Singapura Travelling

Mendukung Timnas Indonesia di Singapura – Piala AFF 2018

“Mimpi apa ya, Entong nonton sepak bola. Pasti Batam langsung hujan badai.” Begitulah kira-kira komentar ibu kepada Mas Gunawan, kakak ipar, ketika tahu saya menoton sepak bola. Dan benar saja, hari itu Batam hujan sangat lebat dari pagi sampai sore, semoga ini bukan kutukan karena saya menonton pertandingan sepak bola.

Aslinya saya tidak terlalu suka dengan olahraga sepak bola,  jangankan menendang bola untuk menontonnya saja  enggan. Menurut saya sepak bola itu olahraga yang paling tidak logis. Bayangkan  22 orang memperebutkan satu buah bola, padahal Tuhan telah menganugerahkan dua bola kepada setiap pemainnya, kenapa harus berebutan selama 90 menit.

Kak itu bukan bola tapi bijih.

Apapun namanya tapi bentuknya tetap mirip. Dan yang paling tidak logis, para fans fanatik bisa saling baku hantam hanya untuk membela tim kesayangannya.

Mengapa Akhirnya Menonton?


Jika tanggal 9 November 2018 kemarin akhirnya saya bertolak dari Batam menuju National Stadium di Singapura karena penasaran dengan suasana pertandingan sepak bola. Bayangkan pertandingan  2 x 45 menit  bisa mengubah dunia dan yang paling ekstrim  bisa mengubah suasana hati kaum adam.  Hayo siapa yang mood cowok atau suaminya langsung  turun gegara tim kesayangannya kalah.

Sebagai traveler, selain jalan-jalan cantik saya juga ingin mencoba sport tourism yang kini menjadi tren baru di Indonesia. Memang sih jika dibandingkan negara tetangga yang rutin menggelar Moto GP dan Formula One negara kita agak terlambat.Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Persiapan Menonton Sepakbola


Tidak ada persiapan khusus untuk menonton pertandingan sepak bola di negara tetangga. Setelah membeli tiket pertandingan seharga 9 SGD dan feri 270 ribu meminta ijin pulang lebih awal kepad bos. Waktu jam kerja usai pukul 16:30 WIB dan pertandingan pukul 19:00 WIB, jadi setidaknya kami harus menyebrang dengan kapal feri pukul 16:00 WIB.

Sebelum sampai di Harbourfront kapal yang kami tumpangi sempat tertahan karena ada kapal pesiar yang sedang melakukan olah gerak. Akibatnya kami telat sampai di Singapur dan telat sampai di Kallang National Stadium.

Pukul 20:00 waktu setempat saya dan Yuarnanto sudah di pintu 5 stadion dan lagu Indonesia sudah berkumandang. Kami bergegas mencari pintu 15 dan masuk ke dalam antrian yang sudah mengular. Dan dengan sangat menyesal saya harus mengiklaskan snack dan infus water. Karena makanan dan minuman tidak diijinkan masuk ke dalam stadion. Beruntung sih kamera dan lensa panjang yang saya bawa tidak ditahan, karena sebetulnya di tiket tertulis, bukan tiket untuk fotografer dengan kamera profesional.

14 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s