Kampung Ramdhan Allium Batam Hotel

Allium - Menghadirkan Kampung Ramadhan di bulan penuh rahmat
Allium Batam Hotel – Menghadirkan Kampung Ramadhan di bulan penuh rahmat

Allium Batam Hotel – Kerinduan akan kampung halaman terobati, menyaksikan bangku dan meja kayu panjang di antara hingar bingar tabuhan rebana. Suaranya bertalu-talu, selaras dengan lengkingan biola dan akordion. Menghadirkan kembali kampung Melayu tempo dulu di antara hingar bingar kota Batam.

Allium Batam Hotel memang piawai menghadirkan Kampung Ramadhan saat berbuka puasa. Tak hanya nuansa, kulinernya pun diulik secara sempurna. Saya sempat tertegun menyaksikan pembuatan mie kangkung. Kuliner sederhana tempo dulu tapi mampu membuat lidah bergoyang. Tapi maaf teman saya lupa mengabadikan fotonya   karena terlalu asik menikmati hidangan ini.

Kaldunya kaya akan limpahan potongan jamur. Menu pas bagi mereka yang ingin mengurangi kalori di bulan Ramadhan.

Tingkahan rebana, gesekan biola dan pecitan akordion mengalun dalam harmonisasi sempurna
Tingkahan rebana, gesekan biola dan pecitan akordion mengalun dalam harmonisasi sempurna

Sejenak sebelum adzan Maghrib bertalu saya bercengkrama dengan kelompok musik Melayu Pancaran Senja asal Batu Besar. Pria-pria ini tampak antusias memainkan nada dalam balutan  Teluk Belanga warna gandaria. Tak jemu menghibur para tamu hingga adzan Isya akan berkumandang. Ah saya serasa sedang berada di negeri tetangga, Malaysia. Wajarlah budaya kita serupa karena kita masih serumpun.

Kelompok Musik Melayu asal Batu Besar , Batam
Kelompok Musik Pancaran Senja Melayu asal Batu Besar , Batam
membuat kue wafel dan kue lumpur
membuat kue wafel dan kue lumpur

Atraksi yang tak kalah seru menyaksikan koki mempersiapkan kudapan menu berbuka. Di salah satu pondok,  adonan kue bapel dan lumpur diracik. Lalu  dimasukan ke dalam cetakan logam di atas bara api. Meski keduanya berbahan tepung terigu, tapi berbeda. Bapel menggunakan ragi untuk menghasilkan tekstur lembut sedangkan kue lumpur hanya mengandalkan kekuatan kocokan  adonan sang koki.

Inilah yang saya suka dari seni memasak, bahan sama tapi menghasilkan hidangan yang berbeda.

sambal tempe tempe
sambal tempe semangit

Bawang putih , cabai hijau dan sedikit garam dihaluskan  dengan  ulekan batu . Lalu diberi potongan tempe goreng potong tusuk gigi dan dihaluskan kembali sekedarnya. Jadilah sambal tempe yang rasanya unik.

Masakan ini sangat saya kenal dengan baik. Dulu ketika masih di kampung – rumah – sering membuatkan sambal tempe seperti ini. Tapi dengan menggunakan tempe semangit – tempe busuk. Meski bagi kata orang rasanya aneh, tapi di lidah saya terasa sangat lezat. Selain itu dua belas sambal lain yang setia menemani jamuan berbuka puasa kali ini. Duh pengen cobain semua tapi takut mules.

aneka sambal setia menemani jamuan berbuka puasa
aneka sambal setia menemani jamuan berbuka puasa
taplak meja plastik motif kotak mirip dapur emak
taplak meja plastik motif kotak mirip dapur emak

Meja panjang dengan taplak meja plastik kotak-kotak mengingatkan dapur emak di kampung. Memang sekarang sedang tak ada Emak di sini tapi di ujung sana , ada gadis berkerudung sedang termenung.

Kue lumpur bertabur kismis
Rasanya manis hingga ke hati

Wahai Adik termenung yang manis
Bolehkah Abang duduk di sini

Aih Bang puasa-puasa kok modus sih…

Tumis Tahu Bumbu Tauco
Tumis Tahu Bumbu Tauco

Lupakan modus di atas. Puas dengan panganan kecil saatnye ke menu utama yang tak kalah menggoda. Pilihannya banyak tapi saya   fokus ke selera tradisional, seperti karedok ,  tumis tahu bumbu tauco  dan lalapan dengan beragam sambal. Bosan dengan menu beku puasa yang kadang terlalu “mewah” di lidah tapi tak memuaskan hasrat dan selera. *tsahhh…

Kelar makan besar – main course – saatnya ngemil cantik lagi. Mau yang manis ada onde-onde bertabur wijen atau misis. Suka yang gurih, bakwan terong bisa jadi alternatif. Disantap bersama mie kangkung berkuah panas memang paduan serasi. Tambahkan sedikit sambal dari dua belas jenis biar makin joss!!!


Masih kuat? di ujung sana masih ada beragam minuman dan takjil, mulai dari jenang candil, bubur ketan, bubur kacang hijau , es sarang burung sampai sekoteng. Saya melambaikan tangan dulu pada kamera *nggak kuat*.

Tapi kalau kamu maksa aku tetap makan degh , Beb. *lalu mengunyah sepotong kue bapel dan lumpur*. Ada yang mau nyuapin aku kue Putu Mayang? Iklas deh buka mulut dengan ngunyah.  😀

11053120_405582359626637_7467121268693292907_n

Allium Batam Hotel
Allium Batam Komplek Panorama
Nagoya Batam 29432 Indonesia
t: +62 778 452 888
f +62 778 450 113
contact@alliumbatam.com

10 pemikiran pada “Kampung Ramdhan Allium Batam Hotel

  1. Makanannya berpotensi membuat kalap jiwa raga Mas :haha. Paling pol memang sambel yang ada 12 macam itu, pastinya semua mereka unik-unik jadi fitrahnya memang mesti dicoba satu per satu :hehe. Enyak, enyak, semua enak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s