Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At 40

Life Begin at Forty - Rosi, Lucy, Evi dan Bu Herlina
Life Begin at 40

Melakukan perjalanan bersama wanita berusia empat puluhan mengingatkan  ungkapan “Life Begin At Forty”. Kehidupan dimulai usia 40. Di usia ini biasanya wanita dalam kondisi “settle” secara finansial dan tanggung jawab. Ketika anak-anak sudah  dewasa dan sibuk dengan aktivitasnya sebagai pelajar dan mahasiswa. Ibu rumah tangga memiliki waktu untuk dirinya sendiri “me time” . Melakukan hal-hal positif yang mungkin dulu tidak bisa dilakukan ketika anak-anak masih kecil.  Sepert Rosi  memutuskan berhenti bekerja dan fokus dengan aktivitas bersepeda di alam bebas dan sesekali menjadi freelance editor untuk membiayai hobinya.

Usai makan siang kami meninggalkan komplek paroki Wolofea kembali menuju Maumere. Menjemput Lucy, sahabat Evi dan Rosi di bandara Frans Seda. Jalan dengan empat  orang wanita usia 40an? De Ja vu, mirip   film “Sex and The City 2”. Jika Sarah Jessica Parker dan teman-temannya  travelling ke Dubai  dengan gaya premium. Rosi , Evi, Bu Herlina dan Lucy menyusuri Dili-FLores dengan ber-backpacking ria. Tas yang dibawa bukan keluaran Louis Vuitton, Prada atau Guci tapi  ransel besar bermerk Karemor. Tanpa high heels dan make up tapi jelas dengan berondong, saya dan El. *tsaaahhhhhh

Wanita dan tas tidak bisa terpisahkan, ada hubungan batin antara keduanya. Apalagi jika semua peralatan “lenong” dan “dendong” ada di dalamnya. Lebih baik ga bawa dompet daripada dompet. Ya, iyalah orang dompetnya ada di dalam tas. Kepanikan melanda Lucy di bandara siang ini. Ransel besarnya salah masuk pesawat ketika transit di Bali. Sekarang semua barang bawaannya sudah sampai di Labuan Bajo terlebih dahulu.

Pihak maskapai berjanji akan mengantarkan tas jika sampai di Maumere. Tapi mau dihantar kemana, sampai 6 hari ke depan kita akan bergerak terus. Mulai dari Moni, Riung, Bajawa, Ruteng, Wae Rebo dan Labuan Bajo. Setelah berdiskusi akhirnya barang akan dikirimkan ke hotel Aries tempat kami menginap di Bajawa. Terus baju selama tiga hari ke depan? Tenang Bu, di Ende ada pasar besar kita bisa belanja di sana. Bukankan ini alasan yang tepat untuk belanja saat jalan-jalan.

Menjelangg sore kami melewati kecamatan Nita di pesisir selatan Pulau Flores. Jalan aspal Maumere-Ende berganti dengan jalan berbatu ketika menuju Sikka. Aroma laut mulai tercium memasuki Desa Lela, rumah beratap daun kelapa berjajar di tepi pantai Laut Sawu yang berujung di pesisir utara Australia. Matahari sudah condong di barat menyisakan semburat kekuningan. Lalu terbenam ketika kami sampai di halaman gereja Sikka.

Gereja Sikka menjadi bagian sejarah perkembangan agama Katolik di Flore , Nusa Tenggara Timur. Dibangun mulai 1893 dan diresmikan Pastor J Engbers SJ pada 24 Desember 1899 dengan arsitektur khas Eropa abad ke 19. Dinding bagian dalam gereja dipenuhi ornamen motif tenun khas Sikka yang terkenal. Bentuk perpaduan alkuturasi budaya lokal dan Eropa.

Menjelang pukul 19:00 waktu setempat , melanjutkan perjalanan menuju Moni. Berharap sebelum tengah malam sudah tiba di sana. Istirahat sejenak sebelum besok pagi menyambangi danau tiga warna Kelimutu.

Banyak orang yang bilang bahwa di desa Paga, di  tepi jalan Raya Maumere terdapat rumah makan Laryss. Konon di sana menyediakan seafood lezat dengan view pemandangan tepi pantai yang indah. Sayang sekali ketika melewatinya sudah malam. Tapi beruntung malam ini kami bisa menimkmati sajian khas laut bersama beras merah . Menu makan malam pemulih stamina , menyehatkan tapi tidak boleh terlalu banyak kalori. Maklum jalan dengan ibu-ibu harus jaga penampilan, tidak boleh terlalu gemuk. *wakakkakakak

tiga sahabat - Rosi, Evi dan Lucy
tiga sahabat – Rosi, Evi dan Lucy
semangat trekking di bukit terjal menuju Wae Rebo
semangat trekking di bukit terjal menuju Wae Rebo
semangat bersnorkling di Taman Laut 17 Riung
semangat bersnorkling di Taman Laut 17 Riung
semangat muda di usia 40-an
loncat bersama – semangat muda bersama anak muda
Gereja Tua Sikka - saksi sejarah agama Katolik di Flores
Gereja Tua Sikka – saksi sejarah agama Katolik di Flores
altar dihiasi motif tenun Sikka
altar dihiasi motif tenun Sikka
menu "Laryss" - nasi merah dan seafood
menu “Laryss” – nasi merah dan seafood

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s