Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu

Clement , wisatawan Perancis di Danau Kelimutu
Clement (28) di  Gunung Kelimutu

Dalam balutan udara dingin  kami terkantuk-kantuk  menuju Taman Nasional Gunung Kelimutu. Maklum saja saja, semalam hanya tidur 4 jam setelah drama cari penginapan paling murah se-Moni. Ya , ini kan backpackeran ibu-ibu (saya dan El ga diitung) jadi harus hemat. Tidak sia-sia setelah mondar-mandir bawa ransel besar ala Ayu Ting Ting kita dapat penginapan bagus setengah harga. Alasannya , kita kan cuma pake kamaranya 4 jam, pake kamar mandinya 1 jam, lobinya 4 jam. Berasa short time uey!

 

Sempat mendengar kabar, setelah upacara Lio Pati Ka Ata Mata – memberi makan pada orang meninggal – kawasan Taman Nasional Gunung Kelimutu ditutup semantara , kalaupun dibuka siang hari. Tapi jika siang tidak mendapat sunrise dan biasanya kawah danau tertutup kabut. Dengan semangat 40-an (deket dengan semangat 45) kita tetap berangka trekking ke Kelimutu pagi-pagi buta. Guide-nya pria paruh baya bernama Markus. Beliau wanti-wanti berpesan agar tidak terpisah dari rombongan, apalagi jalan sendirian menuju hutan dekat danau. Karena monyet-monyet di sana agresif dan akan menyerang jika merasa terganggu

Kami berjalan dalam kegelapan diterangi senter. Langit tak ada bintang hanya ada satu bulan sabit. Lambat-laun semburat jingga muncul dari balik bukit . Langkah harus dipercepat agar tidak ketinggalan sunrise. Elyudien sudah jauh naik ke atas bukit, tak sabar mewujudkan impian semasa SMA yang sempat tertunda.  Saya masih mengatur napas satu-satu menaiki anak tangga, sedangkan  para wanita berjalan di belakang . Jantung terasa berdetak semakin kuat, rasa bahagia dan lelah berbaur jadi satu.

Berada di ketinggian 1.690 m dpl menyaksikan keajaiban alam Danau Tiga Warna, anugrah terbesar hari ini. Berdiri di antara kawah “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai”, “Tiwu Ata Polo” dan “Tiwu Ata Mbupu”. Guide bercerita setelah upacara Lio Pati Ka Ata Mata warna kawah  Tiwu Ata Polo – tempat berkumpul jiwa orang  selama  hidup melakukan kejahatan – berubah dari merah ke putih. Masyarakat setempat meyakini perubahan ini pertanda alam akan terjadinya “sesuatu” seperti bencana. Sedangkan para ilmuwan  menyimpulkan  fenomena terjadi karena perubahan komposisi kandungan kimia berupa garam, besi, sulfat, mineral lain, serta tekanan gas aktivitas vulkanik, intensitas sinar matahari .

Kicauan burung garugiwa  (Pachycephala nudigula) menyambut pagi bersama terbitnya mentari. Semua orang sibuk mengabadikan momen indah di puncak tugu pemantau. Rasa penasaran menuntun Elyudien menuju hutan dekat kawah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai. Mengawali perjumpaan dengan Clement, wisatawan asal Perancis. Meskipun guide mengingatkan untuk tidak turun , tapi keindahan arboretum telah menggoda kedua pria ini.

Jiwa -jiwa petualang selalu ingin tantangan. Elyudien turun ke kawah, kawasan berbahaya bagi pengunjung. Dinding kemiringan 70 derajat dan struktur tanah labil bisa longsor kapan saja. Berkali-kali kami mencoba menghubunginya melalui ponselnya tidak diangkat. Rasa khawatir menyesak ke dalam dada, membayangkan yang mungkin terjadi.  Clement sudah muncul tapi Elyudien tidak tampak. Apa yang terjadi?

Teriakan kami memantul di antara dinding- dinding kawah memanggil namanya.  Sejenak terdengar desir angin menyentuh daun arngoni (Vaccinium varingiaefolium) – tumbuhan para dewa. Suara  keras  mengusik kawanan kera ekor panjang (Macaca fascicularis), mereka ikut berteriak agresif. Kami berjalan menghindar monyet-monyet berwajah garang.

Tidak berapa lama Elyudien muncul dan bercerita. Bertemu wisatawan asal Rusia yang galau berat, gara-gara paspornya hilang di Labuan Bajo. “Daripada tuh bule tau-tau loncat ke kawah, mending gua ajakin ngobrol”, ujarnya ringan.

“Terus bule yang ini mau kita apain?”, ujar Rosi sambil ngelirik Clement.

“Kalo yang berondongan gini mah dibawa  aja, buat di jalan”, Eva menjawab ringan lalu disusul ketawa Evi, Rosa dan Lucy. Clement bingung, pasang muka super lugu.

Berondong? I know what you said“, Clement menjawab. Evi, Rosi dan Lucy kaget. Di awal perkenalan pria berusia 28 tahun mengaku 3 tahun tinggal di Manila. Tapi tiba-tiba mengerti Bahasa Indonesia.

“Clement  pernah tinggal di Jakarta 6 bulan, ngerti dia berondong”, Elyudien buka rahasia sambil ngakak. Clement cengar-cengir sok keren, merasa menang.

Tiga wanita langsung diam seribu bahasa. Sunyi.  Sesunyi Gunung Kelimutu yang mulai ditinggalkan pengunjung, kawah-kawahnya ditutupi kabut. *jlebbbb, nyesek!!!!

pagi tanpa mentari di Kelimutu
pagi tanpa mentari di Kelimutu
sunrise di Taman Nasional Kelimutu
sunrise di Taman Nasional Kelimutu
Kawah Danau dan Sunrise
Kawah Kelimutu dan Sunrise
Elyudien - impian terbesarnya mengunjungi Kelimutu terwujud
Elyudien – impian masa SMA mengunjungi Kelimutu
Tiwu Ata Polo - tempat berkumpulnya jiwa-jiwa semasa hidupnya melakukan kejahatan
Tiwu Ata Mbupu – tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal
anak tangga menuju tugu
anak tangga menuju tugu
penunjuk arah - agar wisatawan tidak tersesat
penunjuk arah – agar wisatawan tidak tersesat
vegetasi di Gunung Kelimutu
vegetasi di Gunung Kelimutu
Elyudien dan wisatwan Rusia turun ke kawah
Elyudien dan wisatwan Rusia turun ke kawah
monyet liar nan nakal di Kelimutu
monyet liar dan  nakal di Kelimutu

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

40 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.