jejakubikel, Kisah Kehidupan

Jiwa dan Raga

Jiwa dan Raga berjanji di depan altar . Bumi dan langit ikut bahagia menyaksikan kelahiran cinta anak manusia. Guratan janji sehidup semati terpatri di antara jari dalam lingkaran emas . Raga menyerahkan kehidupan pada lelaki yang mencintainya. Sebuah ciuman mengawali perjalanan kehidupan Jiwa dan Raga. Tanpa pesta, hanya sebuah ikrar suci antara Jiwa, Raga dan Tuhan.

“Ra kamu bahagia?” Jiwa bertanya kepada Raga di pagi hari usai malam pertama. Tak ada jawaban. Hanya uraian senyum mengembang di bibir Raga. Keduanya tak berkata. saling berpandangan penuh kagum dan cinta.

***

Siang dan malam berpacu dengan roda kehidupan. Bumi dan langit tetap menjadi saksi kehidupan Jiwa dan Raga. Bumi setia memangku cinta mereka sedangkan langit memayungi kasihnya. Semua terasa indah hanya waktu yang tak berpihak pada Raga. Wajahnya tak secantik dulu, tubuhnya tak sekuat dulu. Renta dan tua itu yang tersisa. Sedangkan Jiwa? Ya lelaki itu memang ditakdirkan untuk abadi. Dia tak akan lekang oleh waktu. Tubuhnya masih gagah, wajahnya masih tampan. Dia adalah pangeran kegelapan yang tak akan mati.

Hari ini , dimana bumi tegar setia di bawah tetesan air mata langit. Dan setiap siang dan malam menjadi begitu dingin. Raga memutuskan untuk berpisah lebih awal.

“Aku ingin pulang.” Ra bergumam lirih. Suara angin kembali memanggilnya dari balik bukit. Membangkitkan kerinduan akan tanah kelahiran dan kenangan masa kecil.

“Janji kita?” Jiwa memandang tajam Raga dalam kegelisahan. Raga terdiam tak berani bicara. Matanya membayangkan masa tua yang indah di bukit sana. Tempat kaumnya menghabiskan waktu menunggu ajal tiba.

Setetes darah keabadian ditawarkan kembali oleh Jiwa. Tapi Raga tak bergeming untuk mengubah takdir. Dia memilih menanggalkan rasa cinta dan mengingkari janji suci. Bercerai.

Bulan purnama bersinar. Raga berlari ringan menuju bukit. Desiran angin di dedaunan menyambut kedatangannya. Kali ini bukan Jiwa yang meninggalkan Raga, tapi Raga yang meninggalkan Jiwa. Wanita itu terus berlari menjauh. Tiba-tiba dia berhenti memandang kastil Jiwa lalu mengibaskan ekornya. Lolongan panjang Raga mengakhiri sebuah janji suci.

Satu tanggapan untuk “Jiwa dan Raga”

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s