Nusa Tenggara Timur Travelling

Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Ijo Royo-Royo Sarang Laba-Laba

sawah sarang laba-laba
sawah sarang laba-laba

Bayangkan jika  sawah  di seluruh  nusantara  diatur dalam sistem adat seperti Lingko. Tidak akan ada  lagi areal persawahan beralih fungsi menjadi komplek perumahan atau pabrik.

Dalam pikiran saya, Flores identik dengan sabana kuning gersang. Namun siapa sangka di Manggarai ada dataran luas dengan  hamparan sawah ijo royo-royo mirip foto karya Adi Wiratmo, salah satu foto terbaik Dji Sam Soe Potret Makaharya Indonesia.  Tidak mengherankan kabupaten Manggarai menjadi lumbung padi propinsi Nusa Tenggara Timur dengan surplus produksi hingga 30.000 ton per tahun.

Jika di Bali mengenal sistem persawahan Subak untuk mengatur irigasi. Maka dalam masyarakat Manggarai terdapat tradisi pembagian tanah , Lingko. Mereka menganalogikannya seperti gula dalam manisnya madu – tembong one, lengko pe’ang . Berarti gendang di dalam, tanah ulayat di luar.Di mana sebuah gendang yang menggantung di tiang utama sebuah rumah induk adat (Mbaru Gendang). Manifestasi kekuasaan adat beserta pemangkunya (dalu dan tua teno), satu ungkapan territorial kekuasaan.

Lingko wujud perkembangan budaya masyarakat Flores dari nomaden di hutan menjadi menetap bercocok tanam – agraris. Layaknya manusia, Lingko memiliki nama seperti nama tumbuhan. Status kepemilikannya hak komunitas  dan besaran tanah diatur dengan sistem Lodok. Luasnya tergantung jumlah penerima hasil,  relasi dengan para tuan tanah serta status dalam sebuah beo. Tu’a teno biasanya mendapatkan bagian terbesar karena memiliki banyak tanggung jawab.

Pada bagian tengah sawah ditanam teno – kayu titik pusat – yang menjadi poros pembagian lingko. Filosofinya sesuai dengan bentuk Mbaru Niang – rumah tradisional – di desa Wae Rebo atau Pu’u. Dimana setiap rumah memiliki siri bongkok – tiang pancang utama di tengahnya dan dikelilingi delapan tiang penyangga luar , siri leles. Di daerah Cancar , teno yang ada di tengah lingko ditanda oleh kayu berbentuk ketuhanan yaitu , mangka.

Akses menuju Cancar cukup mudah, berjarak 12 kilometer dari Ruteng.  jika sudah menemukan keramaian pertigaan pasar Cancar akan mudah mencari bukit tempat melihat Lingko.

Bersama guide – Bapak Blasius – kami mendaki bukit di belang rumahnya. Menapaki tanah merah  berbatu, jaraknya tidak jauh tapi tingginya cukup untuk memompa jantung bekerja keras. Hembusan dan tarikan nafas berpacu menghirup oksigen dan melepas gas  karbon dioksida  pagi hari. Segar tapi melelahkan.  Sepuluh menit kemudian terlihat 14 lingkaran besar  larik sawah berbentuk sarang laba-laba dengan panorama gunung dan langit. Lingkaran ini merupakan lingko yang dimilik masing-masing kampung. Kampung Dumu dan Meler masing-masing memiliki 3 lingko. Sedangkan kampung Cara, Veon, Laja, Mangge , Nggawang,  dan Sampar memiliki 1 lingko. Di dalam lingko terdapat lodok yang dimiliki oleh beo – pewaris tanah – dan pendatang yang menikah dengan masyarakat setempat.

Lingko memang unik dan indah , menjadi tempat ideal bagi pecinta fotografi mengabdikan “sarang laba-laba”  di bumi Flores. Namun sejogjanya kita  tidak hanya mengaguminya tapi merenungkan makna filosofinya lebih dalam. Bayangkan jika  sawah  di seluruh  nusantara  diatur dalam sistem adat seperti Lingko. Tidak akan ada  lagi areal persawahan beralih fungsi menjadi komplek perumahan atau pabrik. Dan negeri ini mampu mencapai swasembada pangan yang sesungguhnya.

***

Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indoenesia. Inspirasi foto bertajuk ”Hijau Negriku” oleh Adi Wiratmo.

pemandu - Bapak Blasius
pemandu – Bapak Blasius
lingko dibagi ke dalam kotak-kotak lodok
lingko dibagi ke dalam kotak-kotak lodok
luas pembagian sawah berdasarkan jumlah tanggungan dan tanggung jawab
luas pembagian sawah berdasarkan jumlah tanggungan dan tanggung jawab
kabupaten Manggarai - lumbung padi Nusa Tenggaara Timur
kabupaten Manggarai – lumbung padi Nusa Tenggaara Timur
ijo royo-royo pemandangan di Manggarai
ijo royo-royo pemandangan di Manggarai

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

35 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.