
Hampir tiap kota memiliki urban legend. Biasanya kisah yang beredar dari mulut ke mulut bernuansa mistis. Namun bagaimana jika karya sastra menjadi urban legend sebuah kota.

Hampir tiap kota memiliki urban legend. Biasanya kisah yang beredar dari mulut ke mulut bernuansa mistis. Namun bagaimana jika karya sastra menjadi urban legend sebuah kota.

“Bagaimana jika saya hanya memiliki waktu dua jam di kota Padang. Spot apa yang mewakili wisata alam, budaya dan kuliner”, tanya Imam Basuki, backpacker asal Malang kepada rekan backpacker Padang.

Jangan pernah mengkotak-kotakan diri menjadi backpacker, flashpacker,explorer atau apapun. Kita tidak akan pernah tahu jika Tuhan mentakdirkan menjadi traveller tajir. Sanggupkah menolaknya.
“Bang ada pacu kuda di Takengon tanggal 21-24 Februari 2013.” Pesan singkat Ria, backpacker asal Takengon. “Waktunya bertepatan dengan jadwal off duty 20-26 Februari 2013 “. Hati saya bersorak gembira. Tambah cuti beberapa hari bisa blusukan lagi di Aceh. Mengulang pengalaman dua tahun lalu.

Firasat itu sinyal dari Maha Kuasa tentang masa depan, butuh kepekaan hati dan rasa untuk menyadari kehadirannya.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo”

Perjalanan seharusnya mampu mengasah kepekaan hati. Membuat kita lebih peduli kepada sesama manusia. Serta memberikan kontribusi nyata kepada mereka yang membutuhkan. Bukan menjadikan kemisikinan dan keterbelakangan sebagai objek eksotis penuh estetika.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami”

Bayangkan jika sawah di seluruh nusantara diatur dalam sistem adat seperti Lingko. Tidak akan ada lagi areal persawahan beralih fungsi menjadi komplek perumahan atau pabrik.
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Ijo Royo-Royo Sarang Laba-Laba”

Rekontruksi fisik fosil Homo Floresiensis yang digambarkan sesuai dengan legenda masyarakat . Mahluk pendek berbulu dengan telinga menjulur dan jalan membungkuk , Ebu Gogo
Lanjutkan membaca “Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta”