jejakubikel Kisah Kehidupan

Warga Negara Indonesia

27 Januari 1990. Aku terkulai lemas di kamar Akong. Suhu badankumeninggi, aku meringkuk di dalam selimut kedinginan.

“Loe demam?” Tangan Cik Wati mendarat kasar di keningku. Aku terdiampasrah tanpa bisa mengeluh.

“Ah bo’ong loe. Pasti semalem kebanyakan minum arak . Cici kan udah bilang. Ga usah coba-coba minum arak. Lagian loe masih di bawah umur. Belon tujuh belas.” Cerocosnya tanpa henti. Suaranya menggema kuat membangunkan seisi rumah.

“Mama… Budi mabok tuh, kayaknya ga bisa sekola’. Telpon temennya. Suruh jemput surat ijin.” Kembali Ci Wati nyerocos suaranya cempreng menyakitkan telinga.  Samar kudengar suara orang naik ke atas loteng. Aku yakin itu Mama. Tiba-tiba tangan lembut meraba keningku.  Sejenak kemudian kurasakan handuk dingin. Tak banyak bicara mama merapatkan selimutku. Aku kembali tertidur.

Dua jam kemudian. Kembali sebuah tangan mendarat dengan kasar tepat di bokongku. Bukan rasa sakit yang membangunkanku, tapi rasa kaget.

“Bangun minum obat.” Ci Wati kembali hadir. Samar kulihat tangannya menggengam cawan kecil. Dari aromanya yang kuat dapat kupastikan itu obat. Tanpa basa-basi menyodorkan ke mulutku yang belum sempat terbuka. Dengan malas aku coba untuk bangkit dari tempat tidur.

“Mama kemana?” Tanyaku manja. Sambil melirik wajah ciciku yang semakin bulat, mirip kue bulan.

“Udah deh ga usah manja. Semua orang pergi ke Vihara buat sembahyang. Ini kan Imlek.” Perlahan aku mulai mengingat jamuan makan Imlek. Semua anggota berkumpul. Ci Wati, Koko Frans, Mama dan Papa duduk dalam satu meja. Ada begitu banyak doa dan harapan tadi malam. Walaupun ini Imlekpertama kami tanpa Akong.

“Ci gua semalem ga minum.” Aku mencoba membela diri atas tuduhannya tadi pagi.

“Tapi pagi ini lo mabok, sampe ga bisa bangun.” Ci Wati melotot, wajahnya benar-benar lucu. Jujur aku ingin tertawa tapi ada perasaan iba. Tak ingin menambah penderitaan wanita hamil ini. Rasanya perubahan tubuh dan hormon membuat cici tersayangku uring-uringan.

“Lah cici, ga ikut sembahyang ke Vihara.” Mencoba mengalihkan pembicaraan, sambil perlahan kuminum obat. Rasa pahit dan getirnya kutahan , untuk menghindari omelan.

“Jalan aja susah, gimana mau berlutut sembahyang.” Wajahnya memelas.Kulihat perutnya makin membesar, tubuhnya juga semakin tambun.

“Ya udah temenin aku di sini aja. Shio Kuda ya ci, ponakanku yang bakal lahir.”Sekali lagu kualihkan pembicaraan untuk menghiburnya sekaligus berharap sesuatu.

“Iya, sama dengan Akong. Semoga jadi pekerja keras dan pandai.”Tangannya tak berhenti mengelus perut buncit. Lalu dengan sigap dia mengambil cawan obat yang kosong. Bergegas  turun ke dapur, beberapa saat hadir
kembali dengan semangkuk sup. Dari aroamnya aku tahu itu sup kepiting.

“Sebelum berangkat tadi mama, bikinin sup ini buat lo.” Ci Wati duduk disampingku tiba-tiba sebuah angpau merah mendarat di tanganku. Aku tersenyum sumringah mengisyaratkan rasa terimakasih.  Kepulan asap sup membuat Ci Wati terlihat lebih cantik dan ramah. Dan berikutnya satu sendok sup telah mendarat manis di mulutku. Rasa pusing dan mual lenyap seketika yang tersisa hanya tetesan keringat dan rasa bahagia.

Perlahan kupandangi kamar. Sebuah ruangan tempat aku dan Ci Wati sering berkumpul bersama Akong. Tempat kami belajar aksara dan bahasa Mandarin dialek Hokkian.  Mungkin itu yang tersisa, kami tak punya banyak kesempatan untuk mengenal budaya leluhur kami lebih banyak. Merayakan Imlek atau Cap Gomeh harus diam-diam. Tak ada tanggal merah
untuk keduanya, apalagi kemeriahan.

“Ci itu apa?.” Aku menunjuk sebuah figura bertuliskan SBKRI. Tertera nama Akong, Lie Tsi Jie menjadi Iwan Praja.

“Itu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Itu pernyataan kalo Akong dan keturunanya sudah syah menjadi orang Indonesia.” Tangan Ci Wati sibuk membersihkan sisa sup dari bibirku.

“Iya aku tahu, itu fungsinya apa. Bukankah kita lahir dan besar di Indonesia. Kenapa harus pake bukti.”, Pertanyaanku mulai kritis mengusik.

“Tau deh, yang jelas besok kalo loe mau bikin KTP atapun kawin kaya Cici harus ada itu surat.” Wanita hamil itu kembali judes alisnya meninggi mulutnya pun meruncing. Nampaknya mood-nya kembali turun.
Akupun memilih untuk diam. Meskipun otakku menyimpan seribu pertanyaan.

***

28 Januari 1990. Badanku masih demam, tapi memaksakan diri masuk sekolah untuk menyelesaikan satu misi. Mungkin Pak Ali, guru PMP bisa menjawab pertanyaanku kemarin: Mengapa ada SBKRI? Apa fungsinya? Apa tujuannya?  Mengapa orang Tionghoa dilarang merayakan Imlek?  Mengapa,mengapa dan mengapa?

Kupandangi lambang burung garuda di depan kelas, sambil menunggu pelajaran dimulai. Berjajar di kedua sisinya foto petinggi negara ini. Aku hapal benar sapa yang ada di sebelah kiri. Pemimpin yang lebih dari 20 tahun menjadi bapak pembangunan. Tapi di sebelah kanan, aku tidak terlalu kenal hanya tahu namanya saja. Mungkin bekas Jendral berbintang. Kembali benakku bertanya. Mungkinkah orang dari kami menjadi seperti mereka? Menjadi presiden Republik Indonesia. Nampaknya demam ini membuatku berkahayal.

Suara langkah sepatu bu Meli, wali kelas menyadarkanku. Dari balik kacamatanya yang tebal menatap  semua siswa , pandangannya sinis menyapu seluruh isi ruangan kelas.

“Perhatian! Semua siswa yang tidak masuk sekolah kemaren harap ikut saya”. Tangan bu Meli menggengam absen dan setumpuk surat ijin. Satu per satu kami dipanggil.

Aku baru sadar kalau ternyata kemarin siswa keturunan Tionghoa banyak yang tidak masuk sekolah untuk merayakan Imlek. Kami digiring masuk ruang kepala sekolah lalu diinterogasi satu per satu. Surat keterangan sakit dan ijin bertumpuk atas di meja kepala sekolah. Beliau marah besar, ketika tahu sebagian dari kami berbohong.

“Tapi saya tidak bohong pak. Saya beneran sakit. Ini masih demam.” Sekali lagi  berusaha meyakinkan , tapi tidak satupun dari mereka percaya. Hanya omelan dan ceramah pedas yang kami terima. Perasaan deskriminasi semakin kuat ketika kepala sekolah berkata, kami harus keluar dari budaya leluhur kami. Ini Indonesia dan bukan Cina.

Sekali lagi nasionalisme kami diuji. Kami dihukum bebaris di lapangan sambil mengangkat tangan dan hormat kepada Sang Saka Merah Putih. Lagu Indonesia Raya wajib dikumandangankan sebanyak seratus kali. Sinar matahari membuat kepalaku pusing, pandanganku buram dan berkunang-kunang. Aku kembali berhalusinasi. Kulihat Akong berpakaian beskap lengkap dengan batik dan blangkonnya. Sekilas kemudian Akong berganti pakaian Bali, Padang, Aceh…Lengkap dua puluh tujuh propinsi.

“Seandainya kami orang Indonesia… “.Bibirku lirih bergumam. Tubuhku ambruk jatuh di tanah, tak sadarkan diri.

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.