Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai

Desa Wologai - antara Ende dan Moni
Desa Wologai

(05/09/2012) Perjalanan panjang melintasi bumi Flores, mengantar kami ke sebuah kampung adat bernama Wologai. Setelah menikmati satu malam dingin di Moni dan menjejakan kaki di Taman Nasional  Kelimutu dalam balutan gigil angin pegunungan. Siang ini mendapat sambutan hangat warga Wologai di Desa Wologai Tengah , salah satu desa di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Pohon besar di ujung desa  menjadi pintu gerbang memasuki undakan dan jalan berbatu. Tebaran senyum ramah  penduduk menawarkan rasa lelah , sebelum melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional 17 Riung. Cicilia (20) menyambut kami dengan salam, selamat siang. Dengan fasih gadis ini menjelaskan adat-istiadat  Wologai bagian dari suku Lio Ende yang pernah mendiami Gunung Lepembusu.

Letak geografis Desa Wologai Tengah berada di ketinggian 1045 dpl dan bersuhu rata-rata 35 derajat Celcius. Luasanya kurang lebih 64 kilometer persegi dan memiliki empat buat dusun yaitu: Wologai, Faunaka, Resetlemen dan Pasado’o. Sebagian besar masyaraktnya mengantungkan diri dari hasil pertanian seperti: kopi, padi, kemiri dan cengkeh.

Hari ini para Mama sibuk mempersiapkan upacara pengangkatan Mosalaki atau Lakimosa (tetua adat) berdasarkan garis keturunan  baru. Bisa dari garis keturunan ibu (matrilinear) atau dari ayah  (patrilinear).

Susu Nggua Nama Bapu, Sakiwa Sedeka Ma’e Duna Rewo, Susu Ma’e Du’u Nama  Dute.  Sebuah kalimat dalam bahasa Suku Lio yang sarat makna, menjadi sebuah pegangan bagi masyarakat dalam Komunitas Adat di Wologai. Kalimat yang dapat diartikan bahwa Pesta Adat -Nggua artinya Pesta dan Riaartinya Besar- setahun sekali wajib dilaksanakan dan jangan terputus  secara turun temurun.

Puncak ritual adat yang dilakukan selama dua minggu lebih ini adalah Gawi, tarian masal suku Lio termasuk Wologai dimulai pada malam tanggal 8 September hingga sore 9 September. Di Wologai, ritual gawi dilaksanakan di puncak bukit situs kampung bernama Kanga/Hanga tepat didepan sebuah bangunan khas Lio bernama Keda dan ditengahnya terdapat tubu musu (batu) dan pada bagian bawahnya dikelilingi oleh 7 buah rumah adat.

Beberapa hari sebelum gawi dilakukan pembersihan Kanga dilakukan oleh orang-orang tertentu. Inilah satu-satunya kesempatan untuk melihat melalui jendela bagian dalam bangunan yang dikeramatkan tempat menyimpan alat musik dan perlengkapan adat.

Sayang sekali kami tidak dapat singgah lama dan menyaksikan  rangkaian ritual adat Wologai. Namun  jamuan makan siang dibalut kehangatan ramah tamah warga  mengakhiri  perjumpaan sekaligus perpisahan yang manis.

Satu bulan kemudian (9/10/2012), sebuah kabar buruk dari Wologai tersiar. Bangunan desa adat didiami 15 kepala keluarga dan 75 warga musnah dilahap si jago merah. Sebuah kenyataan pahit bahwa kehilangan satu kekayaan budaya nusantara.  Ada kegetiran membayangkan 18 buah rumah adat berarsitektur unik lenyap meninggalkan puing-puing.  Kini desa tradisional Wologai tinggal kenangan.

gerbang - pohon besar dan batu berundak
gerbang – pohon besar dan batu berundak
para Mama sibuk menyiapkan pesta
para Mama sibuk menyiapkan pesta
sapa Mama dari jendela dapur
sapa Mama dari jendela dapur
Elyudien dan manula Wologai
Elyudien dan manula Wologai
kerajinan tangan warga Wologai
kerajinan tangan warga Wologai
Elyudien bersama calon Mosolaki
Elyudien bersama calon Mosolaki

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

37 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.