Perjalanan Religius Bersama Bos

Judul tulisan ini sekilas terlihat begitu religius dan berdedikasi. Bayangkan Ketika bawahan dan atasan (bukan sempak ama beha) kompak melakukan perjalanan religius bersama setelah setiap bekerja keras. Enggak Bro! Nggak semanis itu, aslinya ini sebuah dilema. Ketika loe pengen banget melupakan sejenak rutinitas pekerjaan, tetiba impian ambyar karena liburan bersama Bos. Eh umroh ding!

Hidayah datang ke tanah suci bisa kapan saja.

Tahun 2018 bisa dibilang tahun penuh hidayah. Tidak tahu mengapa usai malam pergantian tahun 2018, gua kepikiran untuk umroh.

“Kayaknya oke juga nih untuk umroh.” Sekali lagi gua melihat foto Ka’bah di internet. Dengan sigap gua browsing mencari komunitas umroh mandiri di media sosial. Begitu gua kontak koordinatornya bilang masih ada seat langsung hunting tiket pesawat Singapura-Istanbul-Jakarta.

Habis umroh ke Turki dulu yuk!

Mas mau umroh kok ke Turki? Maaf ini Umroh plus piknik dan pesawatnya transit di Jeddah sebelum sampai Istanbul. Tranit 9 harian gitu, jadi bisa stay dulu di Mekkah dan Madinah.

Tapi umrohnya nyambi jalan-jalan.

Tuh kan niat awalnya aja sudah salah. Masa umroh disambi piknik ke Turki. Gini ya Dek, hidayah itu bisa datang dalam bentuk apa saja termasuk piknik. Itu lho kaya Mamah-Mamah jaman now yang tetiba menutup aurat dengan hijab dan gamis tapi niat sampingannya ingin terlihat fashionable. Kalau kata Nikita Mirzani, anggap ini sebuah proses walau akhirnya proses bisa gagal lalu kembali ke awal. Jadi jangan tanya kalau Neng Nikita sekarang membuka hijabnya. *ghibah mode on*. Kita nggak berhak bertanya atau menghakiminya tapi boleh dong kepo’in akun instagramnya.

Memohon Cuti Umroh ke Bos

Jadi rencanya gua akan berangkat umroh (plus piknik) bulan April. Sebetulnya sejak bulan Januari sudah mau mengajukan cuti ke bos tapi berhubung pekerjaan sedang lumayan padat. Gua tunggu sampai suasana suasannya pas banget. Ya kaya nembak cewek itu harus di momen yang pas begitu juga mengajukan cuti.

Bulan Februari adalah saat yang tepat untuk meminta cuti sama bos. Secara ini kan bulan kasih sayang, nggak mungkinlah doi marah-marah. Setelah menanti hampir satu bulan akhirnya mendapat momen yang pas di sebuah warung tenda. Dalam suasana tidak terlalu romantis, bos gua dengan wajah bahagia mengudapi lele bakar bersama sambal terasi super nikmat setelah seharian kita rapat berseri sampai 4 kali.

“Hmmm… Pak bulan April saya mau cuti agak panjang.” Gua membuka percakan samil nyolek sepiring 3T (tahu, tempe dan telur).

“Berapa lama?” Bos gua masih melumati kepala lele bakar sambil sesekali menjilati tangan yang penuh sambal terasi.

“Dua Minggu aja bos.”

“Mau kemana. Lama bener. Nikah ya?” Ya elah kenapa selalu ada kata-kata (((NIKAH))).

“Bukan Bos, saya mau umroh.”

“Apa kamu mau umroh!” Kepala lele bakar yang barusan masuk ke dalam mulut si Bos, nyaris terlontar keluar dan gua berusaha pasang wajah tenang walau aslinya pengen ngakak.

“Iya Bos.”

“Serius Nan?”

“Ho oh.”

“Kok aku nggak diajakin?”

“Heh?”

“Saya ini sudah lama lho ingin berangkat umroh tapi belum kesampaian. Saya ikutan deh. Pakai travel agent apa? Habis berapa.” Pertanyaan panjang dan runut itu harus saja jawab seperti rapat koordinasi mingguan, hingga pada suatu kesimpulan yang membuat saya galau.

“Oke Nan, fix saya ikutan. Nanti saya kontak koordinator umroh mandiri kamu. InsyaAllah kita bisa umroh bareng.”

Semalaman saya nyaris tidak tidur membayangkan akan umroh bersama bos. Duh, ini akan jadi piknik terburuk saya. Ya Allah, apakah ini jawaban atas kejumawaan saya selama ini yang tidak ingin traveling dengan teman sekantor lalu engkau menurunkan cobaan teramat berat. ((( UMROH BERSAMA BOSS)))

Kabar Gembira Lebih Gembira

Melihat bos yang begitu antusias dan bersemangat rasanya saya tidak mungkin menghalangi niat baiknya beribadah. Wajahnya begitu sumringah ketika sudah dapat tiket dan yakin akan berangkat bulan April. Dan akhirnya dia membuat pengumuman penting di rapat mingguan kantor kepada semua orang.

“Hmmm… Bapak-Bapak sekalian bulan April saya akan cuti agak panjang tolong nanti di-handle pekerjaan saya sekitar 2 minggu. Saya dan Danan mau umroh.” Sontak seluruh peserta rapat hening.

“Danan Umroh. Mimpi apa dia?” Sekilas saya melihat wajah tak percaya.

Danan umroh, wah itu sih keajaiban.

“Iya rencananya kami juga mau ke Turki juga.” Senyum si bos semakin sumringah. Duh rasanya saya ingin sembunyi di bawah kolong meja.

Berbulan-bulan saya merahasiakan rencana ini akhirnya orang sekantor tahu bahkan beritanya menyebar sampai ke kantor pusat dan kantor regional lain.

“Selamat ya Nan, saya dengar mau umroh ya.” Sebuah pesan pendek di ponsel membuat senyum saya semakin getir. Karena sesungguhnya bagi saya umroh itu bukanlah hal yang diworo-woro. Ini merupakan ibadah antara saya dan Tuhan, seharusnya orang lain tidak perlu tahu. Biarlah orang tahunya saya pergi traveling biasa.

Biarlah tahunya orang saya piknik biasa bukan umroh.

“Nan. Kira-kira kalau bikin paspor nembak berapa lama ya?” Bos bertanya dengan wajah serius.

“Paspor Bapak sudah mau habis?”

“Bukan. Istri saya ngambek dia minta umroh tapi belum punya paspor.”

“Ya sudah Pak bikin saja.” Saya antusias memberikan ide.

“Tapi di Depok agak susah bikin paspor katanya formulirnya habis. Besok mau coba sih di Bogor. Mana pendaftaran deadline tinggal beberapa minggu lagi.”

“Hayo Pak dicoba. Insyallah niat banget akan dipermudah oleh Allah.” Mendengar kabar ini rasanya saya ingin sujud syukur. Kalau istri si bos ikut artinya saya nggak akan selalu berdua sama si bos.

Dalam setiap tarikan napas saya selalu mendoakan semoga paspor istri bos lekas jadi. Dan akhirnya saya dapat kabar gembira, paspor istri bos jadi dan mereka berdua akan berangkat umroh bersama. *sujud syukur* Eh bertiga ding sama saya.

Persiapan Umroh si Bos

Beruntung saya tidak pernah menghalangi niat bos untuk umroh. Ternyata impian dia ke tanah suci lebih besar dari saya, bayangkan hampir setiap hari dia menonton video umroh dan haji di youtube. Buku panduan umroh haji tak pernah lepas dari tangannya.

“Nan jangan lupa minggu depan ada manasik.”

“Minggu ya. Sepertinya saya nggak bisa.” Batin saya lebih memilih piknik daripada manasik di akhir pekan. Duh nistanya gua.

“Memang sih jaman sekarang bisa belajar dari youtube atau buku tapi saya mau datang deh sekaligus silaturhami dengen jemaah umroh lain. Kamu ada pertanyaan titipan?”

“Enggak Pak. Tapi nanti minta saja daftar barang yang wajib dibawa saat umroh.”

“Oke.”

Ternyata kebanyakan orang kalau umroh pakai baju kaya gini ya? Besok belanja online deh.

Walau tidak ikut manasik saya tetap dong mendapat informasi lengkap dari grup wa umroh tapi memang nggak selengkap bos saya yang ternyata memang banyak bertanya. Dan begitu hari Senin buku panduan umroh dan haji sudah bertengger manis di meja kerja.

“Nan itu buku panduannya titipan dari Pak Oscar.” Duh si bos tahu aja kalau saya sama sekali belum belajar ritual umroh dari buku. Ya jaman sekarang dengan menonton youtube proses belajar akan lebih mudah, selain itu ada beberapa aplikasi di gawai yang menjadi panduan.

“Nan kamu sudah packing?”

“Untuk dinas luar kota ke Bandung?”

“Bukan… Untuk umroh.”

“Heh?” Saya sempat tertegun bukannya keberangakatan masih satu bulan lagi?

“Kebetulan kemarin sepulang manasik istri ngajak belanja perlengkapan haji lalu malamnya langsung packing biar nggak ada yang lupa.”

Kain ihrom ini aslinya milik bapak makanya agak jungkis.

“Deg!” Duh rasanya seperti diingatkan. Sejujurnya untuk keberangkatan umroh ini saya tidak terlalu banyak persiapan. Kain ihrom saja pinjam punya Bapak dan baru akan dikirimkan minggu ini. Pada awalnya sempat akan membawa sebuah ransel besar ukuran 70 L saja tapi setelah tahu jatah bagasi 23 kg x 2 saya membawa ransel dan koper.

“Eh jangan lupa, minggu ini kita suntik meningitis untuk mengajukan visa.” Bos saya kembali mengingatkan. Ketika saya hampir lupa berfoto untuk kepentingan mengurus visa, lagi-lagi ia mengingatkan dan memberikan dispensasi di jam kerja untuk mengurus semuanya.

Dan pagi-pagi berikutnya saya selalu mendengar suara video youtube mengumandangkan ” Labbaika allahumma labbaik, Laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak…”, dari ruangan si bos. Saya yang awalnya menganggap umroh kali perjalanan traveling biasa. Seperti diingatkan oleh Allah bahwa saya akan menjadi tamunya dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Tuhan selalu punya cara untuk membimbing dan memangggil umatnya. Termasuk dengan cara yang tidak pernah duga sebelumnya. Iya melalui si bos yang selalu saja mengingatkan hal-hal kecil sebelum berangkat ke tanah suci.

Umroh ke Tanah Suci

Hari yang dinanti itu tiba, akhirnya kami bertiga umroh mandiri dari Singapura. Dan bayangan yang selama ini saya takutkan, kalau si bos bakal membahas pekerjaan salah besar. Saat umroh ia menaggalkan statusnya sebagai atasan lalu membenamkan diri dalam aktivitas ibadah. Paling menyenangkan di salah satu peserta umroh terheboh di bus kami karena sering melucu dan heboh.

Selama perjalanan beliau lebih menghabiskan waktu bersama istrinya, la iyalah masa sama gue? Sedangkan saya bersama beberapa jemaah umroh yang sama-sama single aka jomblo.

Sempat jalan-jalan sendiri aka jejombloan pisan.

“Nan saya senang deh umroh berdua sama istri, berasa bulan madu. Apalagi pas di Turki.” Si bos memandang selat Bhosporus.

“Kita berdua sudah lama nggak pernah jalan berdua gini. Apalagi setelah di sini kita bisa sekamar lagi.” Dengan anak 4 yang usianya cukup rapat momen mesra suami istri seperti ini akan terasa sangat mahal, apalagi si bos tipikal orang yang wokrholic.

“Jadi nanti dari Turki nambah satu momongan lagi dong yang made in Turki?”

“He… He… He…” Bos saya nyengir.”

“Ternyata jalan-jalan itu seru ya. Nan katanya tahun depan Pak Oskar mau bikin umroh plus Eropa. Kita ikutan lagi yuk?”

“Ya ampun Bos, piknik yang ini aja belum selesai sudah membayangkan tahun depan.”

Begitulah kisah perjalanan religius saya tahun 2018 yang ternyata nggak religius-religius banget. Namun dari perjalanan ini saya sadar bahwa hidayah itu bisa datang dari siapa saja, termasuk orang-orang yang tidak terduga. Bisa dari bos di kantor. Bisa dari mantan yang sudah jadi istri/suami orang.

Termasuk dari nyinyiran netizen?

Bener! Nyinyiran netizen dengan segala hikmahnya.

2 Comments on “Perjalanan Religius Bersama Bos

  1. Kbayang wajah happy siboss n wajah shock danan.. 😊😊
    Ah tapi seru nan.. πŸ‘πŸΎπŸ‘πŸΎ

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: