Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta

Katedral Maria Asumpta
Katedral Maria Asumpta

Rekontruksi fisik fosil Homo Floresiensis yang digambarkan sesuai dengan legenda masyarakat . Mahluk pendek berbulu dengan telinga menjulur dan jalan membungkuk , Ebu Gogo

Boni (25) memacu avanza menuruni jalanan bukit ke selatan , aksinya  heroik dan sangat lelaki takala bermanufer di tikungan tajam tepi jurang.  Birunya Laut Sawu menyempurnakan drama siang ini, mirip iklan minuman energi khusus lelaki. Tentu saja Boni bintang iklannya, kami bertiga cameo-nya. Terbayang kita bertiga sedang diselamatkan jagoan paling keren se-Flores “Boni-Man” . Eh tapi bener Boni keren kok. Hampir di tiap kota di Flores punya cewek, makanya selalu sibuk sms-an. Tapi semenjak jalan dengan kita Boni ga boleh sms-an sambil nyetir. Kalo ketahuan langsung dipecut dengan mami. Kata mami , Boni mau dipecut apa dikelitikin pake golok?

Manufer terakhir Boni ngesot parkir di depan rumah makan Padang Sakato di Aimere. Pas turun dari mobil, orang-orang pada ngeliyatin saya, El dan Mami. Sumpah berasa keren kaya Charlie,s Angels, apalagi pada kompakan pake kacamata item. Bikin Evi, Rosi dan Lucy sirik berat. Emang Charlie’s  Angels ada anggota lak-laki?. Ada dunk Charlie kan laki-laki. *Super Ngeles.

Mata Boni merah ,keringat mengucur deras di dahi. Si Mami curiga Boni mabuk Sofi. Sofi bukan nama wanita gebetan Boni tapi minuman khas Flores. Berasal dari air enau atau nira (Borassus flabellifer) yang difermentasi. Proses pembuatannya cukup mudah, nira yang sudah disadap masukan ke dalam kendi tanah liat besar lalu disuling melalui proses pemanasan. Agar mendapatkan hasil terbaik dilakukan penyulingan bertahap. Masing-masing penyulingan mengahasilkan dua jenis Sofi. Penyulingan pertama dihargai Rp 100.000 per botol air mineral ukuran sedang, sedangkan penyulingan kedua seharga Rp 50 ribu.

Boni mengaku demam karena semalam kurang tidur dan kedinginan di Bajawa.Tapi Si Mami tidak percaya seratus persen. Dugaan sementara Boni mabuk janda, eh sofi. Tapi  perlua bukti kuat. Dosa kalo menuduh tanpa bukti. Untuk mencari barang bukti , singgah di  pabrik Sofi di tepi jalan antara Aimere dan Ruteng. Mencermati pembuatan minuman khas Flores memiliki kandungan alkohol lebih dari 30 persen. Lalu mencocokan aromanya dengan bau badan Boni. Ternyata aromanya berbeda.Gugurlah dugaan Boni mabuk sofi. Dan jangan tanya siapa yang ditugaskan Si Mami mencium aroma badan Boni. *Ngelirik El.

Elyudien ditugaskan mami menggantikamn tugas Boni. Setelah minum jamu tolak angin Boni wajib tidur. Tidak  boleh bangun sedetik pun biar kondisinya cepat pulih karena perjalanan masih jauh. Kalo bangun ancamannya pecut atau kelitikan golok Si Mami. *jreng… jreng…

Butuh waktu tiga jam perjalanan menuju Ruteng setelah melewati terminal Walanggae, Borong,  dan danau  Ranamese. Kami berhenti di pinggir danau berada di sebelah kanan jalan, tapi tidak turun ke bawah karena curam. Suasana tenang dan mistisnya mengingatkan akan danau Lingkat di Kerinci.

Memasuki kota Ruteng kondisi Boni sudah membaik. Anak muda ini kembali bersemengat dan memaksa kembali menjalankan tugasnya karena jalan menuju Liang Bua terlalu sempit, butuh manuver hebatnya. *Cieee Bonie.

Lebih dari 15 rumah yang kami lewati memasang tenda dan memutar musik keras-keras. “Orang-orang di sini suka berpesta ya?” ujar saya terkagum. Boni menjelaskan setelah menerima komuni pertama , anak-anak dipestakan oleh orang tuanya sebagai bentuk rasa syukur. Mereka biasa menyebut sebagai “Sambut Baru”. Karena proses komuni pertama dilakukan bersama-sama di gereja, tidak mengherankan waktu pesta masing-masing keluarga bersamaan. Jadi tidak mengherankan jika sehari ada belasan bahkan puluhan pesta “Sambut Baru”

“Neka Rebo….”, sapa Boni ketika berpapasan dengan pria ditikungan kecil. Dalam bahasa setempat berarti jangan marah. Tapi sebetulnya itu sapaan sehari-hari di sini , jadi jangan heran jika mengucapkan sambil tersenyum. Boni bertutur kita musti hati-hati jika berpapasan dengan “mata merah” – orang mabuk. Biasanya setelah berpesta dan minum sofi akan banyak orang yang tidak memiliki kesadaran penuh di jalan. Jadi teringat mata merah Boni  tadi siang memerah. *Curiga Moden On

Gapura besar “Welcome To Liang Bua” , menyambut  menyusuri zaman prasejarah . Tahun 2001  ditemukan fosil Homo Floresiensis yang tingginya tidak sampai 1 meter  di Liang Bua. Goa berdimensi 40 m x 50 x 25 m  dengan stalaktit menjuntai ke bawah tetap menjadi misteri para arkeolog dunia. Penggalian masih tetap dilakukan untuk merunut jejak sejarah manusia purba di bumi Flores, Hobit. Ternyata mahluk hobit dalam novel epik “Lord Of The Ring karya J. R. R. Tolkien memang benar ada.

Rekontruksi fisik fosil Homo Floresiensis yang digambarkan sesuai dengan legenda masyarakat . Mahluk pendek berbulu dengan telinga menjulur dan jalan membungkuk , Ebu Gogo.  Ebu Gogo pun dikenal sebagai sosok yang sering mencuri makanan penduduk dengan sembunyi-sembunyi ,  masuk kedalam rumah untuk mencari makanan.
Senja menutup perjalan di Liang Bua tapi Si Mami masih penasaran. Musik menghentak keras  tanda pesta Sambut Baru belum usai. Mobil tiga wanita -Rosi, Evi dan Lucy- sudah melaju kencang menuju kota. Menuntaskan penasaran si Mami kita singgah di salah rumah. Berkenalan dengan warga dan ikut ajojing dalam iringan lagu “Ata Kaing”. Sambutan pemilik rumah , Ale Habour luar biasa seolah kami tambu besar yang sudah dinanti. Berkali-kali  menawari makan dan  sofi sebagai bentuk penghormatan. Lalu menari bersama Yohanes (10) yang baru saja menerima komuni pertama.

Tiga wanita menanti kami di ujung jalan arah kota. Dengan wajah lugu Elyudien menjelaskan mobil kita mogok. Saya dan Mami diam di jok belakang , tidak mau terlibat dalam kebohongan. Padahal kebohongan ini kita rencanakan bertiga, eh berempat dink, Boni juga ikutan. *Hmmm, mata merah semua nih.

Malam ini  bermalam di rumah Bapak Aloysisu Djemahir, orang tua rekan Evi. Masyarakat Ruteng memiliki budaya menghargai tamu. Kami dijamu makan malam dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan kehangatan minuman sofi. Kehadiran sofi (tante Sofie kata El) cocok dengan udara dingin Ruteng. Pada musim kemarau   suhu udara bisa mencapai 8 derajat celcius. Jadi tidak ada salahnya meneguk satu sloki untuk menghangatkan tubuh. *Asal jangan mata merah.

Tiga wanita – Rosi, Evi dan Lucy – mengajak saya wisata malam. “Kapan lagi keliling Ruteng, besok kan udah jalan,” Rosi meyakinkan.  Panas komporan-nya mengalahkan hawa dingin di Ruteng. Pukul 10 malam  , kita keluar rumah sambil berjingkat (takut Elyudien denger dan pengen ikut)menembus gelap dan sepinya kota Ruteng. Walaupun momennya tidak pas menyempatkan berfoto di Katedral Maria Asumpta. Lalu bergerak ke kampung tradisional Pu’u.  Aura mistis terasa setelah melewati komplek pemakaman sebelum masuk  kampung. Sumpah, kalau engga emak-emak ini maksa, saya tidak ikut. Beneran ada sesuatu, buktinya beberapa hasil foto menunjukan lingkaran putih energi mirip acara “Masih Dunia Lain”. *Hiks, pulang yuk mak.

Tidur malam dan bangun pagi bagian ritme perjalanan ini. Seolah tidak ingin membuang waktu dan momen berharga. Kami semua sudah siap melanjutkan perjalanan, hanya Clement masih pulas tertidur. Bule memang susah bangun pagi , atau kebanyakan minum sofi semalam. “Coba El, diperiksa ada bau sofi ga di keteknya”. Sebaris kalimat jebakan batman buat Elyudien .*nguikkkk

Selain nasi dan lauk pauk, keluarga Bapak Aloysisu Djemahir menyediakan sarapan spesial khas Ruteng, roti kompiang. Bentuknya bulat kecil mirip bakpau dan teksturnya kasar karena dipanggang. Atasanya ditaburi wijen menebarkan aroma gurih. Terkadang diisi daging dan biasa dinikmati bersama teh panas hangat. Atas ijin pemilik rumah saya membungkus roti-roti yang tidak termakan pagi untuk dibawa. *modus backpacker gembel.

Terimakasih Bapak Bapak Aloysisu Djemahir dan keluarga, sambutan dan jamuan menghangatkan hari-hari di Ruteng berudara dingin.

belanja di pasar Aimere, pesisir selatan
belanja di pasar Aimere, pesisir selatan
proses pembuatan Sofi
proses pembuatan Sofi
Danau Ramanese , lintas jalan Aimere-Ruteng
Danau Ramanese , lintas jalan Aimere-Ruteng
memancing di danau Ranamese
memancing di danau Ranamese
Liang Bua, Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai
Liang Bua, Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai
staklatit Liang Bua
Stalaktit  Liang Bua
 pusat informasi wisata Liang Bua
pusat informasi wisata Liang Bua
anak anak Liang Bua (kiri) ; Yohanes baru menerima komuni pertama (kanan)
anak anak Liang Bua (kiri) ; Yohanes baru menerima komuni pertama (kanan)
bersama ajojing pesta Sambut Baru
bersama ajojing pesta Sambut Baru
sambutan hangat di rumah Bapak Aloysisu Djemahir
sambutan hangat di rumah Bapak Aloysisu Djemahir
wisata malam (horor) kampung tradisional Pu'u
wisata malam (horor) kampung tradisional Pu’u
roti kompiang khas Ruteng
roti kompiang khas Ruteng

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

35 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s