Travel Blogger yang tergoda membuat video narasi bertajuk Jalan2Cuap2. Sekarang lebih sering piknik cantik mengulik hotel dan tempat makan, dibandingkan backpacking ekstrim.
Mau tempat makan atau hotel kamu direview dengan foto dan video ciamik? Hubungi saya :D.
5 September 2015 . “Dima Bumi Dipijak Disinan Langik Dijunjung” (Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung)
Kutipan falsafah hidup menghiasi sampul depan pamflet Marantau 2015 , program Taman Warisan Melayu Singapur yang digagas komunitas Persatuan Minangkabau Singapura. Bertujuan mengajak masyarakat untuk lebih mengenal budaya Minang di Kampong Gelam , berlangsung dari tanggal 17 Mei hingga 13 September 2015. Lanjutkan membaca “Belajar Minangkabau di Negeri Orang”
Single itu pilihan, jomblo itu takdir sedangkan jablai itu ujian. Semakin ke sini banyak teman kerja yang nasibnya men-jablai (jarang dibelai). Aku nggak tahu ini kutukan apa kutekan *ngecat kuku*. Tercatat setidaknya ada lima orang di kantor berstatus jomblo permanen dan temporer. Ada yang ditinggal suami bertugas dan yang paling banyak meninggalkan istri . Tapi paling epik , ditinggal istri mudik yang keterima PNS di kampungnya, nun jauh di Nias. *nangis*
Karena merasa senasib, om-om jablai akhirnya sering kumpul bareng, mulai dari karaoke, nonton , sampai akhirnya terbersit keinginan membuat gank Omjay, Om jablai. Lanjutkan membaca “Omjay Trip – Bintan One Day”
Malam panjang datang menjelang, bukan berarti mereka yang belum menemukan pasangan pantang bahagia. Bahagia tak harus berdua, bisa saja sendiri atau beramai-ramai, bersama menikmati malam panjang dengan barbeque. Lanjutkan membaca “Saturday Night , Beach & Barbeque”
17 Agustus 2015 – Senja baru saja menaungi Tarempa ketika sauh diturunkan. Dalam rona temaram jingga kembali berlayar ke Durai melalui pelabuhan pemda. Raut ragu sang nakoda seolah tertutup kelamnya malam. Ia memilih diam takut mengecewakan kami yang terlanjur bersemangat.
“Malam ini kita ngintip penyu bertelur yuk!”
“Tapi kayanya moto bintang seru, langitnya nggak bocor.”
Segudang rencana pun terujar tanpa pernah sadar ada bahaya besar menghadang. Dalam hitungan menit speed boat terguncang hebat membentur gelombang. Saya masih bisa tersenyum lebar, seolah laut sedang menyapa dan ingin bermain.
senja di Teluk Tarempa
Berikutnya tak ada yang mampu berkata ketika gelombang besar masuk dari geladak depan memuntahkan air asin.
“Byur!!!” Pakaian di badan hingga barang bawaan kuyup tersapu air. Melaju perlahan bukan pilihan tepat, berkali-kali gelombang mengombang-ambingkan tanpa arah.
“Tak mungkin kita merapat ke Durai. Tapi kembali juga lebih tak bisa. Sudah separuh jalan lebih” . Suara nakoda mengunggah kesadaran alam tidak sedang bermain.
“Semua bisa berenang kan?”
“Saya ngga bisa kalau tidak pakai pelampung”, ujar Lilian ragu. Diam-diam kami memendam doa dalam hati.
Dalam gelap nakoda berlayar menuju Durai dengan caranya, menajamkan hati dan perasaan karena indra penglihatan tak mampu menembus malam. Sekali lagi gelombang menggetarkan lantai fiber glass. Oh Tuhan bagaimana jika kapal tak mampu bertahan lalu terbelah dan karam.
Kerlip lampu di kejauhan menuntun kami ke tiga kapal nelayan di balik bukit pulau Durai. Nasib mereka tak berbeda dengan kami, menjauhi badai.
“Kemarilah naik. Laut memang sedang tak bersahabat musim angin selatan.”
Tanpa berpikir dua kali, satu persatu berpindah ke kapal kayu besar nelayan. Badai tak lagi menyentuh tapi dinginnya air masih terasa menusuk kulit. Usai berganti pakaian melewatkan makan malam di atas geladak bersama.
Bulan sabit separuh tak sebenderang purnama, tapi sinarnya mampu menerangi lautan hingga dasar.
“Lihat deh ke bawah, dasarnya kelihatan. Jernih banget airnya. Kalau siang kaya apa ya?”, celoteh Lisa membangkitkan rasa penasaran. Dan benar saja ikan kerapu terlihat berenang di antara terumbu.
Atap geladak menjadi tempat favorit merebahkan diri. Taburan bintang membuai mimpi pertama di Anambas. Mimpi yang nampaknya harus kami gantungkan sejenak.
***
Senandung burung dari pulau Durai terdengar jelas, membahagiakan insan memulai hari. Tiga kapal nelayan mengiringi kami menuju lautan teduh. Lambain tangan nelayan sekaligus bermakna doa, melepas kami ke lautan luas. Durai masih menggoda dengan rona jingganya, tapi kami memilih menjauhinya karena gelombang di sana tak bersahabat.
menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Duraijingga menyapa pagi , melepas kepergian
Memutar haluan ke Trenggiling sebagai penawar kecewa bukanlah keputusan mudah. Berkali nakoda berujar tak mampu menghalau bahaya gelombang pulau Bawah konon hingga 2 meter . Tapi kami tetap berteguh hati, terlanjur tegoda impian pulau tropis terindah di Asia.
Baiklah, kita gantungkan sejenak kedua impian , Anambas bukan hanya Durai dan Bawah.
pulau Trenggiling, salah satu pulau cantik Anambas
Bukit batu menjulang menjadi pemandangan pertama Trenggiling, berlahan namun pasti speed boat menuju daratan. Jangan pernah meragukan kejernihan laut di sini. Sampai kedalaman 10 meter , laksana kaca aquarium tembus pandang.
Meski bukan hamparan pasir luas, pesona Trenggiling sungguh menggoda. Menjawab dahaga atas indahnya pulau tropis. Tak sabar rasanya ingin meceburkan diri ke birunya air. Tapi sang nakoda melarang. “Kita tak berenang di sini, hanya ke goa kelelawar.”
goa kelelawar di pulau Trenggiling
Aroma amoniak menyeruak di pintu goa keleawar. Binatang omnivora menggantung di langit-langit. Tidak ada yang mau melangkah lebih jauh, cukup berfoto di depan mulut goa lalu menjelajah sisi lain Trenggiling.
menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas
Impian tentang Anambas terwujud. Langit biru, pasir putih dan air dalam gradasi tiga warna: biru muda, hijau toska dan biru tua. Berhamburan menuruni kapal , berlarian bagai anak kecil , kami menjejakan kaki di pantai berpasir sehalus tepung terigu.
Hari kemerdekaan sehari telah berlalu, tapi tak apa memperingatinya sekarang. Sang saka dikibarkan dalam kesederhanaan, diikatkan pada sebatang kayu lalu ditancapkan di atas pasir.
air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tuahening bagai di pantai pribadi
Sunyi Trenggiling bagai pantai pribadi, tak ada orang lain apalagi penjaja makanan. Dengan cekatan Eyster memasak nasi lalu membuka bekal lado garom, masakan khas Tarempa. Suwiran ikan tuna berbumbu cabai dan garam saja. Sederhana, tapi disantap dengan nasi hangat di pantai seindah ini, jelas rumit. Untuk “sarapan cantik” di sini kami harus melalui pelayaran Tanjung Pinang- Tarempa 12 jam dan drama tersapu badai menciutkan nyali.
dunia bawah laut Trenggiling tak kalah memukaumengibarkan sang saka di dalam air
Menutup petualangan di Trenggiling , sang saka merah putih dikibarkan di bawah air.
Hari ini tepat 70 tahun satu hari yang lalu Indonesia memproklamasikan diri sebagai bangsa merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan.
Hari ini kebanggan kami bertambah, terlahir di bumi pertiwi yang keelokannya tak pernah habis untuk dijelajahi.
“Habis ini kita kemana lagi ya?”
“Hmmm… rahasia. Tunggu saja kejutan Anambas selanjutnya.”
“Bang adonin aku… uleni aku…”, lirih seorang wanita di ujung meja sembari mengigit bibir. Matanya nanar memandang tangan kekar terampil meremas adonan tepung. Keringat mengucur deras dari kening pria berwajah Italia melewati jambang. Beruntung tak jatuh ke dalam ke adonan karena empunya menyeka dengan kerah baju.
“Kira-kira bajunya dibuka ngga ya, kalau udara makin panas?”, seloroh nakal wanita lain disusul tertawa penuh makna.
Menguleni adonan pizza sesungguhnya tak harus membuat keringat berderai. Namun panasnya tungku kayu dan udara pantai menciptakan angan nakal kaum hawa penghobi wajah kaukasia.
pantai berpasir putih di dekat Pizzeria Casa Italia
Pizzeria Casa Italia bukanlah restoran di pesisir pantai Scilla pulau Calabri , Italia. Namun pemandangan dari warung sederhana yang mengusung cita otentik Italia tak kalah dibandingkan dari negeri asalnya.
Berada di tepi pantai Trikora, Pulau Bintan Kepulauan Riau, Pizzeria Casa Italia terasa lebih eksotis. Kesan pertama, pengunjung langsung disuguhkan pantai berpasir putih dengan ornamen batu besar menjulang. Tak pelak lagi penghuni laman instagram berlomba mengabadikam momen tak terduga.
Niatnya mau makan pizza eh dapat pemandangan indah.
tepat di seberang pantai ada pulau kecil
Ketika air surut jangan ragu untuk melangkahan kaki ke pulau depan. Meski ratusan kepiting kecil keluar dari lubang-lubang di pasir membuat indra pengelihatan terasa nyeri. Pulau mungil berparas cantik seolah melingkupi pantai luas , membuat gelombang tak begitu deras. Saatnya kembali bernarsis ria, membiarkan angin menyibak rambut.
saatnya berselfie riabebatuan menjulang di pulau kecil dekat pantai
Lelah dan aroma pizza akan menuntun mu kembali ke daratan , melabuhkan diri pada pondok kecil. Meski mas-mas bule tidak membuka bajunya , yakinlah lezatnya pizza mampu memuaskan hasrat lain. Tapi sabar teman, baca baik-baik peraturan di sini. Sembarangan membuang sampah akan didenda.
kamar mandi bayar 2 ribu
Ada area tertutup yang hanya diperbolehkan bagi karyawan, salah melangkah masuk bisa langsung diomeli sang pemilik. Mau makan pizza kok repot banget? Tidak repot asalkan kita saling menghargai , tidak masalah. Lagian ini demi kepentingan bersama. Siapa sih yang ngga betah duduk bersantai di pantai indah yang bersih.
baca peraturan sebelum melangkah lebih jauh
Jangan salahkan pemilik warung , jika tarif parkir di sini lumayan mengguncang kantung , untuk motor 10 ribu dan mobil 20 ribu. Nyamannya lokasi membuat orang enggan untuk pergi meski makanan dan minuman sudah habis.
membuang sampah didenda sejuta, membuang mantan gratis
Baiklah mari kita kulik menu andalan. Duh pizzanya ngga nendang banget, kulitnya tipis renyah bukan roti.
Sssttt… di negara asalnya kulit pizza seperti ini, bukan pizza dengan dasar roti tebal kaya karbohdirat. Membuat perut terasa begah usai menyantap satu potong.
Coba endus berlahan tapi ngga pake ngelirik mas-mas bule. Ada aroma tepung terpanggang sempurna bersama saos tomat dan keju. Begitu digigit, renyahnya kulit pizza menyapa lidah lalu menari-nari bersama topping. Kali ini saya menyantap pizza tuna lezat. Hmmm… cita rasa laut sempurna.
Potongan berlanjut dengan pizza ber-topping jamur. Kelezatannya tak perlu diragukan, tapi yang membuat saya terhenyak potongan tumbuhan saproprit itu mirip daging ayam, pilihan tepat bagi vegetarian.
Seloyang pizza rata-rata harganya 45 ribu rupiah, cukup terjangkau bukan untuk disantap bersama. Pilihan minuman , sepertinya saya tidak bisa move on dari teh tarik dingin.
kulit pizzanya renyah banget
Jelang senja pengunjung satu persatu meninggalkan warung pizza. Matahari memang tak terlihat terbenam di horison pantai, tapi pendar jingganya selalu mempesona. Potongan pizza terakhir saya lumat tanpa berdosa, tak karbohidrat tinggi.
Mbak-mbak di ujung meja telah berlalu bersama malam yang semakin dingin. Mungkin kecewa , melihat mas bule bercengkrama ramah dengan gadis melayu berhijab. Atau dia kecewa tak ada atraksi bonus shirtless.
Cita rasa ini memang sangat Italia, tapi siapa yang menyangka pembuatnya lantang berbahasa dengan logat melayu kental.
pizza dipanggang dengan tungku kayu
Senandung lagu Italia terdengar tak terlalu bingar. Bersama malam saya melangkah pulang , menimbang dalam hati banyak yang saya dapatkan di sini. Tak hanya seloyang pizza dari negeri asalnya tapi pelajaran bagaimana seharusnya manusia menghargai alam dan budaya lokal.
Dia tidak kelihatan sedih tapi kekecewaan menaungi wajahnya . Videographer sekaligus travel blogger tampan harus menelan pil pahit, sudah berputar-putar di langit Anambas tapi gagal mendarat.
“Pesawat dua kali gagal mendarat karena angin yang tak bersahabat. Lalu pilot kembali ke Tanjung Pinang tak berani mengambil resiko pendaratan berikutnya, takut kehabisan bahan bakar.”
“Ngga naik kapal?”
“Rencananya, tapi Rabu ada undangan ke Padang.” Duh ngehits banget sih kakak ini, makin ngefans jadinya. *peluk perut ala Teletubies*.
“Dua belas jam terombang-ambing di samudra Hindia. Nakoda bertutur cuaca sedang bagus dan ombak bersahabat tapi nyatanya saya terjungkal di balai-balai geladak tak mampu berdiri. Harapan saya hanya satu sampai daratan.
Masilok memang pulau yang elok . Daratan tak berpenghuni ini bagaikan surga, maaf surga dunia *takut diprotes*. Surga memang tempat indah di akhirat dan konon belum ada manusia hidup kesana. Tapi bagi saya surga bukan hanya tempat indah , tapi tempat yang membuat kita makin yakin akan kebesaran Tuhan.
Tahun 2012 CNN.com merilis artikel Pulau Bawah di kabupaten Anambas merupakan pulau terindah di Asia mengalahkan pulau tropis lainnya , seperti Koh Cang (Thailand), Langkawi (Malaysia), Teluk Halong (Vietnam) dan Similand (Thailand).
Sebelum hopping island ke Pulau Bawah pelancong singgah dulu di Tarempa, ibu kota kabupaten Anambas. Ada dua cara sampai ke Tarempa, jalur pertama dengan pesawat ke bandara Matak lalu melanjutkan pelayaran dua jam. Kedua dengan kapal dari pelabuhan Sri Bintan Pura , Tanjung Pinang , Kepulauan Riau.
“Numpang saja pesawat terbang Conoco Philips dari bandara Halim Perdanakusuma. Gampang kok temen aku bisa”, ujar rekan blogger paling tahu sedunia . Tapi nyatanya tak semudah itu. Jangankan tumpangan gratis, pesawat komersil pun harus berebut tempat duduk dengan pegawai pemerintah. Jadi pilihan bagi saya kapal laut dengan pelayaran 12-18 jam.
Keindahan Laguna Pulau Bawah memang menghipnotis banyak orang . Saat pasang terlihat pulau besar dengan laguna biru kehijuan. Namun saat surut gugusan pulau terlihat berpencar dengan ornamen gundukan pasir putih memanjang. Gugusan Pulau Bawah terdiri atas beberapa pulau yaitu : Bawah , Sanggah, Murbah, Lidi dan Elang.
Pulau Bawah bukanlah satu-satunya daya tarik Anambas. Pulau berparas elok lainnya siap dijelajah jika bertandang ke kabupatan paling utara Kepri. Namun butuh perjuangan sampai ke pulau yang kadang tak memiliki dermaga. Hanya dua jam pelayaran dari Tarempa dengan ombak menggoda iman dan keyakinan. Yakin kita akan sampai di sana?
Angan saya membumbung , selain cantik pastilah pulau-pulau itu punya rahasia tak terujar. Teringat perjalanan beberapa tahun lalu ke Mentawai. Siapa sangka salah satu pulau cantik di sana memiliki air terjun. Di desa Ulu Maras Kecamatan Jemaja Timur, Anambas terdapat air terjun berundak Temburun.
Air meluncur melalui batu berundah dari ketinggian 250 meter Pulau Siantan , berakhir di Selat Peniting. Pelancong bisa menyusuri dari hulu dan hilirnya, tentu saja sebuah perjalanan menantang.
peta kabupaten Anambas
Barusan seorang teman asal Tanjung Pinang berkisah bahwa sekarang tidak ada lagi pesawat komersil Tanjung Pinang-Matak. Hanya frekuensi kapal dari dua menjadi tiga kali seminggu. Sebuah ironi. Ketika semua orang terkagum dengan Anambas dan pemerintah mempromosikan habis-habisan melalui film (konon akan diproduksi film dengan lokasi pengambilan gambar di Anambas). Tapi biarlah mungkin ini takdir Tuhan untuk melindungi keindahannya.
Tanjung Pinang, 17 Agustus 2015
Terduduk di salah satu sudut pelabuhan Sri Bintan Pura menanti kapal Seven Star menuju Tarempa.
Tahun ini tak merayakan hari ulang tahun Ibu Pertiwi dengan upacara di lapangan terbuka. Namun dengan pelayaran mengarungi samudra 12 jam sebelum nanti sore dilanjutkan hopping island menuju Durai dan Pulau Bawah.
Jika takdir berjodoh mempertemukan saya dengan keindahan Anambas. Impian ini menjadi nyata, pastikan saya untuk berkisah. Karena sesungguhnya perjalanan bukan untuk mengejar keindahan dan mewujudkan ego pejalan.
Ini tentang iman. Keyakinan Tuhan selalu menuntun musafir ke jalan yang benar.
Sang Merah Putih kukibarkan di bumi AnambasPulau Tenggiling Anambas – Meski tak sepopuler Pulau Bawah , pulau di Anambas selalu indahAir Terjun Temburun , TarempaPose nista tapi ngga saru
Agustus 2015 – Hari ulang tahun kemerdekaan RI akan sampai di angka 70. Bagi sebagian orang tujuh itu angka keramat, tapi bagi saya tujuh itu hari ternikmat di akhir pekan. Saatnya leyeh-leyeh di tempat tidur , duduk manis di sudut kafe, atau piknik cantik ke negara tetangga *jinjig hermes* . Mengurai sedikit isi kantong menawarkan rasa lelah lalu melebarkan pinggang dan perut.
Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel
Mumpung bulan Agustus, agar terasa lebih nasionalisme, sejenak melewatkan makan malam bertema Tribute To Heroes. Menyambut hari kemerdekaan RI ke 70 , Allium Hotel Batam menawarkan paket spesial stay offer untuk dua orang termasuk sarapan dan makan malam seharga Rp 678.000,- . Penawaran menarik bagi anda yang tidak memiliki rencana kemana-mana di long weekend.
Selenthem dan Bonang mengiringi sinden berdendang
Makan malam spesial sambil menikmati alunan gending Jawa yang dibawakan langsung oleh para seniman senior bersahaja. Suara sinden mengalun merdu diiringi selenthem dan bonang. Sesekali dentingan siter meramaikan komposisi musik.
Meracik Laksa Bihun – Kudapan andalan malam ini
Hiburan yang tak kalah seru menyaksikan koki meracik dan memasak makanan di pondok-pondok kecil serambi hotel. Pendar aroma gorengan dan kuah laksa memancing penasaran sekaligus rasa lapar.
Sepiring gorengan ubi dan pisang menjadi menu pembuka malam ini. Laksa bihun, terasa lebih ringan dibandingkan laksa mie. Limpahan kuah santan berbumbu seolah tak mampu menembus tekstur bihun. Ketika dinikmati bersama , seolah rasa tawar bihun tetap ada di balik kuah Laksa. Tak berlebihan jika malam ini Laksa menjadi primadona. Karena selain lezat menggoda ada aroma udang yang mengusik indra pengecap dan perasa.
Semur Daging Betawi
Merindukan menu yang lebih menohok lambung dengan sepiring nasi? Jangan khawatir, di dalam ruangan tersaji lauk pauk pendamping nasi putih. Namun yang mencuri perhatian saya semur daging Betawi. Apa sih bedanya dengan semur lainnya. Bukankan semua semur itu sama, limpahan bumbu rempah dan kecap pekat melumuri daging.
Semur daging Betawi merupakan semur paling bercita rasa “wah” dibandingkan semur lain di nusantara. Jika semur Samarinda dan Palembang menggunakan 11 jenis rempah, semur Betawi 14 jenis. Jadi terjawab sudah mengapa rasanya lebih lezat. Dan biasanya disajikan dengan ketupat, sayur pepaya dan kembang goyang.
Pecal , menu favorit saya hadir malam ini. Rebusan sayur mayur membuat rasa bersalah menikmati semangkuk Laksa agak berkurang. Tapi bagaimana dengan saus kacangya? Tak ragu saya menyiramkan saus kacang berkali-kali, agar rasanya makin legit menggigit.
Bagi orang Indonesia makanan lezat identik dengan hari spesial. Jika hari Idul Fitri kemarin kamu menikmati sepiring ketupat bersama opor ayam, rendang, sambal goreng hati, dan kerupuk. Kira-kira tujuh belas agustus-an kamu makan apa? Jangan bilang hanya makan kerupuk. Itu lomba , bukan kuliner spesial.
Tidak ada ide? Merapat yuk ke Allium Batam Hotel
Allium Batam Hotel
Allium Batam Komplek Panorama
Nagoya Batam 29432 Indonesia
t: +62 778 452 888
f +62 778 450 113
contact@alliumbatam.com
Barbeque paling afdol di alam terbuka, seperti halaman rumah atau tepi petan. Akhir pekan ini melewatkan barbeque cantik di Turi Beach Resort. Mau lihatgimana serunya bakar-bakaran daging dan seafood. Yuk mari tonton videonya! Semoga bisa jadi referensi kuliner akhir pekan di Batam. Lanjutkan membaca “[Video] Saturday Fusion B.B.Q. Dinner Turi Beach Resort”