Mendidik : Mengajar Dengan Hati

mendidik - mengajar dengan hati
mendidik – mengajar dengan hati

“Saya ingin menjadi guru, Bu.” Ucap kakak perempuan saya 16 tahun lalu sambil membuka lembaran formulir UMPTN. Harapannya besar diterima menjadi mahasiswi FKIP Universitas Negeri, di kota tempat kami tinggal.

Sejenak Ibu diam, tidak menjawab keinginan anak sulungnya. Beliau tahu impian terbesar putrinya. Sejak dibangku SD kakak perempuan saya menyenangi mata pelajaran matematika. Bahkan ketika lulus SMP Nilai Ebtanas  mata pelajaran ini nyaris sempurna. Ketika duduk di bangku SMA secara tidak sengaja, beberapa anak tetangga minta dibimbing mengerjakan pekerjaan rumah matematika. Lambat laun kakak menikmati mengajar dan membimbing anak-anak. Hampir setiap malam, ada saja saja murid SD atau SMP yang bertandang ke rumah.

“Tapi kan kuliah FKIP itu lama dan passing grade-nya tidak terlalu bagus. Apa ndak sayang dengan nilaimu.” Lugas ibu menjawab pertanyaan kakak. Ibu menginginkan kakak melanjutkan kuliah jenjang diploma tiga , berharap bisa cepat selesai. Keluarga kami tidak memiliki banyak waktu dan uang. Karena tidak lama lagi Bapak pensiun dan sayapun akan menyusul masuk perguruan tinggi.

Kakak tidak membantah keinginan Ibu. Dia tahu bahwa profesi guru di zaman itu tidak terlalu menjanjikan. Sebelum tahun 2007 tidak ada sertifikasi  , pengakuan profesionalisme  guru yang berimbas pada pendapatan. Jadi wajar saja di era itu fakultas dan institut keguruan sangat tidak diminati calon mahasiswa. Dan selalu berada di urutan bawah dalam daftar pilihan ujian masuk perguruan tinggi.

Sebenarnya Ibu mendukung keinginan kakak menjadi guru. Tapi pengalaman sepupu kami Heru  di desa membuatnya berpikir lebih realistis. Setelah tamat SPG , Heru memutuskan mengajar di tanah kelahirannya , menjadi guru honor di sebuah Sekolah Dasar. Idealisme dan rasa cintanya kepada dunia pendidikan membuatnya menjalani dua profesi. Subuh sebelum mengajar biasanya dia berkebun, menjelang pukul 9 pagi barulah dia menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. Sore hari dia kembali mengurus kebun karet sebagai sumber pendapatan utama keluarga.

Singkat cerita kakak diterima sekolah ikatan dinas pemerintah dan menyelesaikan studi dalam tiga tahun, sesuai harapan Ibu. Namun kecintaan terhadap anak-anak dan mengajar tidak dapat dipisahkan. Bergabung dengan Gugus Depan Pramuka mengobati rasa rindunya terhadap profesi impian. Secara aktif mengajar anak-anak beragam keterampilan dan ilmu pengetahuan.

Suatu hari saya bertanya kepadanya, mengapa dia tidak bisa meninggalkan aktivitas mengajar. Dengan ringan dia menjawab bahwa ini bukan mengajar tapi mendidik. Sayapun penasaran lalu mencari perbedaan mendidik dan mengajar berdasarkan etimologi bahasa Indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) terbitan Balai Pustaka, mengajar berasal dari kata ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/dituruti; sedangkan mengajar berarti memberi pelajaran.(1997:14-15). Sementara kata mendidik berasal dari kata didik yang berarti memelihara, merawat dan memberi latiahan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan (tentang sopan santun, akal budi, akhlak, dan sebagainya). Kata mendidik berarti memelihara dan memberi latihan.(1997:232).

Setelah mendapat definisi dari kamus bahasa Indonesia , sayapun kembali bertanya kepadanya sampai kapan akan terus mendidik? Kembali kakak menjawab, setiap orang yang ingin berkeluarga dan memiliki anak seharusnya memiliki kemampuan mendidik. Salah satu kewajiban orangtua adalah mendidik anak-anaknya. Dan kemampuan mendidik harus dibangun , semuanya butuh proses. Mendidik itu erat kaitannya dengan tanggung jawab moral. Terkadang orangtua murid melimpahkan beban ini kepada guru , tidak merasakanya sebagai tanggung jawab bersama. Dan ironisnya menomor duakan pendidikan, berharap anak hanya memiliki kemampuan akademis tanpa budi pekerti dan ahlak yang baik.

“Jadi esensinya?” Mata saya terbelalak, bertanya saya kritis. Tapi sebenarnya menumphkan rasa bingung.

“Mendidik itu , mengajar dengan hati. Harus jujur. Terutama jujur pada diri sendiri. Harus sadar apakah memiliki kapabiltas sebagai pendidik.” Kakak diam sejenak lalu berujar.

“Jika merasa tidak mampu, apakah harus mundur?” Dahi saya mengernyit, menunggu jawaban berikutnya.

Kakak kembali mengurai jawaban pertanyaan saya, seorang pendidik seharusnya memberi contoh yang baik. Menyerah pada keadaan bukan hal yang pantas dilakukan bagi seorang suri tauladan. Solusinya belajar dan bekerja keras untuk meningkatkan kualitas diri. Jalur formal , perguruan tinggi adalah tempatnya.

“Tapi kan semua butuh biaya.Bagaimana yang tidak mampu? ” Tanyaku menyela mengajaknya berpikir logis.

Kakak pun tidak mau kalah kembali berujar, sekarang beragam informasi  mudah di dapat,  termasuk beasiswa. Melalui mesin pencari di internet ratusan bahkan ribuan kesempatan beasiswa muncul di layar komputer.

“Tapi kan mayoritas bahasa Inggris ?” Pertanyaan bodoh dari benakku, menyatakan kemampuan bahasa Inggrisku yang pas-pasan.

“Nah itu. Bahasa adalah gerbang cakrawala, kunci untuk membuka semua kesempatan dan ilmu pengetahuan. Idealnya seorang pendidik memiliki kemampuan bahasa asing yang baik. Ingat sekarang era globalisasi, kita tidak hanya berkompetisi di dalam negeri saja. Tantangan terberat guru adalah mempersiapkan anak didiknya untuk siap menghadapi persaingan global.” Ujar kakak berapi-api.

Aku mengangguk, sekali lagi mencoba mencerna kata-katanya. Kakak tidak pernah berubah, sekarang ataupun belasan tahun yang lalu tetap bersemangat.

“Kak, apakah masih berminat menjadi guru.” Tanyaku ringan , mengurai keinginanannya yang tidak pernah terwujud dalam retorika bahasa.

Kakak hanya tersenyum lalu berkata, guru merupakan sebutan profesi tapi yang terpenting adalah menjadi pendidik. Orang yang mampu mengajar dengan hati.

2 pemikiran pada “Mendidik : Mengajar Dengan Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s