Kategori: jejakubikel

Kalender Kesuburan

“Ikhtiar, usaha apapun wajib dilakukan” . Suara Ibu Mertua terngiang di telingaku. Sekian kali kusambangi dokter kandungan dan paranormal. Berharap ada satu benih tumbuh di rahimku. Pembuktian cinta kami kepada keluarga besar. Aku kehilangan akal sehat ketika semua kemalangan dilimpahkan kepadaku.

Mengulur Waktu

“Tut…” Suara panjang kematian. Jantungnya berhenti berdetak. Tangisan memecah keheningan malam. Suara langkah kaki menghambur memenuhi ruangan. Doa dan penyesalan meluncur deras mengiringi jasad lelaki di atas ranjang. Paramedis sibuk memeriksa nadi dan raga.

Dosa?

Bergelayut mendung di ujung barat, menutup mentari yang akan terlelap. Aku terjaga dalam satu pandangan lelaki di sudut gerbong kereta. Tiba-tiba rasa lelah ini menghilang, mengurai rasa berbunga. Matanya, hidungnya , tatapannya begitu tajam aku tak mampu memandanganya langsung. Kulirik dari sudut mata dengan…

Jiwa dan Raga

Jiwa dan Raga berjanji di depan altar . Bumi dan langit ikut bahagia menyaksikan kelahiran cinta anak manusia. Guratan janji sehidup semati terpatri di antara jari dalam lingkaran emas . Raga menyerahkan kehidupan pada lelaki yang mencintainya. Sebuah ciuman mengawali perjalanan kehidupan Jiwa dan…

Tarian Enggang

Menari-nari lincah di udara bagai burung enggang kasmaran. Aku jatuh cinta. *** “Mbok… berapa kali lagi aku harus menjalani ritual ini?”Air kembang tujuh rupa  mengguyur tubuhku. Berlahan aroma wewangian bunga setaman menyeruak masuk ke dalam relung kalbu asmaraku. Bagai terbangun dari mimpi panjang.

Kearab-araban

Paijo tersenyum sumringah. Harinya tambah bergairah setelah Inahistrinya mengirimkan uang. Tepat tiga tahun yang lalu Inah berangkat ke Arab Saudi menjadi TKW. Dan semenjak itu kehidupan Paijo berubah total. Handphone model terbaru terselip gagah dipinggangnya. Pekerjaannya sebagai buruh tani ditinggalkan, kini berganti sebagai tukang ojek. Tentu dengan motor…

Warga Negara Indonesia

27 Januari 1990. Aku terkulai lemas di kamar Akong. Suhu badankumeninggi, aku meringkuk di dalam selimut kedinginan. “Loe demam?” Tangan Cik Wati mendarat kasar di keningku. Aku terdiampasrah tanpa bisa mengeluh. “Ah bo’ong loe. Pasti semalem kebanyakan minum arak . Cici kan udah bilang….

Obsesi Gadis Lokna

Dataran tinggi Gayo. Mereka menjauhkanku dari air dan laut. Aku tertanam sunyi di puncak Burgayo. Pinus-pinus tertawa melihat kemalanganku. ***