Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena

Kampung Benda dengan pemandangan gunung Inerie
Kampung Bena dan  Inerie

Berpacu dengan waktu, mengejar keindahan lain  di kaki gunung Inerie . Setelah melewati bangunan sederhana, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) SINAR HARAPAN di desa Tiworiwu,Kecamatan Jerebu. Avanza meniti jalan berkelok dengan pemandangan elok. . Laju mobil tiga wanita terhenti di depan belokan, tidak tahan  mengabadikan  keindahan ngarai. Sedangkan Clement sudah lebih dulu berhenti dengan alasan buang air kecil. *Hmmm modus nih!

 

“Come on girls, kita harus sampai Kampung Bena sebelum pukul 9″, ujar Elyudien sok bule . *Ga mau kalah ama Clement.

Memasuki kampung Bena dari sisi utara seolah melewati mesin waktu 1.200 tahun yang lalu, terlontar ke jaman Megalitukum, menhir berdiri tegak di sudut desa. Empat puluh lima rumah  beratap rumbia tersebar menempati undakan  memanjang ke selatan. Masing-masing  undakan didiami oleh :  Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Rumah Suku Bena, berada di tengah-tengah, karena suku ini dianggap suku yang paling tua, dan merupakan pendiri Kampung.

Tiap rumah adat  memiliki bhaga dan ngadha di depannya. Bagha, simbol nenek moyang perempuan. Bhaga berupa miniatur rumah adat yang dipersiapkan untuk menerima laki-laki yang menikahi wanita di kampung ini. Sedangkan Ngadha, rumah berpayung dengan satu tiang kayu yang diukir, akar kayu tersebut harus dibuat bercabang dua dan ditanam dengan darah babi atau ayam. Ngadha  memiliki tiang tunggal dari jenis kayu khusus yang keras karena berfungsi juga sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika upacara adat.

Tiap rumah adat ditandai dengan ukiran (weti) dan di atapnya terdapat senjata  berguna untuk melindungi penghuninya dari roh-roh jahat. Rumah keluarga inti pria disebut sakalobo. Ini ditandai dengan patung pria memegang parang dan lembing di atas rumah. Sementara rumah keluarga inti wanita disebut sakapu’u di atasnya terdapa miniatur bhaga bermakna motivasi hidup bagi anak-anak mereka agar selalu ingat dengan kampungnya.

Kampung Bena dihuni 326 jiwa dalam 120 keluarga. Akan tetapi, ikatan adat dari kampung ini lebih luas lagi karena ada ribuan jiwa  keturunan warga Bena bermukim di luar kampung adat. Warga kampung Bena menganut sistem kekerabatan matriakat (garis keturunan perempuan). Lelaki Bena yang menikah dengan wanita suku lain maka akan menjadi bagian dari klan istrinya.

Warga kampung Bena bermata pencaharian sebagai peladang , kebunnya berada ngarai di sekeliling kampung dan lereng gunung Inerie . Mereka sangat menghormati alam , membiarkan  miring tanah apa adanya untuk ditanami. Mereka yakin di puncak gunung Inerie bersemayam dewa pelindung, Zeta. Gunung Inerie dianggap sebagai hak mama (Ibu) dan Gunung Surulaki dianggap sebagai hak bapa (Ayah) oleh warga Bena.

Kami menyambangi para mama yang sedang memintal kapas menjadi benang. Senyum ramah mengundang kami untuk berinteraksi, mengobrol. Perlu sedikit kesabaran berbicara dengan kaum manula yang lebih fasih berbahasa Nga’dha dibandingkan Indonesia. Tapi sekali lagi, senyum bahasa universal bagi siapa saja. Para warga sangat paham dengan bahasa ini , kebanyakan yang datang kemari wisatawan mancanegara.

Saya dan Elyudien berjalan ke ujung desa menapaki undakan tertinggi menemukan panorama indah. Ngarai  dalam  menghubungnkan gunung hijau dengan Laut Sawu di sebalah kananya. Mungkin jika di lihat dari bawah sana Kampung Bena terlihat seperti kapal besar , saya dan El nakodanya. Tapi mana ada dua kapal dinakodai dua orang. Ok, saya nakodanya dan El bajak laut yang akan merebut kapal. *Khayalan tingak tinggi.

Sebelum pulang kembali Elyudien bercengkrama dengan mama-mama muda dan bertanya.*modus baru. Bagaimana 45 rumah dihuni 120 keluarga. Para mama menjelaskan bahwa satu rumah bisa didiami 3 sampai 4 keluarga. Biasanya mereka tidur bersama di ruang yang sama karena rumah adat memang tidak tersekat.

Dengan polos Elyudien kembali bertanya. “Kalo  tidurnya rame-rame kapan bikin anaknya. Apa kaga ketuker tuh pasangannya?”

“Huaaa Si Elyudien pertanyaan kaga sopan” teriak saya.

Tapi kontan seorang mama menjawab.”Kita sudah tahu ukuran pasangan masing-masing, jadi tidak mungkin ketukar”. Dalam logat Flores. Kontan semua penduduk dan pengunjung kampung tertawa.

ngadhu - bangunan bertiang tunggal untuk menambatkan hewan pada pesta adat
ngadhu – bangunan bertiang tunggal untuk menambatkan hewan pada pesta adat
Bhaga - pondok kecil di tengah desa
Bhaga – pondok kecil di tengah desa
di kaki gunung Iriene
di kaki gunung Irenie
menhir di tengah desa Bena pengaruh jaman megalitikum
menhir di tengah desa Bena pengaruh jaman megalitikum
simbol garis keturunan pemilik rumah
sakabolo(kiri) ; sakapu'(kanan)
menenun kain (kiri); memintal kapas (kanan)
menenun kain (kiri); memintal kapas (kanan)

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

35 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s