Curahan, ibu

Bestie Untuk Bapak

Dengan bertambahnya usia, lingkaran pertemanan akan terus mengecil hingga akhirnya yang tersisa, hanya yang satu frekuensi dan memiliki ikatan kekerabatan. Bukannya anti sosial tapi dengan keterbatasan fisik dan hati saat tua, kita tak memiliki kemampuan bersosialisasi luas. Hanya keluarga dan tetangga yang menjadi teman dekat. Itu kalau punya tetangga. Jika tinggal di apartemen? Ya teman terdekat hanya keluarga dan pasangan. Seperti ibu dan bapak, setelah hidup 70 tahun lebih bersama. Sahabat paling dekat hanyalah pasangan yang setiap hari menemani.

Ini persis dengan perkataan ibu, “Pada akhirnya rasa ini (cinta dengan bapak) bukan cinta yang menggebu-gebu saat remaja. Tapi cinta seperti dengan kakak, orang tua dan sahabat.”

Hingga akhirnya ibu berpulang. Siapa yang akan menjadi Bestie bapak?

Hari ke tiga kematian ibu, saya membuka ponsel ibu lalu mencoba mencari siapa orang yang ia hubungi terakhir kali. Ternyata yang ia hubungi hanyalah bapak dan tukang sayuran langganan ibu. Tapi ketika membuka browser dan laman google, air mata saya meluncur deras tanpa henti. Saya yang tak pernah menangis sehebat ini, akhirnya nangis sesungukan. Dari kata kunci yang tersisa, sepertinya ibu sudah paham dengan penyakitnya. Nama rumah sakit, dokter paru serta biaya pengobatan kanker paru, ia googling.

“Ya Allah mengapa kami tak sepeka ini. Jauh sebelum kami tahu, ia sudah menduga dan mencari informasi penyakitnya.”

Kembali saya scrol kata kunci google yang tersisa. Ibu mencari suplemen sendi untuk bapak. Dan sebelum berpulang meminta saya untuk membelikan dan men-stock beberapa kotak. Di akhir hayatnya, ibu masih memikirkan bapak.

Tiba-tiba muncul nama “N”, mantan bapak. Ya perempuan Jogja ini rela mutasi kerja ke Lampung demi pujaan hatinya. Tapi sayang tak berjodoh dengan bapak karena bapak menikah dengan ibu. Hubungan N dengan keluarga kami sangat baik. Saya sempat ingat dulu, saat SD saya dan ibu pernah mendatangi rumahnya di daerah Teluk Betung. Tapi kami sempat kehilangan kontak N sekeluarga setelah kami pindah ke Natar

Mbak Dian berkata sejak bertahun lalu ibu memang mencari N dan ingin bertemu. Kebetulan N ini satu tempat mengajar dengan ibu rekan kerja Mbak Dian. Setelah melihat nama N berkali-kali di ponsel ibu, kami berkeyakinan harus bertemu dengan N.

Ibu memang pernah bercerita jika N tak berjodoh dengan bapak bukan karena beliau menjadi orang ke tiga. Beliau ingin bertemu dengan N dan meminta maaf sebelum ajalnya tiba. Ia benar-benar ingin bertemu dengan perempuan yang hatinya seluas samudra. Setelah tak berjodoh ia tetap berusaha menjalin tali silaturahmi dengan kami sekeluarga.

Mencari Jejak N

Tak sulit bagi Mbak Dian mencari jejak N yang ternyata beliau sekeluarga masih tinggal di Lampung. Melalui rekan kerjanya Rina akhirnya Mbak Dian mendatangi rumah N. Kebetulan N pernah mengajar di satu sekolah dengan ibunya Rina. Sebelum bertemu melalui ibunya Rina, Mbak Dian sudah berkomunikasi dengan N dan berjanji mendatangi rumahnya.

Mbak Dian tak pernah bercerita rencana ini kepada bapak. Berpamitan ke dokter gigi, Mbak Dian bertemu dengan N. Awalnya memang terasa sangat kaku, ya kita tahu apa yang telah terjadi antara bapak dan N. Itukan masa lalu, keinginan terbesar kami hanya ingin bertemu dengannya dan memintakan maaf atas nama ibu.

Setelah mengobrol dan menyampaikan niat, Mbak meminta N untuk berfoto bersama lalu membagikan ke grup keluarga tanpa memberikan keterangan. Ya ternyata bapak mengenal sosok di foto lalu menelepon Mbak Dian. Sebagai anak yang iseng kita gantung dulu, tunggu sampai di rumah baru diceritakan ke bapak.

Tali Silaturahmi
Akhirnya tali silaturahmi tersambung kembali. O iya just info saja, ternyata suami N ini sudah wafat 9 tahun lalu. Ya kami cuma berharap bapak ada teman ngobrol online atau telepon. Karena semenjak ibu berpulang, bapak tak ada teman mengobrol ketik anak-anaknya sibuk. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengurus “warisan ibu” : ayam, kucing dan tanaman.

Sebelum tidur biasanya bapak wa aku. ” Dek lagi ngapain?” Aku langsung paham, ini artinya beliu butuh teman bicara. Saya yang dulu tak pernah menelepon bapak lebih dari 15 menit, sekarang bisa mengobrol berjam-jam dengan beliau. Ya aku tahu bapak pasti kesepian, butuh seseorang. Aku makin paham istilah, satu orang tua bisa mengurus 5 anak tapi 5 anak belum bisa mengurus satu orang tua.

Sejak ibu berpulang, bapak yang tak pernah tensinya tinggi, kini harus rutin meminum pil hipertensi. Ya jelas ada yang berbeda ketika ibu tak ada. Saya saja masih suka rindu apalagi bapak yang sudah 50 tahun bersama. Sejak bapak pensiun dapat dipastikan keduanya tak pernah berpisah, selalu menghabiskan waktu bersama.

Semoga tali silaturahmi bisa membuat bapak lebih terhibur. Oh iya kata Mbak, minggu depan mereka akan bertemu.

“Ciee… Ciee…”, celoteh saya ringan 😀

“Ngok…”, Mbak Dian berkomentar. Lalu kami tertawa bersama.

Teman Curhat

Seratus dua puluh hari kepergian ibu. Telepon saya berdering di jam tak biasa. Minggu pagi, bapak menelepon, suaranya riang. Tak getar kesepian seperti biasanya.

“Sudah sarapan Pak… Sudah sarapan kasih makan ayam, kucing dan siram kembang…”

“Rajinnya…”

“Kalau nggak rajin nanti dimarahin sama yang sana (N).”

“Heh?”

“Iya katanya lansia harus punya kegiatan biar sehat. Ini nelpon kamu dia yang ingetin. Katanya jangan anak saja yang menelpon orang tua. Orang tua juga harus gantian, ya kadang anak juga suka lupa karena sibuk.”

“Degh!” Air mata saya langsung mengalir tanpa diperintah teringat ibu. Saya semakin yakin semua ini bukan kebetulan. Jika ibu tak meninggalkan nama N di ponselnya, semua tidak akan terjadi. Di akhir hayatnya, Ibu masih mencarikan Bestie untuk bapak agar beliau tidak kesepian.

3 tanggapan untuk “Bestie Untuk Bapak”

  1. aku bacanya tiba tiba jadi berkaca-kaca mas danan.
    Jalan Tuhan ngga bisa ditebak juga dan kalau ibu menghapus jejas history pencariannya, juga ga bakalan seperti ni ya

    Alfatihah buat ibu nya mas danan

    Suka

    1. terimakasih sudah mampir kak, benar… padahal waktu itu hape ibu nggak mau kita charge dan nggak kita isi pulsa kebetulan masa berlaku habis, tapi aku kaya ada feeling harus buka hapebeliau yang memang tak pernah dikunci

      Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar