Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green

Pantai Batu Hijau, Nusa Tenggara Timur, Flores
Pantai Batu Hijau

Green…green... (*maksa)“. Ponsel Elyudien berbunyi. Clement menelepon, tidak tahu bicara  apa. Elyudien manggut-manggut terus geleng-geleng terus manggut-manggut  lagi sambil geleng-geleng (*efek house music dan jalanan berkelok), aneh pasti ada yang ga beres. Harusnya tadi kami berjumpa dengannya di desa tradisional Wologai. Supir Clement  yang merekomendasikan  kami singgah di Wologai sebelum menuju Ende. Tapi Clement malah menghilang. Mungkinkah Clement ketakutan jadi  berondong tante-tante , suka makan kedondong dan naik odong-odong.

 

“Ada apa El”, tanya saya mencoba mencari jawaban. Elyudien diam tapi tangannya sibuk mengetikan sejumlah pesan singkat. Percakapan di telepon berlanjut  berbalas pantun via sms. Si Mami (Bu Herlina) tertidur pulas di jok belakang,  sesekali bersin dan batuk . Trekking dua hari membuat kondisi tubuhnya menurun. Mobil Rosi, Evi dan Lucy melesat terlebih dahulu menuju Ende.

“KITA KETEMU DI PANTAI BATU HIJAU”, pesan singkat Rosi via BBM. Awalnya kami bertiga tidak ingin singgah di Ende. Tapi Bu Herlina butuh obat flu dan vitamin. Gunung meja menyambut memasuki ibukota Kabupaten Ende .Apotik satu-satunya tempat kami singgah . Si Mami bete berat, menghadapi petugas apotik berprilaku bak seorang dokter. Setelah memeriksa kondisi fisik konsumen lalu merekomendasikan obat yang harus dibeli. Mungkin di sini tidak banyak dokter jadi penjual  harus membantu konsumen memilih obat. Lagian yang dijual obat flu bukan obat jantung.

Pemandangan pantai pesisir selatan di jalan Ende-Bajawa menambah daftar keunikan Bumi Flores. Batu-batu berwarna hijau tersebar di bibir pantai. Para “pidi watu” – pengumpul batu – sibuk memilah batu, kebanyakan mereka wanita dan anak-anak. Dua sahabat , Ali dan Ara setiap pulang sekolah selalu bekerja sebagai pidi watu, memilah batu berdasarkan bentuknya. Batu bulat dihargai 25 ribu per karung sedangkan yang pipih 50 ribu.

Batu hijau merupakan sumber rejeki bagi penduduk yang tinggal dekat pantai Sarakakak, Nganaroro, Kabupaten Nagekeo. Konon batu-batu  ini tidak pernah habis. Ombak besar bulan Januari-Februari membawa kembali bebatuan dari dasar samudra menuju pantai Sarakaka, Aeawe dan Nangamboa. Berdasarakan data Gerdapala (Gerakan Muda Pecinta Alam) dari dua kawasan Pantai Penggajawa dan  Ndorurea jumlah batu yang diekplotasi 417 kg/hari, berarti 1.500 ton/tahun. Jika dikumpulkan mungkin dalam kurun waktu 100 tahun  batu-batu ini sudah bisa menjadi bukit. 

Rosi, Evi dan Lucy muncul sambil tertawa riang, mereka baru tiba dari Ende. Belanja selalu bikin wanita bahagia dan pria-pria menanti sambil merana kesepian (*Saya dan Elyudien). Untung nunggunya di pantai sambil memandang pantai dan deburan  ombak laut selatan (*tsahh). Si Mami kembali tidur di mobil setelah menelan obat flu pilihan tukang apotik yang sok tahu. Dan keberadaan si bule Perancis tetap jadi misteri. Hanya Tuhan dan Elyudien yang tahu.

Agak sulit menemukan sayuran berwarna hijau di Flores. Beberapa kali makan selalu saja hadir  sawi putih.  Setia  menemani kami dalam bentuk mie rebus, mie goreng sampai tumisan sawi (*la iyalah). Tantangan berat menikmati makanan lokal. Beruntung perjalanan ke utara menuju Riung menemukan rumah makan  menu variatif.  Primarasa , rumah makan di Nagekeo Mbay Flores mengabulkan doa kami atas makanan lokal bercita rasa interlokal (*telepon kali). Tapi benar di sini Si Mami jadi semangat, menemukan sayuran berwarna hijau meskipun si sawi masih muncul dalam wujud lain, capcay.

Elyudien  diinterogasi , kami semua menanyakan kemana  Clement. El bercerita bahwa Clement sudah sampai Riung. Dia curhat supirnya tidak memberikan kesempatan singgah di Wologai dengan alasan takut kemalaman sampai Riung. Intinya bule lucu nan imut (*kata ibu-ibu lho) di bully secara psikologis. Diintimidasi tidak boleh jalan bareng wisatawan lokal karena katanya ada peraturannya , apalagi share cost. Padahal besok kita mau sewa kapal bareng.

Si Mami yang lagi asik makan cap cay langsung emosi dengernya. “Tenang biar drivernya si Clement gue yang urus. Ajakin aja Clement bareng kita”. Sejak malam ini resmi si Clement jadi anak-anaknya Si Mami kaya kita-kita. Wajah Rosi, Evi dan Lucy langsung berbinar. (*tringgggg). Gara-gara pesenan ikan bakarnya dateng. (*jah ngeles)

Perjalanan dari Mbay Ke Riung ternyata masih jauh, meskipun pemandangan kerlip kota dari atas bukit indah tapi cukup melelahkan. Apalagi mobil  sempat terperosok ke lubang karena minimnya penerangan jalan. Jelang tengah malam sampailah kita di penginapan Nirawan dan langsung tewas di atas ranjang. *zzzzzzzzzzzz

“Green… green…”. Ponsel Elyudien  berbunyi.

Yellow ini siapa ya?”, jawab El dalam mimpi. (*hush tidur ga usah pake ngigo)

Batu hijau - terbawa ombak saat pasang
Batu hijau sumber rejeki bagi warga sekitar
ombak besar membawa batu hijau dari dasar samudra
ombak besar membawa batu hijau dari dasar samudra
wanita pengumpul batu hijau
wanita pengumpul batu hijau
dua sahabat pengumpul batu hijau
dua sahabat pengumpul batu hijau
Capcay - Rumah Makan PrimarasaNagekeo Mbay
Capcay – Rumah Makan Primarasa Nagekeo Mbay
Sawi Putih  selalu setia hadir dalam menu
Sawi Putih selalu setia hadir dalam menu

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

34 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s