
Buruk di luar manis di dalam itulah durian. Buah khas tropis ini memang penuh kejutan aroma dan rasa legit. Sampai malam pertamapun dianalogikan dengan membelah durian. Apakah benar keduanya sama legitnya.

Buruk di luar manis di dalam itulah durian. Buah khas tropis ini memang penuh kejutan aroma dan rasa legit. Sampai malam pertamapun dianalogikan dengan membelah durian. Apakah benar keduanya sama legitnya.

Perjalanan seharusnya mampu mengasah kepekaan hati. Membuat kita lebih peduli kepada sesama manusia. Serta memberikan kontribusi nyata kepada mereka yang membutuhkan. Bukan menjadikan kemisikinan dan keterbelakangan sebagai objek eksotis penuh estetika.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami”

Rekontruksi fisik fosil Homo Floresiensis yang digambarkan sesuai dengan legenda masyarakat . Mahluk pendek berbulu dengan telinga menjulur dan jalan membungkuk , Ebu Gogo
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta”

“Green…green... (*maksa)“. Ponsel Elyudien berbunyi. Clement menelepon, tidak tahu bicara apa. Elyudien manggut-manggut terus geleng-geleng terus manggut-manggut lagi sambil geleng-geleng (*efek house music dan jalanan berkelok), aneh pasti ada yang ga beres. Harusnya tadi kami berjumpa dengannya di desa tradisional Wologai. Supir Clement yang merekomendasikan kami singgah di Wologai sebelum menuju Ende. Tapi Clement malah menghilang. Mungkinkah Clement ketakutan jadi
berondongtante-tante , suka makankedondongdan naikodong-odong.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green”

Melakukan perjalanan bersama wanita berusia empat puluhan mengingatkan ungkapan “Life Begin At Forty”. Kehidupan dimulai usia 40. Di usia ini biasanya wanita dalam kondisi “settle” secara finansial dan tanggung jawab. Ketika anak-anak sudah dewasa dan sibuk dengan aktivitasnya sebagai pelajar dan mahasiswa. Ibu rumah tangga memiliki waktu untuk dirinya sendiri “me time” . Melakukan hal-hal positif yang mungkin dulu tidak bisa dilakukan ketika anak-anak masih kecil. Sepert Rosi memutuskan berhenti bekerja dan fokus dengan aktivitas bersepeda di alam bebas dan sesekali menjadi freelance editor untuk membiayai hobinya.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At 40”

Jika saya ditanya kapan berhenti travelling. Sulit bagi saya untuk menjawabnya tapi saya mencoba menjelaskan dengan sebuah analogi. Travelling bagi saya seperti membaca buku kehidupan. Ketika selesai membaca halaman pertama maka saya akan penasaran untuk membuka halaman selanjutnya. Dan ironisnya jumlah halaman itu tidak akan pernah habis. Karena ketika kita membalik satu halaman maka jumlah halaman dibelakangnya akan terus bertambah. Dan yang paling gila setiap kata di dalam halaman buku selalu memberi energi baru untuk kembali membaca.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food”

Gelap menyambangi bumi Lorosae. Sepertinya supir taksi tidak menjemput. Tadi siang dia menawarkan untuk menunggu di tempat parkir , tarifnya 20 dollar . Tapi kami memilih diantar lalu dijemput tarif masing-masing 5 dollar. Kami berempat memutuskan berjalan kaki menuju kota sambil menunggu tumpangan. Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili”

Taxi berhenti di persimpangan antara Comoro dan kampung Alor. Jajaran kios pakaian menyapa setiap pengunjung dari sisi jalan selatan,suasananya sangat Indonesia. Konon di sini pusat grosir di Timor Leste. Bangunan semi permanen di depan toko membentuk lorong. Anak-anak kecil menyapa kami dalam bahasa Indonesia dengan sangat fasih. “Anak-anak kamu suka menonton sinetron Indonesia”, ujar seoarang bapak di depan kios, menjawab penasaran kami. Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD”