jejakubikel Kisah Kehidupan

Obsesi Gadis Lokna

Dataran tinggi Gayo. Mereka menjauhkanku dari air dan laut. Aku tertanam sunyi di puncak Burgayo. Pinus-pinus tertawa melihat kemalanganku.

***

Ulee Kareng 7 tahun yang lalu. Sekali lagi kupagut cermin di dinding. Betapa gagahnya dalam balutan baje meukasah. Hantaran berhiaskan kerawang Gayo berjajar di ruang tamu. Handai taulan berkumpul bersiap menjemput kebahagiaaanku. Akan kupinang gadis Lokna bermata biru.

Milna. Perawan pantai berdarah Portugis mencuri hatiku. Lirikan matanya bagai air laut menenangkan. Kulitnya putih halus bersinar di bawah mentari. Gemulai tubuhnya menghardik rasa gundah di sanubari. Tak mudah untuk meluluhkan hatinya, apalagi keluarganya. Adatnya tak bisa menerima orang luar apalagi pria berdarah Gayo. Tapi tak ada yang mustahil untuk cinta. Kupertaruhkan waktu bertahun-tahun untuk menanti cinta dan restu kerabatnya.

Terbayang bibir mungil samar menjawab pinanganku dari balik kerudung. Wajah bersemu merah mengisyaratkan setuju sambil mengangguk. Langkahku semakin mantap untuk menyunting hatinya menjawab semua ilusi dan mimpi.

Beriringan kami menuju Lokna. Tiba-tiba bumi bergetar tapi tak menyurutkan langkahku. Orang lari tunggang langgang panik tapi aku tetap kukuh. Gemuruh langit dan bumi bersatu menghentak di setiap langkahku. Aku selalu yakin dengan keinginanku. Air bah menyapu bumi, aku tetap maju tapi tangan-tangan itu menarikku. Hasratku tak surut.

Hitam, pekat, gelap. Malam menyelimuti Banda Aceh. Aku tak tahu ini mimpi atau nyata. Desa Milna porak poranda. Halus  kudengar suaranya memanggilku. Angin menuntunku untuk bertemu gadis pujaanku. Aku berjalan menuju lautan lepas. Tapi lagi-lagi tangan-tangan itu menarikku ke bumi.

Tangan-tangan itu membawaku ke Takengon, memasungku di Burgayo.

***

Kupandang birunya danau Lot Tawar dari dataran tinggi.  Angin kembali menuntunku. Aku berada di Ujung Nunang, tebing selatan danau. Milna memanggilku, suaranya semakin kuat. Birunya danau bagai kerlingan mata
menggodaku. Bayangan wajah cantik mengurai jelas di riak gelombang.

“Didong didong didong do didong ni
Didong ko kin seni ni urang Gayo ni
Tikik tikiki telas basa, bijak cerdik tutur kata
Roneng tikik makin gaya, osop macik pora-pora
Didong denang didong didong ku denang”

Kulantunkan sebait Didong pada kehidupan yang kejam. Angin menghempas tubuh lelah ini ke birunya air. Ke dasar terdalam obsesi tentang gadis bermata biru.

5 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.