Pertimbangan utama memilih Red Planet Hotel karena harganya yang cukup terjangkau bagi kalangan pelancong beransel. Dengan Rp 200 ribuan kamu sudah dapat kamar ber-AC, dengan air panas, wifi super kenceng dan kasur empuk. Meski tanpa sarapan (optional) , mencari makanan di sini semudah menyibakan poni di kening. Jalan beberapa meter sampai di warung atau kafe dengan beragam pilihan menu. Lanjutkan membaca “Eksis Maksimal Red Planet Hotels Pekanbaru”
Penulis: Danan Wahyu Sumirat
Bermain Burung Persimpangan Padang Nyiru
Melaka memang identik dengan bangunan tua bersejarah. Di masa lalu kota pelabuhan itu menjadi persinggahan favorit kapal pedagang dari seluruh negeri. Posisinya yang strategis membuat bangsa lain ingin menguasainya secara kolonialisme ataupun imperialisme.
Duh kak, pembahasannya berat banget sih. Kaya guru sejarah.
Lanjutkan membaca “Bermain Burung Persimpangan Padang Nyiru”
Menikmati Malam Panjang The Pier Cafe & Grill
Ketika makan tak hanya sekedar memuaskan rasa lapar tapi sebagai bentuk rekreasi untuk membangkitkan kebersamaan dengan keluarga atau rekan kerja. Maka saatnya anda melangkah menuju The Pier Cafe Grill, Batam.
Lanjutkan membaca “Menikmati Malam Panjang The Pier Cafe & Grill”
Enggan Bangkit Meninggalkan Nongkat
Pulau Nongkat, Anambas – Kami pasrah, terserah Eyster membawa kemana untuk bermalam . Jika semalam (artinya kemarin dalam Melayu) Durai gagal menjadi tempat peraduan. Malam ini saya tak banyak berharap. Takut seperti kisah semalam, begitu bersemangat menuju Durai tapi nyataya merapat pun tak mampu karena kapal yang kami tersapu badai sebelum mencapai pantainya.
Niatan mengintip penyu bertelur dan berburu foto Milky Way bagai cinta bertepuk sebelah tangan. Menggantung dalam angan besar lalu gagal total sebelum pernah terujar. Ah kasihan sekali Abang ini, Dek. Belum pun menyatakan cinta sudah ditolak.

Beruntung semua kegagalan itu terbayar sempurna dengan Trenggiling dan Penjalin. Jadi Abang nggak sakit-sakit banget. Pegang dada saya, debar kebahagian itu masih terasa . Dan sesungguhnya yang membuat makin membuat berdegup kencang , kembali terombang-ambing di atas gulungan ombak membuat kami terdiam dalam doa.
Cuaca Anambas di bulan Agustus memang ngeri-ngeri sedap, setelah gagal ke pulau Durai dan Bawah kamipun harus lebih waspada mempertimbangkan keselamatan. Rasanya tak bijak memburu keindahan tapi mempertaruhkan nyawa. Niatnya mau dapat foto eksis maksimal di IG tapi cerita perjalanan tak pernah berlanjut seiring dengan terhentinya kehidupan.

Selain memiliki pantai dengan garis pantai pasir putih, pulau-pulau di Anambas berhiaskan bebatuan besar mirip di Belitung. Terkadang batu itu teramat besar membentuk susunan vertikal ke atas. Orang di sini menyebutnya batu tumpak. Jika kamu ke Tarempa di kota pelabuhan itu ada batu tumpak tiga susun.
Namun yang membuat saya tak berkedip melewati sebuah pondok di pulau Nongkat. Bangunan berwarna putih tersamar di balik batu-batu besar. Kehadirannya seolah tak ingin diketahui banyak orang. Tapi tetap siapapun yang bertandang ke sini akan terkagum. Bagaimana batu-batu besar saling bertautan seolah membentuk laguna melindungi garis pantai bagai benteng alam. Ombak pun selalu landai sampai ke pantai di hadang batu besar.
“Bang kita akan bermalam di sana”, ujar Eyster memecah lamunan.
“Memang boleh?”
“Kita akan numpang di serambinya saja. Nanti minta ijin penjaganya.”
“Kalau tidak diijinkan?”
“Membuka tenda di pantainya saja .”

Rumah peristirahatan itu bernama Dhanina, konon sang empunya, seorang perempuan Indonesia bersuamikan ekspatriat. Bangunan bernuansa tropikal , khusus dibangun untuk menjamu tamu atau peristirahatan pribadi. Meski berada jauh dari pemukiman fasilitasnya lengkap mulai dari generator set hingga fasilitas air bersih. Dan ternyata di depan pulau teronggok speed boat.
Dhanina cottage memiliki tiga bangunan, satu bangunan berlantai dua sedangkan dua lainnya berlantai satu. Sekilas saya mengintip bagian bangunan utama. Nuansanya putih dengan gorden panjang menjuntai. Saya membayangkan jika semua pintu dan jendela dibuka lebar-lebar membiarkan angin dan sinar masuk ke dalam. Ah andai bisa tinggal di sini seminggu.
“Hari ini penjaga sedang tak datang. Kepada siapa kami meminta ijin?
“Tak apa kita menumpang di serambi?”
“Tak mengape, asal nanti dibersihkan saje.”

Tanpa diperintah kami menempatkan barang di serambi pondok utama yang langsung menghadap ke laut. Berlahan senja datang menyamarkan keindahan dengan nuansa temaram. Tak banyak dari kami menikmati senja dengan serius. Kami berpacu dengan waktu, sebelum malam tiba , nasi dan mie harus sudah masak. Urusak mandi juga harus kelar karena tak ada penerangan di sini.
Sebetulnya di belakang pondok ini ada generator set, tapi tidak sopan , sudah menumpang tanpa permisi, menjarah air tawar untuk mandi dan memasak, lalu ingin berterang benderang dengan BBM gratisan yang konon susah didapat di Anambas.

Ritual malam diawali dengan makan malam bersama. Entah kelelahan berenang di Penjalin tadi siang atau ketenangan Nongkat yang membuat kami terlelap lebih awal. Satu persatu kami berdendang dalam mimpi, menyanyikan keindahan Penjalin tadi siang. Ah Anambas, bukan lagi impian tapi kini menjadi kenangan indah.
Suara hewan malam terkadang membangkitkan rasa ngeri, namun semua sirna bersama pendar syahdu di depan sana. Kapal-kapal nelayan merapat di bebatuan besar. Lagi-lagi cuaca memang tak bersahabat, beruntung cottage ini terlindungi.

Rencana berburu sunset bukit belakang cottage gagal total, semua orang enggan bangkit. Meski hanya serambi kami, tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
“Pasti pada mimpi ngeresort.”
“Tempatnya udah secantik resor pribadi , sayang tidurnya ngemper.”
“Ya udah kenalan aja dengan Bu Dhanina, siapa tahu punya anak perempuan.”
“Kalau anaknya laki?”
“Ya buat, kita-kita yang cewek.”
“Keren kan maharnya , pulau beserta cottagenya.”
“Kalau ngga punya anak?”
“Aku rela diangkat jadi anaknya, asal dikasih semua ini.”

Dari obrolan di atas sepertinya kesadaran teman-teman belum seratus persen. Ah sudahlah, lebih baik saya menjelajah Nongkat. Menjelajah pulau indah yang seolah baru saja dihujani meteor.
Nongkat memang terlalu sayang untuk ditinggalkan. Namun jika tak ditinggalkan kami tetap harus berjingkat meninggalkannya. Sebelum penjaganya datang , kami kembali berangkat menyambangi keindahan lain Anambas.
“Ssstttt jangan lupa cottagenya dibersihkan.”
“Memang harus?”
“Iyalah… Sudah menumpang tanpa permisi. Menjarah air tawar lalu pergi meninggalkan sampah. Itu namanya tidak tahu diri.”
*hening*





Giveaway #KepriBukanRiau
Apa sih hastag #KepriBukanRiau? Kamu mau memecah belah persatuan bangsa ini dengan menyebar isu jelang Pemilu. Lanjutkan membaca “Giveaway #KepriBukanRiau”
#KepriBukanRiau – Si Sakti dan Penebar Warta
Kami bukanlah penebar warta biasa yang berwara-wiri dan berworo-woro untuk sebuah kewajiban bertajuk profesi dan imbalan setiap bulan bernama gaji atau honor. Menceritakan tentang destinasi wisata lugas tanpa beban apalagi tedensi . Namun mereka yakin , kamilah salah satu garda terdepan penebar “racun” yang membuat orang ingin mengunjungi Kepulauan Riau. Lanjutkan membaca “#KepriBukanRiau – Si Sakti dan Penebar Warta”
Artotel – Tergoda Hotel Butik Pusat Kota
“Gimana Artotel ?”
“Hotelnya lucu sih tapi kamarnya sempit,” celoteh rekan kerja yang baru saja dinas di Jakarta.
Hotel butik memang ngehits 10 tahun belakangan ini. Meski secara dimensi kamarnya tidak terlalu besar tapi menawarkan kenyamanan dan suasana berbeda bagi tamu. Lanjutkan membaca “Artotel – Tergoda Hotel Butik Pusat Kota”
[Video] Pesona Indonesia – Bintan Resorts
Berkisah tentang Pesona Indonesia , kita tak akan pernah kehabisan kata. Destinasi wisata alam dan budaya negeri ini selalu melahirkan sejuta pesona bagi wisatawan. Merangkum sedikit dari pesona itu, berikut Pesona Indonesia Bintan Resorts, Kepulauan Riau Lanjutkan membaca “[Video] Pesona Indonesia – Bintan Resorts”
