Pancur, Venesia Asia Negeri Seribu Pulau

Sore itu kendaraan yang kami tumpangi bergegas menuju Pancur sebuah kota kecil di barat laut pulau Lingga usai menyambangi air terjun Resun.

“ Sebelum magrib kita harus sampai hotel”, ujar sang pemandu.  Bagi itik yang digiring kami berduyun menarik tas melalui gang-gang sempit. Aroma anyir air laut menyakinkan intuisi bahwa kami akan dibawa mendekat ke air. Dan benar saja berikutnya sebuah jembatan melintasi sungai yang langsung terhubung dengan laut.

Tepat di depannya pemandangan rona jingga menghampar mambuat kami ternganga tak dapat berkata apa-apa. Oh ini maksud sang pemandu, mengapa kami harus bergegas dan sampai di sini sebelum senja tiba.

China Town di Teluk Kecil

Meski berada di tepi laut nuansa Pancur seperti di tepi danau. Ketika memandang jauh ke depan tidak ada garis horison batas antara bumi langit, yang terlihat gugusan bukit bergelombang dengan awan putih berarak di atasnya. Gunung Daik dengan puncak bercabang dua terlihat gagah dari sini.

Sepertinya memang tidak seperti di Indonesia, merasakan nuansa Pancur jelang senja. Malam hari lampion merah marun sisa perayaan Imlek berpendar di sepanjang jalan dan atas sungai membuat suasana terasa bergitu romantis seperti di Venesia versi Asia.

Penduduk berwajah  oriental dengan mata sipit berjalan bersama menuju Vihara dekat pantai untuk menghadiri acara lelang. Mayoritas penduduk Pancur keturunan Tionghoa dari kelompok Hakka. Hakka (Kèjiā 客家) adalah salah satu kelompok Tionghoa Han yang terbesar di Republik Rakyat Tiongkok. Hakka merupakan kelompok Han terakhir yang bermigrasi ke selatan dari Tiongkok Utara secara bertahap semenjak abad ke-4 M dikarenakan bencana alam, perang dan konflik.

Kepiawaian penduduk Pancur berdagang membuat Pancur menjadi salah kota perniagaan di Lingga. Toko-toko kelontong berjejar di bantaran sungai dengan rabat lebar memudahkan pedagang dan pembeli berbaur untuk melakukan transaksi.  Jadi tidak mengherankan jelang malam kota ini cukup ramai disambangi penduduk sekitar pesisir dan pulau sekitar  Lingga.

Rumah panggung memenuhi bantaran sungai, sambung menyambung menjadi satu membentuk kota terapung. Jangan membayangkan rumah di tepi sungai Ciliwung yang amburadul tapi ini  berjajar rapih dengan rabat besar yang tersambung membentuk jalan nyaman di pinggir sungai.

Sepenggal Pagi

Bonus besar pagi ini adalah ketika membuka kamar hotel mendapati langit dan laut berpendar kuning keemasan. Pagi di Pancur terasa  begitu bersahaja, menyaksikan perahu penumpang anak sekolah pelan-pelan riaknya memecah hening. Lambat laun keramaian memecah sepi bersama kapal-kapal feri bersiap akan berangkat ke Tanjung Pinang dan Telaga Punggur , Batam

Sejak jalan darat antara Daik Lingga dan Pancur dibangun pelayaran domestik menuju Daik tidak seramai dulu. Padahal dulu dalam sehari ada 5 kali jadwal penyebrangan. Kini orang lebih memilih jalur darat selain karena lebih nyaman juga lebih aman. Ternyata jalur pelayaran sungai dengan pemandangan eksotis itu penuh resiko dari ancaman buaya muara yang konon terkenal agresif.

Beberapa buah jembatan melintas di atas sungai membuat saya betah berlama-lama duduk di atasnya sambal melihat aktivitas pagi. Sesekali sampan kayu milik warga melintas menjadi moda transportasi utama dan lambat laut mulai tergantikan dengan sepeda motor.

Setelah semua keramaian pagi,   lambat laun Pancur kembali sepi seperti kota-kota kecil di Kepulauan Riau. Sepi untuk menanti sementara  mereka yang akan singgah sementara atau berniaga.

Tulisan ini tayang di Batam Pos, 27 Juli 2019

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: