Nusa Tenggara Timur, Travelling, Video

Selebew Bareng KolaboraSea di Taman Nasional Komodo

Halan-halan ke Labuan Bajo kali bukan karena harga mumpung belum naik menjadi 3,75 rupiah juta tapi perjalanan KolaboraSea yang didukung oleh Direktorat Perhubungan Laut.

Trip Hadiah Lomba Video

Beruntung awal tahun 2022 memenangkan lomba video berteman Nataru (Natal dan Tahun) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Hadiahnya jalan-jalan kece di Labuan Bajo, uhuy!

Ternyata perjalanan mudik ke Lampung membawa rejeki, video yang awalnya dibuat untuk dokumentasi pribadi, akhirnya menjadi materi lomba dan alhamdulilah menang. Bersama 9 orang pemenang lainnya bakal jalan-jalan ke destinasi wisata super favorit Taman Nasional Komodo.

Jujurly aku tuh kangen banget sama Labuan Bajo, setelah terakhir ke sana lima tahun lalu melalui pelayaran dari Lombok. Kira-kira seperti apa ya Labuan Bajo kini? Kondisi Taman Nasional tahun 2017 berbeda dibandingkan dengan kunjungan saya pertama kali tahun 2012. Berharap setelah alam tidur karena pandemi, terumbu karang yang mengalami bleaching kembali sehat.

Famtrip Pertama

Hayo siapa travel blogger yang kangen halan-halan gratis. Tidak banyak instansi atau pihak yang memberikan kesempatan blogger untuk jalan-jalan gratis, apalagi di saat pandemi. Adapun famtrip biasanya undangan terbatas berdasarkan kedekatan atau pertemanan, bukan dari pihak agensi yang melakukan seleksi.

Programnya pun berubah tidak hanya mengundang mereka yang mampu menulis tapi juga membuat video selama perjalanan. Banyak yang berubah dengan dunia konten mengkonten. Karena sejujurnya orang lebih suka melihat konten video pendek di media sosial dibandingkan tulisan panjang dan lengkap di blog.

Kemampuan literasi bangsa ini pada akhirnya mengubah selera pasar. Lalu apakah blogger kehilangan pasar. Semua tetap punya pasarnya sendiri tapi tidak ada salahnya blogger mengembangkan kemampuan membuat konten video. Kepuasan klien nomor satu, kalau bisa memberikan ulasan di blog dan video kece di media sosial, mengapa tidak?

Famtrip kali ini akan jalan bersama konten kreator video dan panitia meminta agar setiap hari ada satu video siap unggah di feed instagram, bukan video mentah seperti di instastory.

Pelabuhan Labuan Bajo semakin keren.

Di balik jalan-jalan seru ada jiwa-jiwa haus konten yang setia merekam video dan mengambil foto, demi memuaskan netizen dan memberi makan feed instagram. Walau kami paham tak semua orang senang dengan postingan kami, tapi selalu ada yang kepo hari ini aku makan apa atau jalan-jalan kemana.

Wajah Baru Pelabuhan Penumpang Labuan Bajo

Salah satu tujuan teman-teman KolaboraSea diajak piknik ke Labuan Bajo adalah memperkenalkan wajah baru pelabuhan Labuan Bajo. Dulunya pelabuhan penumpang dan barang menyatu di Pelabuhan Labuan Bajo. Namun sekarang untuk barang dipusatkan di Wae Kelambu sedangkan pelabuhan penumpang dan wisata di Marina Labuan Bajo.

Kawasan ini juga menjadi pusat industri kreatif dan ruang publik yang dilengkapi panggung atraksi. Pelabuhan sudah menggunakan sistem digitalisasi dengan diterbitkan aplikasi bernama DigitalSPB.id. Sistem itu digunakan untuk pelaku usaha yang akan mengajukan permohonan surat persetujuan berlayar (SPB), khususnya bagi kapal wisata.

Island Hoping Taman Nasional Komodo

Jalan-Jalan ke Taman Nasional Komodo kali ini berbeda dengan dua perjalanan sebelumnya, karena kali ini tanpa LOB (live on boat). Sejak pukul 5 pagi kami sudah bersiap di pelabuhan untuk melakukan pelayaran mengejar sun rise di pulau Padar.

Walau matahari muncul saat kami di kapal tapi Taman Nasional Komodo terlihat cantik pagi ini. Bukit kecil dengan lengkung bagai riak air menjulang dalam alunan sabana kuning membuat saya tak mampu berpaling :D. Kalau boleh sih liburannya lebih panjang lagi.

Ketika sampai pulau Padar, siapa yang mampu menolak ajakan untuk melihat keindahan dari atas bukit walau harus dibayar dengan menaiki 815 anak tangga. Beruntung cuaca pagi tak terlalu panas dan antrean tak mengular, tapi jalur sudah dipenuhi pelancong yang datang terlebih dulu.

Padar tak seperti 5 tahun lalu apalagi 10 tahun lalu ketika pertama kali menyambangi TNK (Taman Nasional Komodo). Pulau ini seperti pulau pribadi tanpa ada pengunjung lain, hanya kami seisi kapal. Kami pun bebas berlari di pantai karena tak ada orang. Sekarang teluk kecilnya dipenuhi kapal pelancong, mulai dari speed boat sampai pinisi.

Sebelum naik pelancong dibriefing terlebih dahulu dan didampingi saat naik. Drone tak diijinkan bebas mengudara tanpa ijin. Tapi yang menyenangkan anak tangganya sudah permanen tidak seperti dulu yang terbuat daribatu yang disusun, salah melangkah bisa terperosok.

Tak perlu saya ceritakan betapa totalitasnya kami melakukan sesi pemotretan di puncak Padar. Kalau bisa bisa membuat stok konten satu tahun Bestie. Semua outfit dipakai, semua pose dijabanin, dari yang lugu sampai ala next top model.

Persinggahan berikutnya pulau Komodo yang ikonik. Wajah pulau ini jelas berbeda dibandingkan dengan 10 tahun lalu terutama pendukung transportasi laut seperti bangunan pelabuhan yang memudahkan pelancong naik turun ke kapal.

Pulau ini juga memiliki kantor pelayanan bersama : bea cukai, imigrasi, karantina, KSP dan Taman Nasional Komodo. Ini memudahkan kapal-kapal asing yang akan menjelajah perairan Taman Nasional Komodo.

Bersama teman-teman KolaboraSea melakukan tracking jalur menengah untuk menjumpai danyang pulau ini Komodo. Karena sedang musim kawin, lebih banyak komodo yang bersembunyi menikmati momen bulan madu dengan pasangan. Jika ada komodo yang berkeliaran sendiri sudah dipastikan dia jomblo.

Begitu ada yang terlihat jomblo langsung menjadi objek foto pengunjung. Bayangkan betapa malangnya nasib komodo itu, sudahlah jomblo lalu dijadikan objek foto.

Penutup manis one day trip kali ini adalah pink beach yang warnanya memang matching dengan kostum kita hari ini. Walaupun wajah gosong terbakar sinar matahari tapi semua happy tho?

Saya pribadi lebih menikmati pulau merah jambu ini dengan leyeh leyeh walaupun peralatan underwater sudah siap seperti kamera go pro. Tapi aku lelah Bestie, ingin menikmati alam tanpa kata alias bengong di pinggir pantai tanpa gawai.

Ya gawai hanya bisa untuk merekam video atau foto, di sini nggak ada sinyal :D. Nah kalau begini berasa liburan kan? Upload foto pikniknya kalau sampai di kota saja nanti.

Sebelum matahari terbenam kami sudah merapat di Pelabuhan Labuan Bajo tapi. Sebagai bentuk kepedulian anak-anak KolaboraSea dengan alam, kami menyerahkan kotak sampah ke KSOP Labuan Bajo yang nantinya akan ditempatkan di pelabuhan baru.

Meski perjalanan ini singkat tapi memberikan banyak pengalaman berharga. Labuan Bajo semakin cantik dengan fasilitas transportasi yang semakin mumpuni. Kota ini tak hanya dipoles tapi sistem transportasi dibuat moderen, melewati pelabuhan Labuan Bajo saya jadi teringat pelabuhan di Singapura. Ah rasanya kita harus bangga punya destinasi seindah ini dan didukung dengan fasilitas kelas dunia.

Penasaran dengan keseruan perjalanan kami 3 hari dua malam di Labuan Bajo , simak kisah lengkapnya di vlog panjang berikut.

Terimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung famtrip KolaboraSea , terutama Direktorat Jendral Perhubungan Laut, semoga ada trip kelanjutan untuk mendokumentasikan fasilitas transportasi laut di seluruh nusantara. Salam KolaboraSea Selebew!!!

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s