serasa di pantai pribadi
Kepulauan Riau, Travelling

Trenggiling Penawar Durai dan Bawah

17 Agustus 2015 – Senja baru saja menaungi Tarempa ketika sauh diturunkan. Dalam rona temaram jingga  kembali berlayar ke Durai melalui  pelabuhan pemda. Raut ragu sang nakoda seolah tertutup kelamnya malam. Ia memilih diam takut mengecewakan kami  yang terlanjur bersemangat.

“Malam ini kita ngintip penyu  bertelur yuk!”

“Tapi kayanya moto bintang seru, langitnya nggak bocor.”

serasa di pantai pribadi

Segudang rencana pun terujar tanpa pernah sadar ada bahaya besar menghadang. Dalam hitungan menit speed boat terguncang hebat membentur gelombang. Saya masih bisa tersenyum lebar, seolah laut sedang menyapa dan ingin bermain.

senja di Tarempa
senja di Teluk Tarempa

Berikutnya tak ada yang mampu berkata ketika gelombang besar masuk dari geladak depan memuntahkan air asin.

“Byur!!!” Pakaian di badan  hingga barang bawaan kuyup tersapu air. Melaju perlahan bukan pilihan tepat, berkali-kali gelombang mengombang-ambingkan tanpa arah.

“Tak mungkin kita merapat ke Durai. Tapi kembali juga lebih tak bisa. Sudah separuh jalan lebih” . Suara nakoda mengunggah kesadaran alam tidak sedang bermain.

“Semua bisa berenang kan?”

“Saya ngga bisa kalau tidak pakai pelampung”, ujar Lilian  ragu. Diam-diam kami memendam doa dalam hati.

Dalam gelap nakoda berlayar menuju Durai dengan caranya, menajamkan hati dan perasaan karena indra penglihatan tak mampu menembus malam. Sekali lagi gelombang  menggetarkan lantai fiber glass. Oh Tuhan bagaimana jika kapal tak mampu bertahan lalu terbelah dan karam.

Kerlip lampu di kejauhan menuntun kami ke  tiga kapal nelayan di balik bukit pulau Durai. Nasib mereka tak berbeda dengan kami, menjauhi badai.

“Kemarilah naik. Laut memang sedang tak bersahabat musim angin selatan.”

Tanpa  berpikir dua kali, satu persatu berpindah ke kapal kayu besar nelayan.  Badai tak lagi menyentuh tapi dinginnya air masih terasa menusuk kulit. Usai berganti pakaian melewatkan makan malam di atas geladak bersama.

Bulan sabit separuh tak sebenderang purnama, tapi sinarnya mampu menerangi lautan hingga dasar.

“Lihat deh ke bawah, dasarnya  kelihatan. Jernih banget airnya. Kalau siang kaya apa ya?”, celoteh Lisa membangkitkan rasa penasaran. Dan benar saja  ikan kerapu terlihat berenang di antara terumbu.

Atap geladak menjadi tempat favorit merebahkan diri. Taburan bintang membuai mimpi pertama di Anambas. Mimpi yang nampaknya harus kami gantungkan sejenak.

***

Senandung burung dari pulau Durai terdengar jelas,  membahagiakan insan memulai hari. Tiga kapal nelayan mengiringi kami menuju  lautan teduh. Lambain tangan nelayan sekaligus  bermakna doa, melepas kami ke lautan luas. Durai masih menggoda dengan rona jingganya, tapi kami memilih menjauhinya karena gelombang di sana tak bersahabat.

menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Durai
menambatkan diri pada kapal nelayan di balik Durai
jingga menyapa pagi , melepas kepergian
jingga menyapa pagi , melepas kepergian

Memutar haluan ke Trenggiling sebagai penawar kecewa  bukanlah keputusan mudah. Berkali nakoda berujar tak mampu menghalau bahaya gelombang pulau Bawah  konon hingga 2 meter . Tapi kami tetap berteguh hati, terlanjur tegoda impian pulau tropis terindah di Asia.

Baiklah, kita gantungkan sejenak kedua impian ,  Anambas bukan hanya Durai dan Bawah.

pulau Tenggiling, salah satu pulau cantik Anambas
pulau Trenggiling, salah satu pulau cantik Anambas

Bukit batu menjulang menjadi pemandangan pertama Trenggiling, berlahan namun pasti speed boat menuju daratan. Jangan pernah meragukan kejernihan  laut di sini. Sampai kedalaman 10 meter , laksana kaca aquarium tembus pandang.

Meski bukan hamparan pasir luas, pesona Trenggiling sungguh menggoda. Menjawab dahaga atas indahnya pulau tropis. Tak sabar rasanya ingin meceburkan diri ke birunya air. Tapi sang nakoda melarang. “Kita tak berenang di sini, hanya ke goa kelelawar.”

goa kelelawar di pulau Tenggiling
goa kelelawar di pulau Trenggiling

Aroma amoniak menyeruak di pintu goa keleawar. Binatang omnivora menggantung di langit-langit. Tidak ada yang mau melangkah lebih jauh, cukup berfoto di depan mulut goa lalu menjelajah sisi lain Trenggiling.

menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas
menancapkan sang saka merah putih di bumi Anambas

Impian tentang Anambas terwujud. Langit biru, pasir putih dan air  dalam gradasi tiga warna: biru muda, hijau toska dan biru tua. Berhamburan menuruni kapal ,  berlarian bagai anak kecil , kami menjejakan kaki di pantai berpasir sehalus  tepung terigu.

Hari kemerdekaan sehari telah berlalu, tapi tak apa memperingatinya sekarang. Sang saka dikibarkan dalam kesederhanaan, diikatkan pada sebatang kayu lalu ditancapkan di atas pasir.

air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tua
air gradasi tiga warna : biru muda, hijau toska dan biru tua
hening bagai di pantai pribadi
hening bagai di pantai pribadi

Sunyi Trenggiling bagai pantai pribadi, tak ada orang lain apalagi penjaja makanan. Dengan cekatan Eyster memasak nasi lalu membuka bekal lado garom, masakan khas Tarempa. Suwiran ikan tuna berbumbu cabai dan garam saja. Sederhana, tapi disantap dengan nasi hangat di pantai seindah ini, jelas rumit. Untuk “sarapan cantik”  di sini kami harus melalui pelayaran Tanjung Pinang- Tarempa 12 jam dan drama tersapu badai menciutkan nyali.

dunia bawah laut Tenggiling tak kalah memukau
dunia bawah laut Trenggiling tak kalah memukau
mengibarkan sang saka di dalam air
mengibarkan sang saka di dalam air

Menutup petualangan  di Trenggiling ,  sang saka merah putih dikibarkan di bawah air.

Hari ini tepat 70 tahun satu hari yang lalu Indonesia memproklamasikan diri sebagai bangsa merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan.

Hari ini kebanggan kami bertambah, terlahir di bumi pertiwi yang keelokannya tak pernah habis untuk dijelajahi.

“Habis ini kita kemana lagi ya?”

“Hmmm… rahasia. Tunggu saja kejutan Anambas selanjutnya.”

~ I Love Anambas~

8

Kepulauan Riau, Kuliner

Warung Plus Plus Pizzeria Casa Italia

“Bang adonin aku… uleni aku…”, lirih seorang wanita  di ujung meja sembari mengigit bibir. Matanya nanar memandang tangan kekar terampil meremas adonan tepung. Keringat mengucur deras dari kening pria berwajah Italia melewati jambang. Beruntung tak jatuh ke dalam ke adonan karena empunya menyeka dengan kerah baju.

“Kira-kira bajunya dibuka ngga ya, kalau udara makin panas?”, seloroh nakal wanita lain disusul tertawa penuh makna.

Mas bule menguleni adonan pizza

Menguleni  adonan pizza sesungguhnya tak harus membuat keringat berderai. Namun panasnya tungku kayu dan udara pantai  menciptakan angan nakal  kaum hawa penghobi wajah kaukasia.

pantai berpasir putih di dekat Pizzeria Casa Italia
pantai berpasir putih di dekat Pizzeria Casa Italia

Pizzeria Casa Italia bukanlah restoran di pesisir pantai Scilla pulau Calabri , Italia. Namun pemandangan dari warung sederhana yang mengusung cita otentik Italia tak kalah dibandingkan dari negeri asalnya.

Berada di tepi pantai  Trikora, Pulau Bintan Kepulauan Riau,  Pizzeria Casa Italia terasa lebih eksotis. Kesan pertama, pengunjung langsung disuguhkan pantai berpasir putih dengan ornamen batu besar menjulang. Tak pelak lagi penghuni laman instagram berlomba mengabadikam momen tak terduga.

Niatnya mau makan pizza eh dapat pemandangan indah.

tepat di seberang pantai ada pulau kecil
tepat di seberang pantai ada pulau kecil

Ketika air surut jangan ragu untuk melangkahan kaki ke pulau depan. Meski ratusan kepiting kecil keluar dari lubang-lubang di pasir membuat indra pengelihatan terasa nyeri. Pulau mungil berparas cantik seolah melingkupi pantai luas , membuat gelombang tak begitu deras. Saatnya kembali bernarsis ria, membiarkan angin menyibak rambut.

saatnya berselfie ria
saatnya berselfie ria
bebatuan menjulang di pulau kecil dekat pantai
bebatuan menjulang di pulau kecil dekat pantai

Lelah dan aroma pizza akan menuntun mu kembali ke daratan , melabuhkan diri pada pondok kecil. Meski mas-mas bule tidak membuka bajunya , yakinlah lezatnya pizza mampu memuaskan hasrat lain.  Tapi sabar teman, baca baik-baik peraturan di sini. Sembarangan membuang sampah akan didenda.

kamar mandi bayar 2 ribu
kamar mandi bayar 2 ribu

Ada area tertutup  yang hanya diperbolehkan bagi karyawan, salah melangkah masuk bisa langsung diomeli sang pemilik. Mau makan pizza kok repot banget? Tidak  repot asalkan kita saling menghargai , tidak masalah. Lagian  ini demi kepentingan bersama. Siapa sih yang ngga betah duduk bersantai di  pantai indah yang bersih.

baca peraturan sebelum melangkah lebih jauh
baca peraturan sebelum melangkah lebih jauh

Jangan salahkan pemilik warung , jika tarif parkir di sini lumayan mengguncang kantung , untuk motor 10 ribu dan mobil 20 ribu. Nyamannya  lokasi membuat orang enggan untuk pergi meski makanan dan minuman sudah habis.

membuang sampah didenda sejuta, membuang mantan gratis
membuang sampah didenda sejuta, membuang mantan gratis

Baiklah mari kita kulik menu andalan. Duh pizzanya ngga nendang banget, kulitnya tipis renyah bukan roti.

Sssttt… di negara asalnya kulit pizza seperti ini, bukan pizza dengan dasar roti tebal  kaya karbohdirat. Membuat perut terasa begah usai menyantap satu  potong.
Coba endus  berlahan tapi ngga pake ngelirik mas-mas bule.  Ada aroma tepung terpanggang sempurna bersama saos tomat dan keju. Begitu digigit, renyahnya kulit pizza menyapa lidah lalu menari-nari bersama topping. Kali ini saya menyantap pizza tuna lezat. Hmmm… cita rasa laut  sempurna.

 

 

Potongan berlanjut dengan pizza ber-topping jamur. Kelezatannya tak perlu diragukan, tapi yang membuat saya terhenyak potongan tumbuhan saproprit itu mirip daging ayam, pilihan tepat bagi vegetarian.

Seloyang pizza rata-rata harganya 45 ribu rupiah, cukup terjangkau bukan untuk disantap bersama. Pilihan minuman , sepertinya saya tidak bisa move on dari teh tarik dingin.

kulit pizzanya renyah banget
kulit pizzanya renyah banget

Jelang senja pengunjung satu persatu meninggalkan warung pizza. Matahari memang tak terlihat terbenam di horison pantai, tapi pendar jingganya selalu mempesona. Potongan pizza terakhir saya lumat tanpa berdosa,  tak  karbohidrat tinggi.

Mbak-mbak di ujung meja telah berlalu bersama malam yang semakin dingin. Mungkin kecewa , melihat mas bule bercengkrama ramah dengan gadis melayu berhijab. Atau dia kecewa tak ada atraksi bonus shirtless.

Cita rasa ini memang sangat Italia, tapi siapa yang menyangka pembuatnya lantang berbahasa dengan logat melayu kental.

pizza dipanggang dengan tungku kayu
pizza dipanggang dengan tungku kayu

Senandung lagu Italia terdengar tak terlalu bingar. Bersama malam saya melangkah pulang , menimbang dalam hati banyak yang saya dapatkan di sini. Tak hanya seloyang pizza dari negeri asalnya tapi pelajaran bagaimana seharusnya manusia menghargai alam dan budaya lokal.

 

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel
Kepulauan Riau, Kuliner

Tribute To Heroes Dinner Allium Hotel

Agustus 2015 – Hari ulang tahun kemerdekaan RI  akan sampai di angka 70. Bagi sebagian orang tujuh itu angka keramat, tapi bagi saya tujuh itu hari ternikmat di akhir pekan. Saatnya leyeh-leyeh di tempat tidur , duduk manis di sudut kafe, atau piknik cantik  ke negara tetangga *jinjig hermes* . Mengurai sedikit isi kantong menawarkan rasa lelah lalu melebarkan pinggang dan perut.

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel

Tribute to Heroes Dinner Allium Batam Hotel

Mumpung bulan Agustus, agar terasa lebih nasionalisme,  sejenak melewatkan makan malam bertema Tribute To Heroes. Menyambut hari kemerdekaan RI ke 70 , Allium Hotel Batam menawarkan paket spesial stay offer  untuk dua orang termasuk sarapan dan makan malam seharga Rp 678.000,- . Penawaran menarik bagi anda yang tidak memiliki rencana kemana-mana di long weekend.

Selenthem dan Bonang mengiringi sinden berdendang
Selenthem dan Bonang mengiringi sinden berdendang

Makan malam spesial sambil menikmati alunan gending Jawa yang dibawakan langsung oleh para seniman senior bersahaja. Suara sinden mengalun merdu diiringi selenthem dan bonang. Sesekali dentingan siter meramaikan komposisi musik.

Meracik Laksa Bihun - Kudapan andalan malam ini
Meracik Laksa Bihun – Kudapan andalan malam ini

Hiburan  yang tak kalah seru menyaksikan koki meracik dan memasak makanan di pondok-pondok kecil serambi hotel. Pendar aroma gorengan dan kuah laksa memancing penasaran sekaligus rasa lapar.

Sepiring gorengan ubi dan pisang menjadi menu  pembuka malam ini. Laksa bihun, terasa lebih ringan dibandingkan laksa mie. Limpahan kuah santan berbumbu seolah tak mampu menembus tekstur bihun. Ketika dinikmati bersama , seolah rasa tawar bihun tetap ada di balik kuah Laksa. Tak berlebihan jika malam ini Laksa menjadi primadona. Karena selain lezat menggoda ada aroma udang yang mengusik indra pengecap dan perasa.

Semur Daging Betawi
Semur Daging Betawi

Merindukan menu yang lebih menohok lambung dengan sepiring nasi? Jangan khawatir, di dalam ruangan tersaji lauk pauk pendamping nasi putih. Namun yang mencuri perhatian saya semur daging Betawi. Apa sih bedanya dengan semur lainnya. Bukankan semua semur itu sama, limpahan bumbu rempah dan kecap pekat melumuri daging.

Semur daging Betawi merupakan semur paling bercita rasa “wah” dibandingkan semur lain di nusantara. Jika semur Samarinda dan Palembang menggunakan 11 jenis rempah, semur Betawi 14 jenis. Jadi terjawab sudah mengapa rasanya lebih lezat. Dan biasanya disajikan dengan ketupat, sayur pepaya dan kembang goyang.

Pecal , menu favorit saya hadir malam ini. Rebusan sayur mayur membuat rasa bersalah menikmati semangkuk Laksa agak berkurang. Tapi bagaimana dengan saus kacangya? Tak ragu saya menyiramkan saus kacang berkali-kali, agar rasanya makin legit menggigit.

Bagi orang Indonesia makanan lezat identik dengan hari spesial. Jika hari Idul Fitri kemarin kamu menikmati sepiring ketupat bersama opor ayam, rendang, sambal goreng hati, dan kerupuk. Kira-kira tujuh  belas agustus-an kamu makan apa? Jangan bilang hanya makan kerupuk. Itu lomba , bukan kuliner spesial.

Tidak  ada ide? Merapat yuk ke Allium Batam Hotel
11754927_416297238555149_3026815239262620982_o

Allium Batam Hotel
Allium Batam Komplek Panorama
Nagoya Batam 29432 Indonesia
t: +62 778 452 888
f +62 778 450 113
contact@alliumbatam.com

 

Kepulauan Riau, Kuliner

[Video] Saturday Fusion B.B.Q. Dinner Turi Beach Resort

Barbeque paling afdol di alam terbuka, seperti halaman rumah atau tepi petan. Akhir pekan ini melewatkan barbeque cantik di Turi Beach Resort. Mau lihatgimana serunya bakar-bakaran daging dan seafood. Yuk mari tonton videonya! Semoga bisa jadi referensi kuliner akhir pekan di Batam. Lanjutkan membaca “[Video] Saturday Fusion B.B.Q. Dinner Turi Beach Resort”

Travelling, Kuliner, Kepulauan Riau

Bebek Tepi Sawah Tengah Kota Batam

Judulnya ambigu banget, bikin pemirsa bingung.

Eh beneran lho ini tante. Kita makan Bebek Tepi Sawah tapi restonya berada di kawasan nge-hits kota Batam, Nagoya Citywalk. Kota artifisial mini yang diperuntukan bagi wisata keluarga sangat memanjakan pecinta kuliner.  Meski pamornya masih  kalah dengan jajanan murah meriah ala street food, namun memberikan pilihan baru  pecinta kuliner  kota Batam. Bayangkan beragam resto dengan interior unik  berjajar dengan variasi menu membuat air liur menetes.

Bebek Tepi Sawah di City Walk Batam

Bebek Tepi Sawah di City Walk Batam

Atas rekomendasi rekan kerja , usai jam kantor  janjian kongkow santai di Bebek Tepi Sawah. Konon resto bernuansa etnik moderen ini merupakan waralaba asal Ubud Bali, dan kokinya langsung didatangkan  dari pulau dewata. Jelas keontetikan rasanya tidak perlu diragukan.

nuansa moderen dan tradisional - interior Bebek Tepi Sawah
nuansa moderen dan tradisional – interior Bebek Tepi Sawah

Interior resto didominasi warna hijau  menyejukan berpadu manis dengan unsur kayu bernuansa etnik.  Lampu-lampu besar berselubung anyaman bambu bergantung di langit-langit, bentuknya mirip sangkar burung.

Sapa ramah pelayan dalam balutan jarik dan kebaya kontemporer meyakinkan bahwa Bebek Tepi Sawah Batam tidak hanya menjual kenikmatan kuliner, tapi nuansa dan atmosfer  tradisional. Sangat pas bagi mereka yang merindukan kuliner Bali.

Bebek Betutu - Menu Tradisional Bali
Bebek Betutu – Menu Tradisional Bali

Teringat pengalaman pertama kali menikmati Ayam Betutu di pulau Bali beberapa tahun silam, angan saya langsung tergoda dengan  Bebek Betutu di buku Menu. Kira-kira seperti apa rasanya. Apakah bumbu rempah mampu menjinakan  tekstur daging bebek yang liat dan beraroma khas.  Salah  teknik memasak,  daging bebek tak layak untuk dikonsumsi karena aromanya tak menguggah selera.

Daging Bebek Betutu mudah disobek tanpa rasa alot
Daging Bebek Betutu mudah disobek tanpa rasa alot

Tak berselang lama , menu yang dinanti tiba. Daging bebek hadir di atas pinggan beralas daun lontar dengan warna dan aroma menggoda. Kulitnya berlumur bumbu rempah betutu kecoklatan. Limpahan 10 jenis aroma rempah menggoda indra penciuman. Tapi tunggu dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari kesan pertama.

Sekali sobek, serat daging bebek terlepas dari tulangnya. Teksturnya pas tidak terlalu matang apalagi alot. Namun yang paling membuat terpikat rasanya, ketika dipadukan dengan sambal matah. Lidah saya semakin  penasaran , sepotong tak cukup. Berkali-kali sobekan daging meluncur ke dalam mulut bersama nasi putih hangat.  Rasanya Bali banget!

Ayam Jimbaran dalam lumuran samal cabai pedas
Ayam Bakar Jimbaran dalam lumuran samal cabai pedas

Bagi yang tidak suka daging bebek tersedia pilihan menu lain. Ada Sate Lilit khas Bali atau Iga Mercon yang rasanya memporak porandakan program diet.

Teman saya memilih Ayam Bakar Jimbaran  yang ternyata tidak kalah maknyus. Sebelum dipanggang, ayam diungkep  dengan bumbu hingga  rasa lezat  menyesap  ke dalam tulang. Lalu ayam  dibakar di atas bara api, menyisakan aroma arang kayu nan eksotis. Untuk menyempurnakan rasa, sambal goreng cabai merah dibalurkan tanpa celah.

Patung Bebek Tepi Sawah
Patung Bebek Tepi Sawah

Segelas Tropicana Sunset menjadi penawar rasa pedas di lidah. Rasa manis asam buah jeruk berbaur bersama potongan nata de coco. Kurang puas dengan pilihan beragam minuman di meja makan. Mari bergeser ke Mini Bar di bagian belakang. Dijamin kursi tinggi menjulang di depan bartender membuat obrolan makin seru.

Mini Bar di Bebek Tepi Sawah Batam
Mini Bar di Bebek Tepi Sawah Batam

Melewatkan makan malam di teras restoran menjadi pilihan saya dan teman-teman. Maklum saja sebagian besar  bapak-bapak ini ahli hisap, butuh ruang menikmati  aroma kretek, sembari sesekali mengisapnya dalam-dalam.

Sambal Matah, Sambal Goreng dan Sambal Terasi
Sambal Matah, Sambal Goreng dan Sambal Terasi

Malam makin remang tapi lalu lalang tak mengilang. Jalanan makin ramai bersorai bersama pendar lampu warna-warni. Nagoya merupakan ikon yang terlupakan di kota Batam. Tempat memanjakan lidah, hati dan mungkin rasa… Sesekali ada rasa cinta walau hanya satu malam.

Kali ini saya jatuh cinta dengan rasa bukan dengan sentuhan apalagi  belaian. Rasa di sini *nunjuk lidah , bukan nunjuk yang lain*

Bebek Tepi Sawah – Batam
Nagoya Citywalk, Blok CA no.102, Batam
Batam , Kepualauan Riau
Tel +62-(0778) 453187
Email info@bebektepisawahbatam.com
Website http://bebektepisawahbatam.com

Jalan2Cuap2, Kepulauan Riau, Kuliner, Video

[Video] Kuliner Kampoeng Ramadhan

Jalan2Cuap2Allium Batam Hotel menghadirkan nuansa kampung di bulan penuh rahmat. Kuliner yang tak lazim dijumpai di jaman sekarang hadir menyambangi menu berbuka puasa. Totalitas nuansa dibangun dengan menghadirkan grup musik Melayu Pancaran Senja.

Lanjutkan membaca “[Video] Kuliner Kampoeng Ramadhan”

Hotel, Kepulauan Riau, Kuliner

Kampung Ramdhan Allium Batam Hotel

Allium - Menghadirkan Kampung Ramadhan di bulan penuh rahmat
Allium Batam Hotel – Menghadirkan Kampung Ramadhan di bulan penuh rahmat

Allium Batam Hotel – Kerinduan akan kampung halaman terobati, menyaksikan bangku dan meja kayu panjang di antara hingar bingar tabuhan rebana. Suaranya bertalu-talu, selaras dengan lengkingan biola dan akordion. Menghadirkan kembali kampung Melayu tempo dulu di antara hingar bingar kota Batam.

Lanjutkan membaca “Kampung Ramdhan Allium Batam Hotel”

Kepulauan Riau, Kuliner

Buka Bersama HARRIS Resort Waterfront, Batam

pemandangan pelabuhan Marina dari Harris Resort Waterfront Batam
pemandangan pelabuhan Marina dari Harris Resort Waterfront Batam

Mau buka puasa kok di resort. Mana di pinggir pantai sambil memandang matahari tenggelam. Ini bukan acara makan malam romantis kan?

Bukan, kita buka puasa bersama bareng  beberapa relasi kerja. Konsepnya memang agak berbeda dibanding acara buka biasa kebanyakan yang  berada di dalam ruangan. Lanjutkan membaca “Buka Bersama HARRIS Resort Waterfront, Batam”