Single itu pilihan, jomblo itu takdir sedangkan jablai itu ujian. Semakin ke sini banyak teman kerja yang nasibnya men-jablai (jarang dibelai). Aku nggak tahu ini kutukan apa kutekan *ngecat kuku*. Tercatat setidaknya ada lima orang di kantor berstatus jomblo permanen dan temporer. Ada yang ditinggal suami bertugas dan yang paling banyak meninggalkan istri . Tapi paling epik , ditinggal istri mudik yang keterima PNS di kampungnya, nun jauh di Nias. *nangis*
Karena merasa senasib, om-om jablai akhirnya sering kumpul bareng, mulai dari karaoke, nonton , sampai akhirnya terbersit keinginan membuat gank Omjay, Om jablai. Lanjutkan membaca “Omjay Trip – Bintan One Day”
Malam panjang datang menjelang, bukan berarti mereka yang belum menemukan pasangan pantang bahagia. Bahagia tak harus berdua, bisa saja sendiri atau beramai-ramai, bersama menikmati malam panjang dengan barbeque. Lanjutkan membaca “Saturday Night , Beach & Barbeque”
17 Agustus 2015 – Senja baru saja menaungi Tarempa ketika sauh diturunkan. Dalam rona temaram jingga kembali berlayar ke Durai melalui pelabuhan pemda. Raut ragu sang nakoda seolah tertutup kelamnya malam. Ia memilih diam takut mengecewakan kami yang terlanjur bersemangat.
“Malam ini kita ngintip penyu bertelur yuk!”
“Tapi kayanya moto bintang seru, langitnya nggak bocor.”
Segudang rencana pun terujar tanpa pernah sadar ada bahaya besar menghadang. Dalam hitungan menit speed boat terguncang hebat membentur gelombang. Saya masih bisa tersenyum lebar, seolah laut sedang menyapa dan ingin bermain.
senja di Teluk Tarempa
Berikutnya tak ada yang mampu berkata ketika gelombang besar masuk dari geladak depan memuntahkan air asin.
“Byur!!!” Pakaian di badan hingga barang bawaan kuyup tersapu air. Melaju perlahan bukan pilihan tepat, berkali-kali gelombang mengombang-ambingkan tanpa arah.
“Tak mungkin kita merapat ke Durai. Tapi kembali juga lebih tak bisa. Sudah separuh jalan lebih” . Suara nakoda mengunggah kesadaran alam tidak sedang bermain.
“Semua bisa berenang kan?”
“Saya ngga bisa kalau tidak pakai pelampung”, ujar Lilian ragu. Diam-diam kami memendam doa dalam hati.
Dalam gelap nakoda berlayar menuju Durai dengan caranya, menajamkan hati dan perasaan karena indra penglihatan tak mampu menembus malam. Sekali lagi gelombang menggetarkan lantai fiber glass. Oh Tuhan bagaimana jika kapal tak mampu bertahan lalu terbelah dan karam.
Kerlip lampu di kejauhan menuntun kami ke tiga kapal nelayan di balik bukit pulau Durai. Nasib mereka tak berbeda dengan kami, menjauhi badai.
“Kemarilah naik. Laut memang sedang tak bersahabat musim angin selatan.”
Tanpa berpikir dua kali, satu persatu berpindah ke kapal kayu besar nelayan. Badai tak lagi menyentuh tapi dinginnya air masih terasa menusuk kulit. Usai berganti pakaian melewatkan makan malam di atas geladak bersama.
Bulan sabit separuh tak sebenderang purnama, tapi sinarnya mampu menerangi lautan hingga dasar.
“Lihat deh ke bawah, dasarnya kelihatan. Jernih banget airnya. Kalau siang kaya apa ya?”, celoteh Lisa membangkitkan rasa penasaran. Dan benar saja ikan kerapu terlihat berenang di antara terumbu.
Atap geladak menjadi tempat favorit merebahkan diri. Taburan bintang membuai mimpi pertama di Anambas. Mimpi yang nampaknya harus kami gantungkan sejenak.
***
Senandung burung dari pulau Durai terdengar jelas, membahagiakan insan memulai hari. Tiga kapal nelayan mengiringi kami menuju lautan teduh. Lambain tangan nelayan sekaligus bermakna doa, melepas kami ke lautan luas. Durai masih menggoda dengan rona jingganya, tapi kami memilih menjauhinya karena gelombang di sana tak bersahabat.
menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Duraijingga menyapa pagi , melepas kepergian
Memutar haluan ke Trenggiling sebagai penawar kecewa bukanlah keputusan mudah. Berkali nakoda berujar tak mampu menghalau bahaya gelombang pulau Bawah konon hingga 2 meter . Tapi kami tetap berteguh hati, terlanjur tegoda impian pulau tropis terindah di Asia.
Baiklah, kita gantungkan sejenak kedua impian , Anambas bukan hanya Durai dan Bawah.
pulau Trenggiling, salah satu pulau cantik Anambas
Bukit batu menjulang menjadi pemandangan pertama Trenggiling, berlahan namun pasti speed boat menuju daratan. Jangan pernah meragukan kejernihan laut di sini. Sampai kedalaman 10 meter , laksana kaca aquarium tembus pandang.
Meski bukan hamparan pasir luas, pesona Trenggiling sungguh menggoda. Menjawab dahaga atas indahnya pulau tropis. Tak sabar rasanya ingin meceburkan diri ke birunya air. Tapi sang nakoda melarang. “Kita tak berenang di sini, hanya ke goa kelelawar.”
goa kelelawar di pulau Trenggiling
Aroma amoniak menyeruak di pintu goa keleawar. Binatang omnivora menggantung di langit-langit. Tidak ada yang mau melangkah lebih jauh, cukup berfoto di depan mulut goa lalu menjelajah sisi lain Trenggiling.
menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas
Impian tentang Anambas terwujud. Langit biru, pasir putih dan air dalam gradasi tiga warna: biru muda, hijau toska dan biru tua. Berhamburan menuruni kapal , berlarian bagai anak kecil , kami menjejakan kaki di pantai berpasir sehalus tepung terigu.
Hari kemerdekaan sehari telah berlalu, tapi tak apa memperingatinya sekarang. Sang saka dikibarkan dalam kesederhanaan, diikatkan pada sebatang kayu lalu ditancapkan di atas pasir.
air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tuahening bagai di pantai pribadi
Sunyi Trenggiling bagai pantai pribadi, tak ada orang lain apalagi penjaja makanan. Dengan cekatan Eyster memasak nasi lalu membuka bekal lado garom, masakan khas Tarempa. Suwiran ikan tuna berbumbu cabai dan garam saja. Sederhana, tapi disantap dengan nasi hangat di pantai seindah ini, jelas rumit. Untuk “sarapan cantik” di sini kami harus melalui pelayaran Tanjung Pinang- Tarempa 12 jam dan drama tersapu badai menciutkan nyali.
dunia bawah laut Trenggiling tak kalah memukaumengibarkan sang saka di dalam air
Menutup petualangan di Trenggiling , sang saka merah putih dikibarkan di bawah air.
Hari ini tepat 70 tahun satu hari yang lalu Indonesia memproklamasikan diri sebagai bangsa merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan.
Hari ini kebanggan kami bertambah, terlahir di bumi pertiwi yang keelokannya tak pernah habis untuk dijelajahi.
“Habis ini kita kemana lagi ya?”
“Hmmm… rahasia. Tunggu saja kejutan Anambas selanjutnya.”
Sayap garuda membentang lebar , melayang bebas di angkasa membumbungkan angan yang tersisa tentang pulang.
“Maaf Bu off duty kali ini saya tidak pulang ke rumah.” Sejujurnya tak sanggup mengatakan kalimat ini . Namun akhirnya terujar tanpa jeda. Karena kemanapun kaki ini melangkah harus meminta doa dan restunya.
“Kamu jalan-jalan kemana lagi Le?” Pertanyaaan yang sama mengalun lembut tanpa emosi dan penuh keiklasan. Beliau sadar meski dilarang saya akan tetap pergi. Jadi sesungguhnya tak ada pilihan baginya selain melapangkan hati.
“Madura, Jawa Timur.”
“Hati-hati.” Sekali lagi doa ibu mengantar langkah saya pergi.
Garuda Indonesia di Bandara Sentani
Tidak pernah membayangkan perjalanan ini sebelumnya, memenuhi undangan Cultural Trip. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa tempat wisata di Sumenep.
Meski ayah berasal dari Jogjakarta dan ibu dari Jawa Timur. Saya tidak mengenal akar budaya kedua orang tua dengan baik. Lahir dan besar di tanah Sumatra, saya selalu mengaku orang Sumatra. Tepatnya pujakusuma, putra Jawa kelahiran Sumatra.
Sejak berpuluh tahun kerabat ayah dan ibu di Jawa turut merantau ke Sumatra meninggalkan tanah leluhur kami. Lalu lambat laun ritual mudik berubah, dari kota-kota di pulau Jawa , kini lebih sering menuju Jakarta atau Lampung, rumah orang tua saya.
Pernah ada keinginan untuk melakukan napak tilas kehidupan kedua orang tua yang lahir dan pernah tinggal di tanah Jawa. Tapi godaan perjalanan ekstrim menjelajah rimba Sumatra mengubur destinasi impian.
sayap garuda membentang lebar di angkasa
Getaran ringan roda sang garuda menyentuh landasan bandara Juanda membuayarkan lamunan. Pendaratan manis maskapai dengan kenyamanan kelas dunia. Sejak 15 menit lalu pramugari telah mengumumkan pendaratan penerbangan GA 304 Jakarta-Surabaya. Tapi saya masih terbuai dalam lamunan panjang tentang pulang dan tanah leluhur.
“Bu, saya sudah sampai di Surabaya, alhamdulilah penerbangannya nyaman .”
“Sukur Le.” Suara Ibu terdengar jauh tapi selalu terasa dekat. Beliau sempat mengungkapkan kerinduannya akan tanah Jawa. Mengisahkan kenangan masa kecil bersama teman-temannya, Mbah Kakung dan Eyang Putri yang tak pernah saya jumpai karena mereka telah berpulang sebelum saya lahir.
“Bu suatu hari kita akan ke tanah Jawa bersama ke makam mereka.” Lirih hati saya berjanji.
Ikon Pulau Garam
Setelaha tiga jam perjalanan darat sampai di jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura. Ternyata jembatan sepanjang 5.438 meter memiliki panjang dua kali lipat Golden Gate di San Fransisco.
Melewati jembatan Suramadu , penghubung pulau Jawa dan Madura
Niat menikmati lezatnya Bebek Sinjai dan sambal mangga pedas yang tersohor gagal, karena warung ikon kuliner Madura tutup di hari Jumat. Sebagai gantinya Bebek Songkem Pak Soleh asal Sampang menjadi menu makan siang.
Seporsi Bebek Songkem lengkap dengan nasi putih, sambal mangga, dan lalapan
Kuliner ini awalnya merupakan panganan hantaran ketika mengunjungi orang yang dituakan seperti Kyai. Sebelum digoreng, daging bebek dilumuri bumbu rempah dan dibungkus daun sebelum dikukus selama dua jam. Selain rasanya lezat, memasak dengan cara ini diyakini dapat menurunkan kadar kolesterol pada daging bebek.
Batik Gentongan Tanjung Bumi
Bagi pecinta batik tidaklah sulit mengidentifikasi asal kain mori bermalam karena setiap daerah memiliki kekhasan motif. Seperti batik Madura pada umumnya, batik asal Tanjung Bumi menggunakan warna-warna berani, seperti merah, biru , kuning dan ungu.
tahap akhir pembuatan batik kain mori direndam dalam gentong
Sereben- proses pewarnaan latar batik
menjemur batik usai dilorot
Keunikan batik Tanjung Bumi terletak pada proses pewarnaannya. Karena setelah dilorot – tahap peluruhan malam – kain batik direndam dalam gentong berisi nilon atau indigofera agar warnanya semakin cerah.
Untuk menarik penjual terkadang bumbui kisah mistis dibalik pembuatan Batik Gentongan. Pak Alim pemilik Zulfah Batik Madura Galery meyakinkan bahwa keindahan Tanjung Bumi lahir dari tangan terampil bukan dari ritual klenik.
Wayang Topeng Tengah Sawah
Siapa sangka pak Bram dari Gelar Cultural Trip mengajak saya melihat pertunjukan Wayang Topeng Madura di tengah sawah. Tepatnya di desa Bunbarat, kecamatan Rubaru , Kabupaten Sumenep.
Pak Merto – Pemimpin Wayang Topeng Rukun Perawas
Sebelum pertunjukan dimulai kami menyelinap ke belakang panggung, menjumpai Pak Merto pemimpin grup Wayang Topeng Rukun Perawas. Melihat pria paruh baya yang juga putra Maestro Topeng Madura , Suparkah mempersiapkan pertunjukan bersama anak didiknya.
Gemerincing suara gonseng (gelang kaki) seirama dengan musik karawitan. Dua pria membawa cermin dan keris kecil melangkah keluar dari balik panggung menari berpasangan. Tari Gambuh Tameng dijadikan pembuka dalam adegan Wayang Topeng Madura.
Tari Gambuh Tameng
Babak demi babak berlanjut berkisah tentang kehidupan sarat makna filosofi. Meski wayang topeng bukan ayangan (bayangan) di geber (layar) tetap mengandung sanepan yang menghibur. Meski kini keberadaannya nyaris tergilas jaman, bersaing dengan hiburan moderen.
Keraton Sumenep, Dinasti Timur Madura
Bersama sejarahwan Madura, Tadjul Arifien R menyusuri lorong waktu di komplek keraton. Kami dituntun memasuki kawasan Gedong Koneng yang merupakan ruang kerja Raja Sultan Abdurrahman.
Tadjul Arifien R – Sejarahwan asal Sumenep yang memandu menjelajah keraton
miniatur komplek keraton Sumenep, Madura
Tanpa lelah pria paruh baya ini berjalan mengelilingi komplek keraton. Tepat di belakang Gedong Koneng kami berhenti sejenak di Keraton Tirtonegoro , bangunan yang difungsikan sebagai rumah penyepen Bindara Saod.
Di sebelah selatan Pendopo Agung berdiri taman indah tempat pemandian putri-putri raja. Taman Sare memiliki tiga buah kolam, konon masing-masing memiliki khasiat seperti mendekatkan jodoh, mendatangkan dan meningkatkan keimanan.
Taman Sare keraton Sumenep
Penjelasan Pak Arifien selama tur membuat saya ingin mengulik buku karangan beliau bertajuk Sumenep Dalam Sejarah. Mengurai penasaran akan dinasti raja di timur pulau Madura.
Masjid Jamik Alkuturasi
Dekat alun-alun beridiri megah masjid yang memadukan budaya budaya Arab China , Madura dan Eropa. Warna kuning dan hijau mendominasi pintu gerbang masjid. Setiap warna dan bentuk ornamen memiliki makna.
pintu gerbang Masjid Jamik Sumenep sarat simbol dan filosofi
Dua lubang tanpa penutup diibaratkan mata yang sedang melihat. Tepat di atasnya terdapat ornamen segilima memanjang ke atas gambaran manusia yang sedang duduk rapih menghadap kiblat menghadap sebuah pintu masjid. Mengisyratkan bahwa bila keluar masuk masjid harus memakai tata krama . Tidak memisahkan dua orang jamaah masjid yang sedang duduk bersama dan imam keluar masuk mimbar tidak melangkahi leher seseorang.
perpaduan budaya – pintu besar gaya Cina, ukiran Madura, kaligrafi Arab, jam bandul Eropa
Memasuki masjid bersejarah di Sumenep makin terkagum. Masjid sarat makna dan filosofi dibangun oleh Lauw Piango arsitek asal Cina di era kepemimpinan Raja Sultan Abdurahman.
Keris Aeng Tong Tong
Keris bertahtakan emas , berlian dan bergagang gading dihamparkan di atas kain putih.
“Bukan tampilan luar yang membuat keris bernilai tinggi. Tapi ada tiga unsur yang harus terpenuhi yaitu, dhapur, tangguh dan bilah,”Urai Faturrahman pakar keris asal Aeng Tong Tong Madura.
Dhapur adalah bentuk keris yang menggambarkan identitas dari daerah mana berasal. Tangguh adalah umur keris, biasanya dilihat dari modelnya, seperti fashion model keris menggambarkan era tertentu. Bilah adalah kualitas keris terdiri dari material dan tingkat kerumitan keris dibuat , juga menggambarkan kepiawaian sang Empu yang membuat.
Penasaran saya semakin membuncah melihat, alur pamor di permukaan keris. Kemampuan teknik metalurgi memadu padankan logam diperlukan untuk membuat pamor unik dan keris yang kuat serta tajam.
Keris tidak hanya benda tajam namun merupakan karya seni yang lahir dari ilmu pengetahuan dan teknologi . Sebagai orang Jawa malu rasanya tidak mengenal identitas seni tempa besi.
Bonus Perjalanan
Saat perjalanan pulang menuju Surabaya Pak Bram mendapat kabar bahwa di desa Petiken , Pamekasan sedang berlangsung Petik Laut. Tanpa ragu kami membelokan kendaraan untuk melihat persiapan larung sesaji.
Sesaji baru akan dilarung esok tapi kesibukan persiapan Petik Laut sudah terlihat di desa Petiken, kecamatan Pademewu, Madura. Petik laut merupakan acara larung sesaji sebagai bentuk rasa syukur atas berkah , rejeki dan keselamatan. Tradisi masyarakat nelayan yang sudah berlangsung ratusan tahun.
perahu hias yang akan membawa sesaji di Petik Laut
“Kalau tak ada acara ini nelayan tak kumpul-kumpul, mereka terus melaut “, tutur Haji Ibnu (47) kepala desa Petiken. Menegaskan acara ini juga sebagai wadah bersosialisasi warganya.
Tiga puluh perahu pengiring gitik – perahu kecil tempat sesaji – bersolek di pesisir. Warga bahu-membahu menghias kapal, memasang bendera pada tali penopang layar. Lambung dan buritan dicat warna terang dengan ornamen khas Madura. Selain kepala kerbau dan kambing, gitik akan dilarung bersama 41 macam jenis buah-buahan.
Sore hari kembali Sang Garuda kembali membawa kami ke Jakarta. Semua peserta Cultural Trip Madura terlelap dalam senyum. Tidak pernah menduga perjalanan akan seseru ini.
“Le kamu sudah sampai Jakarta. Tidak langsung pulang ke Lampung?”
“Tidak Bu esok pagi langsung ke Jambi. Ada pekerjaan yang sudah menanti.”
“Baiklah . Hati-hati yo Le.” Sekali lagi Ibu menaburkan doa keselamatan. Ada rasa bersalah tak bisa menjumpai dirinya.
Waktu menunjukan pukul 20:00 WIB. Kesibukan terminal 2 bandara Soekarno-Hatta belum redup. Saya duduk menyendiri di salah satu kafe, membayangkan perjalanan luar biasa beberapa hari ini.
Saya memang tidak pulang rumah , tapi saya punya kisah luar biasa. Kembali mengenal budaya leluhur yang hampir terlupa. Tak kuasa rasanya untuk bertemu dengan Ibu berbagi cerita.
Telepon selular saya keluarkan dari balik saku baju.
“Bu , saya mau bercerita… Garuda membawaku kembali…” Sepanjang malam bagai anak kecil saya berkisah kepada Ibu tentang luar biasanya budaya Madura dan tanah Jawa. Dari lezatnya bebek Songkem hingga sejarah kerajaan Sumenep di timur Madura.
Eh beneran lho ini tante. Kita makan Bebek Tepi Sawah tapi restonya berada di kawasan nge-hits kota Batam, Nagoya Citywalk. Kota artifisial mini yang diperuntukan bagi wisata keluarga sangat memanjakan pecinta kuliner. Meski pamornya masih kalah dengan jajanan murah meriah ala street food, namun memberikan pilihan baru pecinta kuliner kota Batam. Bayangkan beragam resto dengan interior unik berjajar dengan variasi menu membuat air liur menetes.
Bebek Tepi Sawah di City Walk Batam
Atas rekomendasi rekan kerja , usai jam kantor janjian kongkow santai di Bebek Tepi Sawah. Konon resto bernuansa etnik moderen ini merupakan waralaba asal Ubud Bali, dan kokinya langsung didatangkan dari pulau dewata. Jelas keontetikan rasanya tidak perlu diragukan.
nuansa moderen dan tradisional – interior Bebek Tepi Sawah
Interior resto didominasi warna hijau menyejukan berpadu manis dengan unsur kayu bernuansa etnik. Lampu-lampu besar berselubung anyaman bambu bergantung di langit-langit, bentuknya mirip sangkar burung.
Sapa ramah pelayan dalam balutan jarik dan kebaya kontemporer meyakinkan bahwa Bebek Tepi Sawah Batam tidak hanya menjual kenikmatan kuliner, tapi nuansa dan atmosfer tradisional. Sangat pas bagi mereka yang merindukan kuliner Bali.
Bebek Betutu – Menu Tradisional Bali
Teringat pengalaman pertama kali menikmati Ayam Betutu di pulau Bali beberapa tahun silam, angan saya langsung tergoda dengan Bebek Betutu di buku Menu. Kira-kira seperti apa rasanya. Apakah bumbu rempah mampu menjinakan tekstur daging bebek yang liat dan beraroma khas. Salah teknik memasak, daging bebek tak layak untuk dikonsumsi karena aromanya tak menguggah selera.
Daging Bebek Betutu mudah disobek tanpa rasa alot
Tak berselang lama , menu yang dinanti tiba. Daging bebek hadir di atas pinggan beralas daun lontar dengan warna dan aroma menggoda. Kulitnya berlumur bumbu rempah betutu kecoklatan. Limpahan 10 jenis aroma rempah menggoda indra penciuman. Tapi tunggu dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari kesan pertama.
Sekali sobek, serat daging bebek terlepas dari tulangnya. Teksturnya pas tidak terlalu matang apalagi alot. Namun yang paling membuat terpikat rasanya, ketika dipadukan dengan sambal matah. Lidah saya semakin penasaran , sepotong tak cukup. Berkali-kali sobekan daging meluncur ke dalam mulut bersama nasi putih hangat. Rasanya Bali banget!
Ayam Bakar Jimbaran dalam lumuran samal cabai pedas
Bagi yang tidak suka daging bebek tersedia pilihan menu lain. Ada Sate Lilit khas Bali atau Iga Mercon yang rasanya memporak porandakan program diet.
Teman saya memilih Ayam Bakar Jimbaran yang ternyata tidak kalah maknyus. Sebelum dipanggang, ayam diungkep dengan bumbu hingga rasa lezat menyesap ke dalam tulang. Lalu ayam dibakar di atas bara api, menyisakan aroma arang kayu nan eksotis. Untuk menyempurnakan rasa, sambal goreng cabai merah dibalurkan tanpa celah.
Patung Bebek Tepi Sawah
Segelas Tropicana Sunset menjadi penawar rasa pedas di lidah. Rasa manis asam buah jeruk berbaur bersama potongan nata de coco. Kurang puas dengan pilihan beragam minuman di meja makan. Mari bergeser ke Mini Bar di bagian belakang. Dijamin kursi tinggi menjulang di depan bartender membuat obrolan makin seru.
Mini Bar di Bebek Tepi Sawah Batam
Melewatkan makan malam di teras restoran menjadi pilihan saya dan teman-teman. Maklum saja sebagian besar bapak-bapak ini ahli hisap, butuh ruang menikmati aroma kretek, sembari sesekali mengisapnya dalam-dalam.
Sambal Matah, Sambal Goreng dan Sambal Terasi
Malam makin remang tapi lalu lalang tak mengilang. Jalanan makin ramai bersorai bersama pendar lampu warna-warni. Nagoya merupakan ikon yang terlupakan di kota Batam. Tempat memanjakan lidah, hati dan mungkin rasa… Sesekali ada rasa cinta walau hanya satu malam.
Kali ini saya jatuh cinta dengan rasa bukan dengan sentuhan apalagi belaian. Rasa di sini *nunjuk lidah , bukan nunjuk yang lain*
Bebek Tepi Sawah – Batam
Nagoya Citywalk, Blok CA no.102, Batam
Batam , Kepualauan Riau
Tel +62-(0778) 453187
Email info@bebektepisawahbatam.com
Website http://bebektepisawahbatam.com
Menantang adrenalin di Bukit Gado-Gado kota Padang
“Kata-kata adalah doa…”
Sebulan sebelum Ramadhan saya berangan dapat mengunjungi ranah Minangkabau untuk bersilaturahmi dengan rekan-rekan Backpacker Padang (baca kisahnya di sini )
Doa itu dijabah Allah. Minggu ketiga bulan Ramadhan saya pun kembali sejenak menyentuh bumi Andalas. Tak hanya memuluskan niat menyambangi ikon baru kota Padang, Masjid Raya Sumatera Barat. Tapi menggoda adrenalin di atas langit Pantai Air Manis. Lanjutkan membaca “Menggoda Adrenalin Bukit Gado-Gado”
Bulan Ramadhan memang sudah usai tapi masih terasa indahnya. Tahun ini saya mendapat teman senasib. Dua rekan kerja yang baru saja mutasi ke Batam dan mereka memutuskan untuk jadi om-om kos, karena tidak membawa keluarga. Ya… agak beda kasus dengan sayah yang jomblo sih.