serasa di pantai pribadi
Kepulauan Riau, Travelling

Trenggiling Penawar Durai dan Bawah

17 Agustus 2015 – Senja baru saja menaungi Tarempa ketika sauh diturunkan. Dalam rona temaram jingga  kembali berlayar ke Durai melalui  pelabuhan pemda. Raut ragu sang nakoda seolah tertutup kelamnya malam. Ia memilih diam takut mengecewakan kami  yang terlanjur bersemangat.

“Malam ini kita ngintip penyu  bertelur yuk!”

“Tapi kayanya moto bintang seru, langitnya nggak bocor.”

serasa di pantai pribadi

Segudang rencana pun terujar tanpa pernah sadar ada bahaya besar menghadang. Dalam hitungan menit speed boat terguncang hebat membentur gelombang. Saya masih bisa tersenyum lebar, seolah laut sedang menyapa dan ingin bermain.

senja di Tarempa
senja di Teluk Tarempa

Berikutnya tak ada yang mampu berkata ketika gelombang besar masuk dari geladak depan memuntahkan air asin.

“Byur!!!” Pakaian di badan  hingga barang bawaan kuyup tersapu air. Melaju perlahan bukan pilihan tepat, berkali-kali gelombang mengombang-ambingkan tanpa arah.

“Tak mungkin kita merapat ke Durai. Tapi kembali juga lebih tak bisa. Sudah separuh jalan lebih” . Suara nakoda mengunggah kesadaran alam tidak sedang bermain.

“Semua bisa berenang kan?”

“Saya ngga bisa kalau tidak pakai pelampung”, ujar Lilian  ragu. Diam-diam kami memendam doa dalam hati.

Dalam gelap nakoda berlayar menuju Durai dengan caranya, menajamkan hati dan perasaan karena indra penglihatan tak mampu menembus malam. Sekali lagi gelombang  menggetarkan lantai fiber glass. Oh Tuhan bagaimana jika kapal tak mampu bertahan lalu terbelah dan karam.

Kerlip lampu di kejauhan menuntun kami ke  tiga kapal nelayan di balik bukit pulau Durai. Nasib mereka tak berbeda dengan kami, menjauhi badai.

“Kemarilah naik. Laut memang sedang tak bersahabat musim angin selatan.”

Tanpa  berpikir dua kali, satu persatu berpindah ke kapal kayu besar nelayan.  Badai tak lagi menyentuh tapi dinginnya air masih terasa menusuk kulit. Usai berganti pakaian melewatkan makan malam di atas geladak bersama.

Bulan sabit separuh tak sebenderang purnama, tapi sinarnya mampu menerangi lautan hingga dasar.

“Lihat deh ke bawah, dasarnya  kelihatan. Jernih banget airnya. Kalau siang kaya apa ya?”, celoteh Lisa membangkitkan rasa penasaran. Dan benar saja  ikan kerapu terlihat berenang di antara terumbu.

Atap geladak menjadi tempat favorit merebahkan diri. Taburan bintang membuai mimpi pertama di Anambas. Mimpi yang nampaknya harus kami gantungkan sejenak.

***

Senandung burung dari pulau Durai terdengar jelas,  membahagiakan insan memulai hari. Tiga kapal nelayan mengiringi kami menuju  lautan teduh. Lambain tangan nelayan sekaligus  bermakna doa, melepas kami ke lautan luas. Durai masih menggoda dengan rona jingganya, tapi kami memilih menjauhinya karena gelombang di sana tak bersahabat.

menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Durai
menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Durai
jingga menyapa pagi , melepas kepergian
jingga menyapa pagi , melepas kepergian

Memutar haluan ke Trenggiling sebagai penawar kecewa  bukanlah keputusan mudah. Berkali nakoda berujar tak mampu menghalau bahaya gelombang pulau Bawah  konon hingga 2 meter . Tapi kami tetap berteguh hati, terlanjur tegoda impian pulau tropis terindah di Asia.

Baiklah, kita gantungkan sejenak kedua impian ,  Anambas bukan hanya Durai dan Bawah.

pulau Tenggiling, salah satu pulau cantik Anambas
pulau Trenggiling, salah satu pulau cantik Anambas

Bukit batu menjulang menjadi pemandangan pertama Trenggiling, berlahan namun pasti speed boat menuju daratan. Jangan pernah meragukan kejernihan  laut di sini. Sampai kedalaman 10 meter , laksana kaca aquarium tembus pandang.

Meski bukan hamparan pasir luas, pesona Trenggiling sungguh menggoda. Menjawab dahaga atas indahnya pulau tropis. Tak sabar rasanya ingin meceburkan diri ke birunya air. Tapi sang nakoda melarang. “Kita tak berenang di sini, hanya ke goa kelelawar.”

goa kelelawar di pulau Tenggiling
goa kelelawar di pulau Trenggiling

Aroma amoniak menyeruak di pintu goa keleawar. Binatang omnivora menggantung di langit-langit. Tidak ada yang mau melangkah lebih jauh, cukup berfoto di depan mulut goa lalu menjelajah sisi lain Trenggiling.

menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas
menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas

Impian tentang Anambas terwujud. Langit biru, pasir putih dan air  dalam gradasi tiga warna: biru muda, hijau toska dan biru tua. Berhamburan menuruni kapal ,  berlarian bagai anak kecil , kami menjejakan kaki di pantai berpasir sehalus  tepung terigu.

Hari kemerdekaan sehari telah berlalu, tapi tak apa memperingatinya sekarang. Sang saka dikibarkan dalam kesederhanaan, diikatkan pada sebatang kayu lalu ditancapkan di atas pasir.

air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tua
air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tua
hening bagai di pantai pribadi
hening bagai di pantai pribadi

Sunyi Trenggiling bagai pantai pribadi, tak ada orang lain apalagi penjaja makanan. Dengan cekatan Eyster memasak nasi lalu membuka bekal lado garom, masakan khas Tarempa. Suwiran ikan tuna berbumbu cabai dan garam saja. Sederhana, tapi disantap dengan nasi hangat di pantai seindah ini, jelas rumit. Untuk “sarapan cantik”  di sini kami harus melalui pelayaran Tanjung Pinang- Tarempa 12 jam dan drama tersapu badai menciutkan nyali.

dunia bawah laut Tenggiling tak kalah memukau
dunia bawah laut Trenggiling tak kalah memukau
mengibarkan sang saka di dalam air
mengibarkan sang saka di dalam air

Menutup petualangan  di Trenggiling ,  sang saka merah putih dikibarkan di bawah air.

Hari ini tepat 70 tahun satu hari yang lalu Indonesia memproklamasikan diri sebagai bangsa merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan.

Hari ini kebanggan kami bertambah, terlahir di bumi pertiwi yang keelokannya tak pernah habis untuk dijelajahi.

“Habis ini kita kemana lagi ya?”

“Hmmm… rahasia. Tunggu saja kejutan Anambas selanjutnya.”

~ I Love Anambas~

8

Kepulauan Riau, Kuliner

Warung Plus Plus Pizzeria Casa Italia

“Bang adonin aku… uleni aku…”, lirih seorang wanita  di ujung meja sembari mengigit bibir. Matanya nanar memandang tangan kekar terampil meremas adonan tepung. Keringat mengucur deras dari kening pria berwajah Italia melewati jambang. Beruntung tak jatuh ke dalam ke adonan karena empunya menyeka dengan kerah baju.

“Kira-kira bajunya dibuka ngga ya, kalau udara makin panas?”, seloroh nakal wanita lain disusul tertawa penuh makna.

Mas bule menguleni adonan pizza

Menguleni  adonan pizza sesungguhnya tak harus membuat keringat berderai. Namun panasnya tungku kayu dan udara pantai  menciptakan angan nakal  kaum hawa penghobi wajah kaukasia.

pantai berpasir putih di dekat Pizzeria Casa Italia
pantai berpasir putih di dekat Pizzeria Casa Italia

Pizzeria Casa Italia bukanlah restoran di pesisir pantai Scilla pulau Calabri , Italia. Namun pemandangan dari warung sederhana yang mengusung cita otentik Italia tak kalah dibandingkan dari negeri asalnya.

Berada di tepi pantai  Trikora, Pulau Bintan Kepulauan Riau,  Pizzeria Casa Italia terasa lebih eksotis. Kesan pertama, pengunjung langsung disuguhkan pantai berpasir putih dengan ornamen batu besar menjulang. Tak pelak lagi penghuni laman instagram berlomba mengabadikam momen tak terduga.

Niatnya mau makan pizza eh dapat pemandangan indah.

tepat di seberang pantai ada pulau kecil
tepat di seberang pantai ada pulau kecil

Ketika air surut jangan ragu untuk melangkahan kaki ke pulau depan. Meski ratusan kepiting kecil keluar dari lubang-lubang di pasir membuat indra pengelihatan terasa nyeri. Pulau mungil berparas cantik seolah melingkupi pantai luas , membuat gelombang tak begitu deras. Saatnya kembali bernarsis ria, membiarkan angin menyibak rambut.

saatnya berselfie ria
saatnya berselfie ria
bebatuan menjulang di pulau kecil dekat pantai
bebatuan menjulang di pulau kecil dekat pantai

Lelah dan aroma pizza akan menuntun mu kembali ke daratan , melabuhkan diri pada pondok kecil. Meski mas-mas bule tidak membuka bajunya , yakinlah lezatnya pizza mampu memuaskan hasrat lain.  Tapi sabar teman, baca baik-baik peraturan di sini. Sembarangan membuang sampah akan didenda.

kamar mandi bayar 2 ribu
kamar mandi bayar 2 ribu

Ada area tertutup  yang hanya diperbolehkan bagi karyawan, salah melangkah masuk bisa langsung diomeli sang pemilik. Mau makan pizza kok repot banget? Tidak  repot asalkan kita saling menghargai , tidak masalah. Lagian  ini demi kepentingan bersama. Siapa sih yang ngga betah duduk bersantai di  pantai indah yang bersih.

baca peraturan sebelum melangkah lebih jauh
baca peraturan sebelum melangkah lebih jauh

Jangan salahkan pemilik warung , jika tarif parkir di sini lumayan mengguncang kantung , untuk motor 10 ribu dan mobil 20 ribu. Nyamannya  lokasi membuat orang enggan untuk pergi meski makanan dan minuman sudah habis.

membuang sampah didenda sejuta, membuang mantan gratis
membuang sampah didenda sejuta, membuang mantan gratis

Baiklah mari kita kulik menu andalan. Duh pizzanya ngga nendang banget, kulitnya tipis renyah bukan roti.

Sssttt… di negara asalnya kulit pizza seperti ini, bukan pizza dengan dasar roti tebal  kaya karbohdirat. Membuat perut terasa begah usai menyantap satu  potong.
Coba endus  berlahan tapi ngga pake ngelirik mas-mas bule.  Ada aroma tepung terpanggang sempurna bersama saos tomat dan keju. Begitu digigit, renyahnya kulit pizza menyapa lidah lalu menari-nari bersama topping. Kali ini saya menyantap pizza tuna lezat. Hmmm… cita rasa laut  sempurna.

 

 

Potongan berlanjut dengan pizza ber-topping jamur. Kelezatannya tak perlu diragukan, tapi yang membuat saya terhenyak potongan tumbuhan saproprit itu mirip daging ayam, pilihan tepat bagi vegetarian.

Seloyang pizza rata-rata harganya 45 ribu rupiah, cukup terjangkau bukan untuk disantap bersama. Pilihan minuman , sepertinya saya tidak bisa move on dari teh tarik dingin.

kulit pizzanya renyah banget
kulit pizzanya renyah banget

Jelang senja pengunjung satu persatu meninggalkan warung pizza. Matahari memang tak terlihat terbenam di horison pantai, tapi pendar jingganya selalu mempesona. Potongan pizza terakhir saya lumat tanpa berdosa,  tak  karbohidrat tinggi.

Mbak-mbak di ujung meja telah berlalu bersama malam yang semakin dingin. Mungkin kecewa , melihat mas bule bercengkrama ramah dengan gadis melayu berhijab. Atau dia kecewa tak ada atraksi bonus shirtless.

Cita rasa ini memang sangat Italia, tapi siapa yang menyangka pembuatnya lantang berbahasa dengan logat melayu kental.

pizza dipanggang dengan tungku kayu
pizza dipanggang dengan tungku kayu

Senandung lagu Italia terdengar tak terlalu bingar. Bersama malam saya melangkah pulang , menimbang dalam hati banyak yang saya dapatkan di sini. Tak hanya seloyang pizza dari negeri asalnya tapi pelajaran bagaimana seharusnya manusia menghargai alam dan budaya lokal.

 

Sang Merah Putih kukibarkan di bumi Anambas
Curahan

Mimpi Tentang Anambas

Dia tidak kelihatan sedih tapi kekecewaan menaungi wajahnya . Videographer sekaligus travel blogger tampan harus menelan pil pahit, sudah berputar-putar di langit Anambas tapi gagal mendarat.

“Pesawat dua kali gagal mendarat karena angin yang tak bersahabat. Lalu pilot kembali ke Tanjung Pinang tak berani mengambil resiko pendaratan berikutnya, takut kehabisan bahan bakar.”

“Ngga naik kapal?”

“Rencananya, tapi Rabu ada undangan ke Padang.” Duh ngehits banget sih kakak ini, makin ngefans jadinya. *peluk perut ala Teletubies*.

Bermimpi Tentang Anambas

Buku-buku Tentang Anambas

De Ja Vu – Pulau Cantik Sulit Didekati

“Dua belas jam terombang-ambing di samudra Hindia. Nakoda bertutur cuaca sedang bagus dan ombak bersahabat tapi nyatanya saya terjungkal di balai-balai geladak tak mampu berdiri. Harapan saya hanya satu sampai daratan.

Masilok memang pulau yang elok . Daratan tak berpenghuni ini bagaikan surga, maaf surga dunia *takut diprotes*. Surga memang tempat indah di akhirat dan konon belum ada manusia hidup kesana. Tapi bagi saya surga bukan hanya tempat indah , tapi tempat yang membuat kita makin yakin akan kebesaran Tuhan.

Tahun 2012 CNN.com merilis artikel Pulau Bawah di kabupaten Anambas merupakan pulau terindah di Asia mengalahkan pulau tropis lainnya , seperti Koh Cang (Thailand), Langkawi (Malaysia), Teluk Halong (Vietnam) dan Similand (Thailand).

Sebelum hopping island ke Pulau Bawah pelancong singgah dulu di Tarempa, ibu kota kabupaten Anambas. Ada dua cara sampai ke Tarempa, jalur pertama dengan pesawat ke bandara Matak lalu melanjutkan pelayaran dua jam. Kedua dengan kapal dari pelabuhan Sri Bintan Pura , Tanjung Pinang , Kepulauan Riau.

“Numpang saja pesawat terbang Conoco Philips dari bandara Halim Perdanakusuma. Gampang kok temen aku bisa”, ujar rekan blogger paling tahu sedunia . Tapi nyatanya tak semudah itu. Jangankan tumpangan gratis, pesawat komersil pun harus berebut tempat duduk dengan pegawai pemerintah. Jadi pilihan bagi saya kapal laut dengan pelayaran 12-18 jam.

Pulau Bawah - Anambas (sumber: http://blog.deepbluescuba.sg)
Pulau Bawah – Anambas (sumber: http://blog.deepbluescuba.sg)

Keindahan Laguna Pulau Bawah memang menghipnotis banyak orang . Saat pasang terlihat pulau besar dengan laguna biru kehijuan. Namun saat surut gugusan pulau terlihat berpencar dengan ornamen gundukan pasir putih memanjang. Gugusan Pulau Bawah terdiri atas beberapa pulau yaitu : Bawah , Sanggah, Murbah, Lidi dan Elang.

Pulau Bawah bukanlah satu-satunya daya tarik Anambas. Pulau berparas elok lainnya siap dijelajah jika bertandang ke kabupatan paling utara Kepri. Namun butuh perjuangan sampai ke pulau yang kadang tak memiliki dermaga. Hanya dua jam pelayaran dari Tarempa dengan ombak menggoda iman dan keyakinan. Yakin kita akan sampai di sana?

Angan saya membumbung , selain cantik pastilah pulau-pulau itu punya rahasia tak terujar. Teringat perjalanan beberapa tahun lalu ke Mentawai. Siapa sangka salah satu pulau cantik di sana memiliki air terjun. Di desa Ulu Maras Kecamatan Jemaja Timur, Anambas terdapat air terjun berundak Temburun.

Air Terjun Temburun (sumber: http://awalinfo.blogspot.com)
Air Terjun Temburun (sumber: http://awalinfo.blogspot.com)

Air meluncur melalui batu berundah dari ketinggian 250 meter Pulau Siantan , berakhir di Selat Peniting. Pelancong bisa menyusuri dari hulu dan hilirnya, tentu saja sebuah perjalanan menantang.

peta kabupaten Anambas
peta kabupaten Anambas

Barusan seorang teman asal Tanjung Pinang berkisah bahwa sekarang tidak ada lagi pesawat komersil Tanjung Pinang-Matak. Hanya frekuensi kapal dari dua menjadi tiga kali seminggu. Sebuah ironi. Ketika semua orang terkagum dengan Anambas dan pemerintah mempromosikan habis-habisan melalui film (konon akan diproduksi film dengan lokasi pengambilan gambar di Anambas). Tapi biarlah mungkin ini takdir Tuhan untuk melindungi keindahannya.

Tanjung Pinang, 17 Agustus 2015
Terduduk di salah satu sudut pelabuhan Sri Bintan Pura menanti kapal Seven Star menuju Tarempa.

Tahun ini tak merayakan hari ulang tahun Ibu Pertiwi dengan upacara di lapangan terbuka. Namun dengan pelayaran mengarungi samudra 12 jam sebelum nanti sore dilanjutkan hopping island menuju Durai dan Pulau Bawah.

Jika takdir berjodoh mempertemukan saya dengan keindahan Anambas. Impian ini menjadi nyata, pastikan saya untuk berkisah. Karena sesungguhnya perjalanan bukan untuk mengejar keindahan dan mewujudkan ego pejalan.

Ini tentang iman. Keyakinan Tuhan selalu menuntun musafir ke jalan yang benar.

Sang Merah Putih kukibarkan di bumi Anambas
Sang Merah Putih kukibarkan di bumi Anambas
Pulau Tenggiling Anambas - Meski tak sepopuler Pulau Bawah , pulau di Anambas selalu indah
Pulau Tenggiling Anambas – Meski tak sepopuler Pulau Bawah , pulau di Anambas selalu indah
Air Terjun Temburun , Tarempa
Air Terjun Temburun , Tarempa
Pose nista tapi ngga saru
Pose nista tapi ngga saru

Inilah impian kami para pengkisah perjalanan yang teracuni mimpi tentang Indonesia.
1| Indri Juwono – Anambas, Mimpi Indonesiaku
2| Parahita Satiti – Dream Indonesia: Kembali ke Pulau Lombok
3| Rudi Hartoyo – Jelajahi Indonesia, Akankah Ku Lakukan?
4| Sabrina Koeswologito – Give Back for Indonesia
5| Rembulan Indira – Mimpi Indonesia Desa Adat Wae Rebo
6| Rico Sinaga – Ingin ke Misool
7| Edy Masrur – Berbagi Ilmu dan Menimba Kearifan di Wae Rebo
8| Fahmi Anhar – Destinasi Impian Nusantara 
9| Ari Okta Friyanto – Banda Aceh, Impian Dalam Mimpi
10| Hartadi Putro – Banda Neira, Ku Akan Datang
11| Firsta Yunida – A Story from Banda Neira
12| Putri Normalita – Kepulauan Anambas, Surga Tropis di Ujung Negeri
13| Danan Wahyu Sumirat – Mimpi Tentang Anambas
14| Tracy Chong – Papua: A Dream Destination Where I Meet This Inspiring Lady
15| Olive Bendon – Gemu Fa Mi Re untuk Negeriku
16| Leonard Anthony – Di Timur Menyongsong
17| Albert Ghana – Jelajah Laut Negeri Menjaga Titik Luar Indonesia
18| Wira Nurmansyah – 5 Destinasi ‘Impian’ di Indonesia yang Harus Kamu Kunjungi
19| Citra Rahman – Aceh: Destinasi Impian Orang-Orang
20| Atrasina Adlina – Merawat Pagar Nusantara di Perbatasan 
21| Eka Situmorang Sir – Pantai Impian
22| Indah Purnama – Indonesia Bikin Rindu
23| Karnadi Lim – Kaldera Toba for UNESCO
24| Liza Fathia – Berkisah tentang Sabang di Hari Kemerdekaan
25| Matius Nugroho – 5 Destinasi Impian Indonesia 
26| Titiw Akmar – Pancaran Nasionalisme dalam Taman Nasional Indonesia
27| Ridwan SK – Tobelo Destined To Be Love
28| Dea Sihotang – Tanah Papua, Kamulah My Drea30|m Indonesia
29| Imama Insani – Kapan ke Kakaban?
30| Astin Soekanto – Inginku Boven Digul : Belajar dari Bung Hatta
31| Vika Octavia – Tidak mau mati sebelum..

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel
Kepulauan Riau, Kuliner

Tribute To Heroes Dinner Allium Hotel

Agustus 2015 – Hari ulang tahun kemerdekaan RI  akan sampai di angka 70. Bagi sebagian orang tujuh itu angka keramat, tapi bagi saya tujuh itu hari ternikmat di akhir pekan. Saatnya leyeh-leyeh di tempat tidur , duduk manis di sudut kafe, atau piknik cantik  ke negara tetangga *jinjig hermes* . Mengurai sedikit isi kantong menawarkan rasa lelah lalu melebarkan pinggang dan perut.

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel

Mumpung bulan Agustus, agar terasa lebih nasionalisme,  sejenak melewatkan makan malam bertema Tribute To Heroes. Menyambut hari kemerdekaan RI ke 70 , Allium Hotel Batam menawarkan paket spesial stay offer  untuk dua orang termasuk sarapan dan makan malam seharga Rp 678.000,- . Penawaran menarik bagi anda yang tidak memiliki rencana kemana-mana di long weekend.

Selenthem dan Bonang mengiringi sinden berdendang
Selenthem dan Bonang mengiringi sinden berdendang

Makan malam spesial sambil menikmati alunan gending Jawa yang dibawakan langsung oleh para seniman senior bersahaja. Suara sinden mengalun merdu diiringi selenthem dan bonang. Sesekali dentingan siter meramaikan komposisi musik.

Meracik Laksa Bihun - Kudapan andalan malam ini
Meracik Laksa Bihun – Kudapan andalan malam ini

Hiburan  yang tak kalah seru menyaksikan koki meracik dan memasak makanan di pondok-pondok kecil serambi hotel. Pendar aroma gorengan dan kuah laksa memancing penasaran sekaligus rasa lapar.

Sepiring gorengan ubi dan pisang menjadi menu  pembuka malam ini. Laksa bihun, terasa lebih ringan dibandingkan laksa mie. Limpahan kuah santan berbumbu seolah tak mampu menembus tekstur bihun. Ketika dinikmati bersama , seolah rasa tawar bihun tetap ada di balik kuah Laksa. Tak berlebihan jika malam ini Laksa menjadi primadona. Karena selain lezat menggoda ada aroma udang yang mengusik indra pengecap dan perasa.

Semur Daging Betawi
Semur Daging Betawi

Merindukan menu yang lebih menohok lambung dengan sepiring nasi? Jangan khawatir, di dalam ruangan tersaji lauk pauk pendamping nasi putih. Namun yang mencuri perhatian saya semur daging Betawi. Apa sih bedanya dengan semur lainnya. Bukankan semua semur itu sama, limpahan bumbu rempah dan kecap pekat melumuri daging.

Semur daging Betawi merupakan semur paling bercita rasa “wah” dibandingkan semur lain di nusantara. Jika semur Samarinda dan Palembang menggunakan 11 jenis rempah, semur Betawi 14 jenis. Jadi terjawab sudah mengapa rasanya lebih lezat. Dan biasanya disajikan dengan ketupat, sayur pepaya dan kembang goyang.

Pecal , menu favorit saya hadir malam ini. Rebusan sayur mayur membuat rasa bersalah menikmati semangkuk Laksa agak berkurang. Tapi bagaimana dengan saus kacangya? Tak ragu saya menyiramkan saus kacang berkali-kali, agar rasanya makin legit menggigit.

Bagi orang Indonesia makanan lezat identik dengan hari spesial. Jika hari Idul Fitri kemarin kamu menikmati sepiring ketupat bersama opor ayam, rendang, sambal goreng hati, dan kerupuk. Kira-kira tujuh  belas agustus-an kamu makan apa? Jangan bilang hanya makan kerupuk. Itu lomba , bukan kuliner spesial.

Tidak  ada ide? Merapat yuk ke Allium Batam Hotel
11754927_416297238555149_3026815239262620982_o

Allium Batam Hotel
Allium Batam Komplek Panorama
Nagoya Batam 29432 Indonesia
t: +62 778 452 888
f +62 778 450 113
contact@alliumbatam.com

 

Kepulauan Riau, Kuliner

[Video] Saturday Fusion B.B.Q. Dinner Turi Beach Resort

Barbeque paling afdol di alam terbuka, seperti halaman rumah atau tepi petan. Akhir pekan ini melewatkan barbeque cantik di Turi Beach Resort. Mau lihatgimana serunya bakar-bakaran daging dan seafood. Yuk mari tonton videonya! Semoga bisa jadi referensi kuliner akhir pekan di Batam. Lanjutkan membaca “[Video] Saturday Fusion B.B.Q. Dinner Turi Beach Resort”

Jawa Timur, Lomba, Travelling

Garuda Indonesia Membawaku Kembali

Sayap garuda membentang lebar , melayang bebas di angkasa membumbungkan angan yang tersisa tentang pulang.

“Maaf Bu off duty kali ini saya tidak pulang ke rumah.” Sejujurnya tak sanggup mengatakan kalimat ini . Namun  akhirnya terujar tanpa jeda. Karena kemanapun kaki ini melangkah harus meminta doa dan restunya.

“Kamu jalan-jalan kemana lagi Le?” Pertanyaaan yang sama mengalun lembut tanpa emosi dan penuh keiklasan. Beliau sadar meski dilarang saya akan tetap pergi. Jadi sesungguhnya tak ada pilihan baginya selain melapangkan hati.

“Madura, Jawa Timur.”

“Hati-hati.” Sekali lagi doa ibu mengantar langkah saya pergi.

Garuda Indonesia di Bandara Sentani

Garuda Indonesia di Bandara Sentani

Tidak pernah membayangkan perjalanan ini sebelumnya, memenuhi undangan Cultural Trip. Rencananya kami akan  mengunjungi beberapa tempat wisata di Sumenep.

Meski ayah berasal dari Jogjakarta dan ibu dari Jawa Timur. Saya tidak mengenal akar budaya kedua orang tua dengan baik. Lahir dan besar di tanah Sumatra, saya selalu mengaku orang Sumatra. Tepatnya pujakusuma, putra Jawa kelahiran Sumatra.

Sejak berpuluh tahun kerabat ayah dan ibu di Jawa turut merantau ke Sumatra meninggalkan tanah leluhur kami. Lalu lambat laun ritual mudik berubah, dari kota-kota di pulau Jawa , kini lebih sering menuju  Jakarta atau Lampung, rumah orang tua saya.

Pernah ada keinginan untuk melakukan napak tilas kehidupan kedua orang tua yang lahir dan pernah tinggal  di tanah Jawa. Tapi godaan perjalanan ekstrim menjelajah rimba Sumatra  mengubur destinasi impian.

sayap garuda membentang lebar di angkasa
sayap garuda membentang lebar di angkasa

Getaran ringan roda sang garuda menyentuh landasan bandara Juanda membuayarkan lamunan. Pendaratan manis maskapai dengan kenyamanan kelas dunia. Sejak 15 menit lalu pramugari telah mengumumkan pendaratan penerbangan GA 304 Jakarta-Surabaya. Tapi saya masih terbuai dalam lamunan panjang tentang pulang dan tanah leluhur.

“Bu, saya sudah sampai di Surabaya, alhamdulilah penerbangannya nyaman .”

“Sukur Le.” Suara Ibu terdengar jauh tapi selalu terasa dekat. Beliau sempat mengungkapkan kerinduannya akan tanah Jawa. Mengisahkan kenangan masa kecil bersama teman-temannya, Mbah Kakung dan Eyang Putri yang tak pernah saya jumpai karena mereka telah berpulang sebelum saya lahir.

“Bu suatu hari kita akan ke tanah Jawa bersama ke makam mereka.” Lirih hati saya berjanji.

Ikon Pulau Garam
Setelaha tiga jam perjalanan darat sampai di jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura. Ternyata jembatan sepanjang 5.438 meter memiliki panjang dua kali lipat Golden Gate di San Fransisco.

Melewati jembatan Suramadu , penghubung pulau Jawa dan Madura
Melewati jembatan Suramadu , penghubung pulau Jawa dan Madura

Niat menikmati lezatnya Bebek Sinjai dan sambal mangga pedas yang tersohor gagal, karena warung ikon kuliner Madura tutup di hari Jumat. Sebagai gantinya Bebek Songkem Pak Soleh asal Sampang menjadi menu makan siang.

Seporsi Bebek Songkem lengkap dengan nasi putih dan lalapan
Seporsi Bebek Songkem lengkap dengan nasi putih, sambal mangga,  dan lalapan

Kuliner ini awalnya merupakan panganan hantaran ketika mengunjungi orang yang dituakan seperti Kyai. Sebelum digoreng, daging bebek dilumuri bumbu rempah dan dibungkus daun sebelum dikukus selama dua jam. Selain rasanya lezat, memasak dengan cara ini diyakini dapat menurunkan kadar kolesterol pada daging bebek.

Batik Gentongan Tanjung Bumi
Bagi pecinta batik tidaklah sulit mengidentifikasi asal kain mori bermalam karena setiap daerah memiliki kekhasan motif. Seperti batik Madura pada umumnya, batik asal Tanjung Bumi menggunakan warna-warna berani, seperti merah, biru , kuning dan ungu.

Keunikan batik Tanjung Bumi terletak pada proses pewarnaannya. Karena setelah dilorot – tahap peluruhan malam – kain batik direndam dalam gentong berisi nilon atau indigofera agar warnanya semakin cerah.

Untuk menarik penjual terkadang bumbui kisah mistis dibalik pembuatan Batik Gentongan. Pak Alim pemilik Zulfah Batik Madura Galery meyakinkan bahwa keindahan Tanjung Bumi lahir dari tangan terampil bukan dari ritual klenik.

Wayang Topeng Tengah Sawah
Siapa sangka pak Bram dari Gelar Cultural Trip mengajak saya melihat pertunjukan Wayang Topeng Madura di tengah sawah. Tepatnya di desa Bunbarat, kecamatan Rubaru , Kabupaten Sumenep.

Pak Merto – Pemimpin Wayang Topeng Rukun Perawas
Pak Merto – Pemimpin Wayang Topeng Rukun Perawas

Sebelum pertunjukan dimulai kami menyelinap ke belakang panggung, menjumpai Pak Merto pemimpin grup Wayang Topeng Rukun Perawas. Melihat pria paruh baya yang juga putra Maestro Topeng Madura , Suparkah mempersiapkan pertunjukan bersama anak didiknya.

Gemerincing suara gonseng (gelang kaki) seirama dengan musik karawitan. Dua pria membawa cermin dan keris kecil melangkah keluar dari balik panggung menari berpasangan. Tari Gambuh Tameng  dijadikan pembuka dalam adegan Wayang Topeng Madura.

Tari Gambuh Tameng
Tari Gambuh Tameng

Babak demi babak berlanjut berkisah tentang kehidupan sarat makna filosofi. Meski wayang topeng bukan ayangan (bayangan) di geber (layar) tetap mengandung sanepan yang menghibur. Meski kini  keberadaannya nyaris tergilas jaman, bersaing dengan hiburan moderen.

Keraton Sumenep, Dinasti Timur Madura
Bersama sejarahwan Madura, Tadjul Arifien R menyusuri lorong waktu di komplek keraton. Kami dituntun memasuki kawasan Gedong Koneng yang merupakan ruang kerja Raja Sultan Abdurrahman.

Tanpa lelah pria paruh baya ini berjalan mengelilingi komplek keraton. Tepat di belakang Gedong Koneng kami berhenti sejenak di Keraton Tirtonegoro , bangunan yang difungsikan sebagai rumah penyepen Bindara Saod.

Di sebelah selatan Pendopo Agung berdiri taman indah tempat pemandian putri-putri raja. Taman Sare memiliki tiga buah kolam, konon masing-masing memiliki khasiat seperti mendekatkan jodoh, mendatangkan dan meningkatkan keimanan.

Penjelasan Pak Arifien selama tur membuat saya ingin mengulik buku karangan beliau bertajuk Sumenep Dalam Sejarah. Mengurai penasaran akan dinasti raja di timur pulau Madura.

Masjid Jamik Alkuturasi
Dekat alun-alun beridiri megah masjid yang memadukan  budaya budaya Arab China , Madura dan  Eropa. Warna kuning dan hijau mendominasi pintu gerbang masjid. Setiap warna dan bentuk  ornamen memiliki  makna.

pintu gerbang Masjid Jamik Sumenep sarat simbol dan filosofi
pintu gerbang Masjid Jamik Sumenep sarat simbol dan filosofi

Dua lubang tanpa penutup diibaratkan mata yang sedang melihat. Tepat di atasnya terdapat ornamen segilima memanjang ke atas gambaran manusia yang sedang duduk rapih menghadap kiblat menghadap sebuah pintu masjid. Mengisyratkan bahwa bila keluar masuk masjid harus memakai tata krama . Tidak memisahkan dua orang jamaah masjid yang sedang duduk bersama dan imam keluar masuk mimbar tidak melangkahi leher seseorang.

perpaduan budaya - pintu besar gaya Cina, ukiran Madura, kaligrafi Arab, jam bandul Eropa
perpaduan budaya – pintu besar gaya Cina, ukiran Madura, kaligrafi Arab, jam bandul Eropa

Memasuki masjid bersejarah di Sumenep makin terkagum. Masjid sarat makna dan filosofi dibangun oleh Lauw Piango arsitek asal Cina di era kepemimpinan Raja Sultan Abdurahman.

Keris Aeng Tong Tong
Keris bertahtakan emas , berlian dan bergagang gading dihamparkan di atas kain putih.

“Bukan tampilan luar yang membuat keris bernilai tinggi. Tapi ada tiga unsur yang harus terpenuhi yaitu, dhapur, tangguh dan bilah,”Urai Faturrahman pakar keris asal Aeng Tong Tong Madura.

Dhapur adalah bentuk keris yang menggambarkan identitas dari daerah mana berasal. Tangguh adalah umur keris, biasanya dilihat dari modelnya, seperti fashion model keris menggambarkan era tertentu. Bilah adalah kualitas keris terdiri dari material dan tingkat kerumitan keris dibuat , juga menggambarkan kepiawaian sang Empu yang membuat.

Penasaran saya semakin membuncah melihat, alur pamor di permukaan keris. Kemampuan teknik metalurgi memadu padankan logam diperlukan untuk membuat pamor unik dan keris yang kuat serta tajam.

Keris tidak hanya benda tajam namun merupakan karya seni yang lahir dari  ilmu pengetahuan dan teknologi . Sebagai orang Jawa malu rasanya tidak mengenal identitas seni tempa besi.

Bonus Perjalanan
Saat perjalanan pulang menuju Surabaya Pak Bram mendapat kabar bahwa di desa Petiken , Pamekasan sedang berlangsung  Petik Laut. Tanpa ragu kami membelokan  kendaraan untuk melihat persiapan larung sesaji.

Sesaji baru akan dilarung esok tapi kesibukan persiapan Petik Laut  sudah terlihat di desa Petiken, kecamatan Pademewu, Madura. Petik laut merupakan acara larung sesaji sebagai bentuk rasa syukur atas berkah , rejeki dan keselamatan. Tradisi masyarakat nelayan yang sudah berlangsung  ratusan tahun.

perahu hias yang akan membawa sesaji di Petik Laut
perahu hias yang akan membawa sesaji di Petik Laut

“Kalau tak ada acara ini nelayan tak kumpul-kumpul, mereka terus melaut “, tutur  Haji Ibnu (47) kepala desa Petiken. Menegaskan acara ini juga sebagai wadah bersosialisasi warganya.

Tiga puluh  perahu pengiring gitik – perahu kecil tempat sesaji –  bersolek di pesisir. Warga bahu-membahu menghias kapal, memasang bendera pada tali penopang layar. Lambung dan buritan dicat warna terang dengan  ornamen khas Madura. Selain kepala kerbau dan kambing, gitik akan dilarung bersama 41 macam jenis buah-buahan.

Sore hari kembali Sang Garuda kembali membawa kami ke Jakarta. Semua peserta Cultural Trip Madura terlelap dalam senyum. Tidak pernah menduga perjalanan akan seseru ini.

“Le kamu sudah sampai Jakarta. Tidak langsung pulang ke Lampung?”

“Tidak Bu esok pagi langsung ke Jambi. Ada pekerjaan yang sudah menanti.”

“Baiklah . Hati-hati yo Le.” Sekali lagi Ibu menaburkan doa keselamatan. Ada rasa bersalah tak bisa menjumpai  dirinya.

Waktu menunjukan pukul 20:00 WIB. Kesibukan terminal 2 bandara Soekarno-Hatta belum redup. Saya duduk menyendiri di salah satu kafe, membayangkan perjalanan luar biasa beberapa hari ini.

Saya memang tidak pulang rumah , tapi saya punya kisah luar biasa. Kembali mengenal budaya leluhur yang hampir terlupa. Tak kuasa rasanya untuk bertemu dengan Ibu berbagi cerita.

Telepon selular saya keluarkan dari balik saku baju.

“Bu , saya mau bercerita… Garuda membawaku kembali…” Sepanjang malam bagai anak kecil saya berkisah  kepada Ibu tentang luar biasanya budaya Madura dan tanah Jawa. Dari lezatnya bebek Songkem hingga sejarah kerajaan Sumenep di timur Madura.

~Selesai~

cultural trip1

cultural trip2

Jalan2Cuap2, Malaysia, Video

[Video] Tropical Spice Garden – Penang, Malaysia

Jalan2Cuap2-Tropical Spice Garden, Penang Malaysia merupakan wisata alam berwawasan lingkungan. Selain hikking menyusuri taman rempah tropis banyak wahana lain yang bisa dijadikan wisata keluarga. Pengunjung diajak mengenal tanaman rempah dan manfaatnya.

Lanjutkan membaca “[Video] Tropical Spice Garden – Penang, Malaysia”

Travelling, Kuliner, Kepulauan Riau

Bebek Tepi Sawah Tengah Kota Batam

Judulnya ambigu banget, bikin pemirsa bingung.

Eh beneran lho ini tante. Kita makan Bebek Tepi Sawah tapi restonya berada di kawasan nge-hits kota Batam, Nagoya Citywalk. Kota artifisial mini yang diperuntukan bagi wisata keluarga sangat memanjakan pecinta kuliner.  Meski pamornya masih  kalah dengan jajanan murah meriah ala street food, namun memberikan pilihan baru  pecinta kuliner  kota Batam. Bayangkan beragam resto dengan interior unik  berjajar dengan variasi menu membuat air liur menetes.

Bebek Tepi Sawah di City Walk Batam

Bebek Tepi Sawah di City Walk Batam

Atas rekomendasi rekan kerja , usai jam kantor  janjian kongkow santai di Bebek Tepi Sawah. Konon resto bernuansa etnik moderen ini merupakan waralaba asal Ubud Bali, dan kokinya langsung didatangkan  dari pulau dewata. Jelas keontetikan rasanya tidak perlu diragukan.

nuansa moderen dan tradisional - interior Bebek Tepi Sawah
nuansa moderen dan tradisional – interior Bebek Tepi Sawah

Interior resto didominasi warna hijau  menyejukan berpadu manis dengan unsur kayu bernuansa etnik.  Lampu-lampu besar berselubung anyaman bambu bergantung di langit-langit, bentuknya mirip sangkar burung.

Sapa ramah pelayan dalam balutan jarik dan kebaya kontemporer meyakinkan bahwa Bebek Tepi Sawah Batam tidak hanya menjual kenikmatan kuliner, tapi nuansa dan atmosfer  tradisional. Sangat pas bagi mereka yang merindukan kuliner Bali.

Bebek Betutu - Menu Tradisional Bali
Bebek Betutu – Menu Tradisional Bali

Teringat pengalaman pertama kali menikmati Ayam Betutu di pulau Bali beberapa tahun silam, angan saya langsung tergoda dengan  Bebek Betutu di buku Menu. Kira-kira seperti apa rasanya. Apakah bumbu rempah mampu menjinakan  tekstur daging bebek yang liat dan beraroma khas.  Salah  teknik memasak,  daging bebek tak layak untuk dikonsumsi karena aromanya tak menguggah selera.

Daging Bebek Betutu mudah disobek tanpa rasa alot
Daging Bebek Betutu mudah disobek tanpa rasa alot

Tak berselang lama , menu yang dinanti tiba. Daging bebek hadir di atas pinggan beralas daun lontar dengan warna dan aroma menggoda. Kulitnya berlumur bumbu rempah betutu kecoklatan. Limpahan 10 jenis aroma rempah menggoda indra penciuman. Tapi tunggu dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari kesan pertama.

Sekali sobek, serat daging bebek terlepas dari tulangnya. Teksturnya pas tidak terlalu matang apalagi alot. Namun yang paling membuat terpikat rasanya, ketika dipadukan dengan sambal matah. Lidah saya semakin  penasaran , sepotong tak cukup. Berkali-kali sobekan daging meluncur ke dalam mulut bersama nasi putih hangat.  Rasanya Bali banget!

Ayam Jimbaran dalam lumuran samal cabai pedas
Ayam Bakar Jimbaran dalam lumuran samal cabai pedas

Bagi yang tidak suka daging bebek tersedia pilihan menu lain. Ada Sate Lilit khas Bali atau Iga Mercon yang rasanya memporak porandakan program diet.

Teman saya memilih Ayam Bakar Jimbaran  yang ternyata tidak kalah maknyus. Sebelum dipanggang, ayam diungkep  dengan bumbu hingga  rasa lezat  menyesap  ke dalam tulang. Lalu ayam  dibakar di atas bara api, menyisakan aroma arang kayu nan eksotis. Untuk menyempurnakan rasa, sambal goreng cabai merah dibalurkan tanpa celah.

Patung Bebek Tepi Sawah
Patung Bebek Tepi Sawah

Segelas Tropicana Sunset menjadi penawar rasa pedas di lidah. Rasa manis asam buah jeruk berbaur bersama potongan nata de coco. Kurang puas dengan pilihan beragam minuman di meja makan. Mari bergeser ke Mini Bar di bagian belakang. Dijamin kursi tinggi menjulang di depan bartender membuat obrolan makin seru.

Mini Bar di Bebek Tepi Sawah Batam
Mini Bar di Bebek Tepi Sawah Batam

Melewatkan makan malam di teras restoran menjadi pilihan saya dan teman-teman. Maklum saja sebagian besar  bapak-bapak ini ahli hisap, butuh ruang menikmati  aroma kretek, sembari sesekali mengisapnya dalam-dalam.

Sambal Matah, Sambal Goreng dan Sambal Terasi
Sambal Matah, Sambal Goreng dan Sambal Terasi

Malam makin remang tapi lalu lalang tak mengilang. Jalanan makin ramai bersorai bersama pendar lampu warna-warni. Nagoya merupakan ikon yang terlupakan di kota Batam. Tempat memanjakan lidah, hati dan mungkin rasa… Sesekali ada rasa cinta walau hanya satu malam.

Kali ini saya jatuh cinta dengan rasa bukan dengan sentuhan apalagi  belaian. Rasa di sini *nunjuk lidah , bukan nunjuk yang lain*

Bebek Tepi Sawah – Batam
Nagoya Citywalk, Blok CA no.102, Batam
Batam , Kepualauan Riau
Tel +62-(0778) 453187
Email info@bebektepisawahbatam.com
Website http://bebektepisawahbatam.com