pulau ini adalah berdiri menjulang sebuah mercusuar yang didirikan oleh pemerintan Belanda pada tahun 1882. Mercusuar berlantai 12 dan memiliki ketinggian 50 meter masih difungsikan sebagai menara pengawas.

Awan biru, pasir putih  dan jernihnya air laut membuat saya berada seperti di sisi dunia lain, mungkin bukan Indonesia. Sepoi angin membuat angan saya melambung lebih tinggi berada di satu negeri dengan sejuta keindahan. Tak bosan-bosannya kamera saya mengabadikan keindahan pulau Lengkuas sebagai oleh oleh terbaik untuk di bawa pulang.

Berlarian dan memanjat di antara bebatuan granit untuk mendapatkan sudut pengambilan terbaik hal terbaik yang bisa anda lakukan di sini bagi pecinta photography. Rasanya tak habis-habisnya mengagumi keindahan pulau Lengkuas.

Awan bergulung indah di atas langit Lengkuas membuat siang ini terasa sangat indah. Meskipun saya tidak bisa naik ke atas mercusuar karena renovasi, perasaan saya cukup senang. Menjelang sepertiga siang kamipun meninggalkan pulau indah ini menuju pulau burung.

Di tengah perjalanan ke pulau burung tiba-tiba langit menjadi sangat gelap. Ternyata ramalan sang awak kapal akan turun hujan benar.  Kondisi ini tidak menyurutkan niat kami untuk menikmati satu keindahan tersembunyi di Belitung. Ternyata ada sebuah bangunan villa dan beberapa pondokan di pulau ini. Tapi lagi-lagi tujuan kami adalaha air laut, bukan bermanis-manis duduk di pondokan sambil menikmati indahnya pantai. Dengan langkah pasti kami menceburkan diri ke pantai lalu berenang menuju batu besar berbentuk burung.

Menyelinap dan memanjat di antara batu besar berbentuk kepala burung ternyata cukup beresiko. Bagian bawah batu granit yang berada di dalam air ditumbuhi sejenis kerang berstesktur tajam. Bagi anda yang berniat berenang ke area ini sebaiknya menggunakan fin atau penutup kaki untuk menghindari cedera.

Langit semakin gelap dan titik air hujan mulai berjatuhan. Sepertinya ini merupakan pertanda kami harus meninggalkan pulau burung dan mengakhiri jejak langkah petualangan untuk hari ini. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Binga ternyata hujan turun semakin deras disertai angin. Kapal yang  kami tumpangi terombang ambing melaju pelan di tengah badai kecil. Satu perjalanan yang sarat pengalaman: diawali dengan keindahan lalu diakhiri dengan hujan badai. Kita tak pernah tahu dengan apa yang akan kita temui di dalam satu perjalanan. Perjalanan selalu memberikan satu pengalaman  tentang kehidupan  …..

RELATED STORIES

25 pemikiran pada “Langkah Pertama Pantai Belitung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.