Rekontruksi fisik fosil Homo Floresiensis yang digambarkan sesuai dengan legenda masyarakat . Mahluk pendek berbulu dengan telinga menjulur dan jalan membungkuk , Ebu Gogo
Jika mata jendela hati. Maka wajah adalah ekpresi jiwa mampu memancarkan segala bentuk rasa. Kernyitan dahi, kedipan kelopak mata, senyum di bibir dan tarikan garis wajah mampu menggambarkan semua, yang tidak terucapkan oleh kata-kata.
Berpacu dengan waktu, mengejar keindahan lain di kaki gunung Inerie . Setelah melewati bangunan sederhana, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) SINAR HARAPAN di desa Tiworiwu,Kecamatan Jerebu. Avanza meniti jalan berkelok dengan pemandangan elok. . Laju mobil tiga wanita terhenti di depan belokan, tidak tahan mengabadikan keindahan ngarai. Sedangkan Clement sudah lebih dulu berhenti dengan alasan buang air kecil. *Hmmm modus nih!
Hot and Cold Trip. Bukan jalan-jalan bawa dispenser ya. Tapi analogi perjalanan kali ini melalui perubahan suhu ekstrim. Efek geografis Flores yang merupakan kombinasi pantai dan pegununganan . Jika stamina tidak bagus akan cepat tepar, tertular virus flu atau batuk.
Malam kurang tidur, pagi tetap riang gembira, namanya juga jalan-jalan. Apalagi Clement merasa happy banget dapet angel guard, Si Mami. Tapi driver Clement bete berat, pagi-pagi dapet “kuliah” . Pria berbadan tegap cuma bisa mengangguk-angguk sambil garuk-garuk kepala mendengar pidato si Mami. (*makanya jangan nakal)
“Green…green... (*maksa)“. Ponsel Elyudien berbunyi. Clement menelepon, tidak tahu bicara apa. Elyudien manggut-manggut terus geleng-geleng terus manggut-manggut lagi sambil geleng-geleng (*efek house music dan jalanan berkelok), aneh pasti ada yang ga beres. Harusnya tadi kami berjumpa dengannya di desa tradisional Wologai. Supir Clement yang merekomendasikan kami singgah di Wologai sebelum menuju Ende. Tapi Clement malah menghilang. Mungkinkah Clement ketakutan jadi berondong tante-tante , suka makan kedondong dan naik odong-odong.
(05/09/2012) Perjalanan panjang melintasi bumi Flores, mengantar kami ke sebuah kampung adat bernama Wologai. Setelah menikmati satu malam dingin di Moni dan menjejakan kaki di Taman Nasional Kelimutu dalam balutan gigil angin pegunungan. Siang ini mendapat sambutan hangat warga Wologai di Desa Wologai Tengah , salah satu desa di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Dalam balutan udara dingin kami terkantuk-kantuk menuju Taman Nasional Gunung Kelimutu. Maklum saja saja, semalam hanya tidur 4 jam setelah drama cari penginapan paling murah se-Moni. Ya , ini kan backpackeran ibu-ibu (saya dan El ga diitung) jadi harus hemat. Tidak sia-sia setelah mondar-mandir bawa ransel besar ala Ayu Ting Ting kita dapat penginapan bagus setengah harga. Alasannya , kita kan cuma pake kamaranya 4 jam, pake kamar mandinya 1 jam, lobinya 4 jam. Berasa short time uey!