Dosa?

Bergelayut mendung di ujung barat, menutup mentari yang akan terlelap. Aku terjaga dalam satu pandangan lelaki di sudut gerbong kereta. Tiba-tiba rasa lelah ini menghilang, mengurai rasa berbunga. Matanya, hidungnya , tatapannya begitu tajam aku tak mampu memandanganya langsung. Kulirik dari sudut mata dengan keberanian sang pecundang. Sejenak pandangan kami beradu. Aku tergagap dalam rasa malu. Terdunduk dalam rasa yang tak pernah aku tahu. Inikah cinta atau sebatas buaian pesona.

Satu persatu penumpang turun di stasiun kecil. Aku tetap menunggu untuk sampai di pemberhentian terakhir, stasiun Bogor. Aku tak bergeming dari dari tempat duduk dan rasa gugup. Sekali lagi kutatap dia, dan untuk kesekian kalinya terpesona. Segaris senyum tipis meluncur indah dari bibirnya, aku pura-pura membaca pesan dari Blackberry.

Sosoknya begitu sempurna, selalu tergambar indah di dalam mimpi-mimpiku.

“Inikah jodohku”. batinku lirih berbisik.

“Kamu bukan untuk dia. Ingat Tuhan.” Batinku yang lain menjerit. Aku terduduk takut dalam dosa.

Malam semakin larut. Aku merasa kereta besi ini terlalu lambat bergerak. Hanya kami berdua di dalam gerbong kereta. Aku tak pernah membayangkan apa yang akan terjadi. Aku bedoa kepada Tuhan untuk mematikan rasa ini. Lelaki itu menghampiriku. Langkahnya mempercepat detak jantungku hingga desir darahku terdengar.

Tiba-tiba sebuah tangan kekar menjabat tanganku. Genggamannya kuat.

“Kenalkan namaku Anton. Kamu?” Matanya langsung memandang mataku. Aku tak berdaya.

“A..a… ku.”Napasku tercekat tak dapat melanjutkan kata-kata.

“Aku sudah tahu… kamu kan? Ada bahasa tubuh yang hanya dimengerti orang-orang seperti kita.” Roni menggengam pundaku pelan. Pandangannya membuatku pasrah.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku terjebak dalam dosa.

“Nama kamu Budi kan ? AKu sudah tahu. Kamu yang di lantai 4 Gedung Melati kan? Aku satu lantai di atas kamu” Tanpa sadar Roni duduk disampingku.

Kereta masih melaju dengan kencang. Aku tetap terdiam. Lelaki itu ada di sampingku. Diam-diam kunikmati wangi tubuhnya, hangat sapanya dan manis senyumnya. Selanjutnya kami berbincang semakin dalam , menyeruak rasa cinta dan keintiman sepasang sahabat. Atau kekasih?

“Dosakah ini?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s