Entahlah ada pembagian job desk apa antara bapak dan ibu karena sejak duduk di taman kanak kanak sampai SMU. Tidak sekalipun bapak datang mengambil rapor kami anak – anaknya. Secara logika alasan paling umum adalah kesibukan bekerja apalagi saat kami duduk si SD, bapak kalau dinas luar kota bisa berminggu minggu bahkan bulanan.
Jadilah ibu yang profesinya house wife menjalankan semua tanggung jawab rumahan sampai mengurus anak sekolah termausk perintilannya Seingat saya, bapak turun tangan hanya saat mendaftarkan saya ke TK, setelah itu , ibu yang selalu berada di garda depan. Jika ada panggilan dari sekolah atau acara sekolah lainnya, ibu yang akan hadir.
Tiba Waktunya
Saat SMU saya berani untuk speak up, meminta sekali saja bapak datang ke sekolah mengambil rapor anak anaknya. Bapak yang sudah kadung nyaman dengan delegasi tugas ini, sepertinya agak gugup. Bagi beberapa orang mungkin tak mudah datang ke sekolah lalu dihadapkan pada kenyataan bahwa anak tak sesuai harapan, nilai tak bagus.
Saya, ibu dan Mbak Dian berkoalisi yang akhirnya membuat bapak menyerah, “iya cawu depan bapak yang ambil”, suara bapak terdengar menyerah.
“Nah gitu dong, sesekali ngurusin anak sekolah”, ibu mendukung.
Saya yang mendapat janji surga tentu tak ingin mengecewakan bapak, bertekat rapor cawu depan akan lebih baik . Paling tidak , nggak bikin bapak bangga duduk di bersama wali kelas lain.
Saat yang ditunggu pun datang, bulan berlalu dan rapor akan dibagikan ke wali murid. Hari itu saya dah dandan ganteng biar sepadan yang selalu tampil rapi jali dengan celana cutbrai dan kemeja lengan panjang. Tapi mendadak bapak mensapat tugas ke luar kota, ingin rasanya unjuk rasa.
Kami sangat paham, bagi bapak pekerjaan dan tugas kantor di atas segalanya. Pria Capricorn ini memiliki etos kerja terpuji , malam sebelum keberangkatan ia akan packing barang yang akan dibawa. Jelang keberangkatan dua jam sebelum driver menjemput, bapak sudah bersiap di teras rumah. Lengkap dengan pakaian dinas dan barang bawaannya.
Hari itu misi membawa bapak ke sekolah gagal dan ibu yang mengambil rapor. Saat rapor diterima saya tak bersemangat untuk melihat . Apapun hasilnya rasanya sama saja , bukan bapak yang mengambil .
“Nggak dilihat rapornya?”, ibu menyapa
“Nggak “, jawab saya sok ngambek.
“Yowislah… “ Ibu meletakan rapor di bufet ruang tamu.
Bapak Pulang
Ibu sangat paham kalau si bungsu Gemini ini, anak paling drama sedunia. Nggak heran kalau ada aksi demonstrasi nggak keluar kamar atau nggak doyan makan. Biasanya ibu super cuek seperti tidak terjadi apa apa. Sampai bapak pulang, ibu tak pernah membahas lapor .
Aku pun makin melow saat bapak tak paham dengan apa yang terjadi. Rasanya dunia sangat menyedihkan , bagai lagu ratapan anak tiri. Diam diam aku menyelinap ke ruang depan , mengintip bapak dan ibu asik bercengkerama di dapur. Kulirik rapor di bufet depan, diam diam kubuka dan tertulis peringkat ke dua untuk cawu ini.
“Yes aku berteriak kecil”, usahaku tak sia sia untuk bikin bapak bangga saat mengambil rapor. Ah tapi sudahlah orangnya juga nggak mau tahu , hatiku kembali mutung.
Eh tiba tiba , bapak masuk ruang depan. Aku pun kembali masuk ke kamar , pura pura tidur, ngambek berat. Tak lama bapak menyusul masuk kamar , ia sibuk membereskan pakaian setelah pulang dari luar kota. Sekilas aku memperhatikan tapi kembali menutupi wajah dengan bantal.
“Tiba tiba tangan Bapak menyelipakan sesuatu di tanganku.” Aku pura pura tidur tak bergerak .
Ketika bapak keluar kamar, kubuka genggaman tanganku . Terselip uang 20 ribuan baru.

wah bahagia sekali itu, 20 ribuan jaman segitu hehe.. btw sampai akhir sekolah akhirnya bapak pernah ambilkan ndak om ?
SukaSuka
kayaknya sekali aja sih
SukaSuka