Jambi Travelling

Janji Leluhur, Danau Lingkat

Aura Misti Danau Lingkat
Aura Mistis Danau Lingkat

Lelaki paruh baya menyambut kedatangan kami di Danau Lingkat, sebuah danau seluas 11 hektar di kecamatan Gunung Raya, Kerinci jambi.

“Di sini tidak boleh sombong dan takabur.” Tangan lelaki tua menyalami kami berempat , itulah pesan kata-kata yang terucap sebelum memperkenalkan diri.

pondok di seberang danau
pondok di seberang danau

Ketika menjejakan kaki di rakit pinggir danau beliau kembali berpesan agar kami lebih berhati-hati karena kami pendatang , bukan penduduk setempat. Sebetulnya banyak pantangan di danau berair hijau pekat. Ini berhubungan dengan janji leluhur kami kepada penunggu danau ratusan tahun yang lalu, ucapnya lirih. Mereka berjanji untuk tidak menggunakan perahu di sini. Jika ingin menyebrang atau bermain di danau penduduk dapat menggunakan rakit.

rakit - hanya rakit yang dapat digunakan untuk menyebrang
rakit – hanya rakit yang dapat digunakan untuk menyebrang

Tiga buah rakit bambu berjajar di pinggir danau, salah satu ujungnya berada di tengah danau. Rekan saya Isna berjalan berlahan menuju tengah, mencoba menikmati keindahan danau sambil merasakan aura mistis yang memang semakin terasa. Hembusan hawa sejuk di ketinggian 1.100 dpl berbaur dengan keheningan.

Di tepi sungai Bang Hendi asik mengobrol, menyimak cerita sang Bapak Tua. Samar-samar saya mendengar belia berkisah asal muasal janji pantangan leluhur.

bukit hijau - pemandangan di seberan danau
bukit hijau – pemandangan di seberan danau

Sekitar abad ke 16 seoarang anak gadis asal Desa Selampaung, tidak terlalu jauh dari Desa Lempur, menghilang ketika naik perahu di danau. Orang tua gadis mencari anaknya karena tak kunjung pulang. Bersama masyarakat mencari si anak tapi usaha mereka sia-sia, sang gadis tidak ditemukan. Akhirnya dengan putus asa warga kembali ke desa Selampung.

Malam harinya seorang tetua adat kampung Selampaung bermimpi. Sang gadis yang hilang telah di bawa oleh orang gunung , mahluk penunggu danau. Karena penasaran, keesokan paginya bersama warga kembali ke danau dan melakukan pencarian. Air Danau ditimba secara beramai-ramai menggunakan rantang bersusun atau “lingkat”. Inilah asal muasal mengapa danau ini bernama Lingkat.

“Terus bagaimana nasib sang gadis?” Kami menunggu kisah sang bapak tua.

Sampai detik ini sang gadis tidak pernah ditemukan. Dan orang tuanya pasrah, namun masyarakat desa bersumpah tidak akan pernah menggunakan perahu di danau ini. Dan tetua kampung melarang siapapun mengunjungi danau. Setelah ratusan tahun kemudian, tepatnya tahun 80-an danau ini mulai dikunjungi kembali. Namun Larangan tidak menggunakan perahu masih tetap dipercaya.

Pondok kayu sederhana di seberang danau mengundang rasa ingin tahu kami. Berharap bisa menyebrang sampai di sana. Tapi di antara kami bertiga tidak ada yang mahir mengayuh rakit.

Kembali pak tua bercerita di seberang danau terdapat batu besar bermotif belang-belang. Batu tersebut dipercaya sebagai tempat mandi dewa “belimau” . Masyarakat menamakan batu tersebut “batu belang.”

seberang kanan- tempat 7 putri mandi
seberang kanan- tempat 7 putri mandi

Tepat di ujung kanannya dipercaya sebagai pemandian tujuh putri penguasa danau. Jika para putri akan mandi maka bunga disekitarnya akan bermekaran, lalu kelopaknya jatuh memenuhi air danau. Dan akan menyeruakan keharuman di danau.

Meskipun menyimpan aura mistis Danau Lingkat tetap memancarkan pesona keindahan. Gugusan bukit hijau di ujung danau tergambar sempurna dengan birunya langit. Andai tidak ada pantangan di sini ingin rasanya menceburkan diri ke dalam danau, merasakan kesegaran air pegunungan.

Matahari semakin tinggi, rasa lapar makin tidak tertahan. Waktunya untuk meninggalkan keindahan Danau Lingkat. Setelah berpamitan kami segera memacu motor, kembali menuju Danau Kerinci.

Ada yang terlupa, siapa nama bapak tua yang bercengkrama dengan kami di tepi danau. Sejenak saya menghentikan laju motor menoleh ke belakang. Tapi sosok lelaki paruh baya berkaus putih tidak tampak. Mata saya berusaha menyusuri jalan kecil menuju danau. Tapi tetap tak ada yang terlihat.

Bulu tengkuk saya merinding hebat. Bergegas menghidupkan mesin motor meninggalkan Danau Lingkat dengan sejuta misteri.

 

 

RELATED STORIES
Ikan Bakar Danau Kerinci
Si Manis Kayu Kerinci
Keramba Danau Kerinci
Makan Gulai Ikan Danau Kerinci?
Mampir di Sate Amir
Melayang di Bukit Khayangan
Hang Out Ala Sungai Penuh

Ranah Kayu Embun
Sawah, Danau dan Awan
Dendang Dendeng Batokok
Sensasi Soto Semurup
Masjid Kuno Kota Tua
Masjid Agung Pondok Tinggi
Batu Rajo
Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik
Persawahan Lolo, Kerinci
Janji Leluhur, Danau Lingkat
Kayu Aru Runaway
Lunch Time Kayu Aru
Rainbow and Waterfall

25 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.