Matahari semakin tinggi, udara kota Medan memanas. Jarak antara Jalan Masjid dan Jalan A Yani – dulu jalan Kesawan – tidak sampai satu blok. Teringat restauran Legenda di kota Medan yang berdiri tahun 1929 dengan nama awal Jangkie . Lalu pindah ke Jl. Kesawan tahun 1934 dan berganti nama Tip-Top. Lanjutkan membaca “Horas Medan 2012 (part 2): Stop di Tip Top”
Penghujung November 2012 kembali menyambangi komunitas jalan-jalan asal Medan. Hajatnya menjelajah sisi lain Danau Toba, Air Terjun Situmurun di akhir pekan. Impian mengunjungi danau vulkanik terbesar di Indonesia bisa terwujud. Maklum saja, dua trip sebelumnya hanya singgah sejenak di sini. Lalu melanjutkan perjalanan ke Aceh. Lanjutkan membaca “Horas Medan 2012 (part 1): First Food , First Step”
Pelabuhan Tengkayu siang ini cukup ramai. Sebuah kapal menawarkan jalur penyebrangan lazim terdengar , Nunukan. Bukankah itu jalur TKI jika ingin pergi ke negeri jiran. Kapal bermuatan maksimal nampak terayun-ayun di atas air. Kata orang merupakan jalur padat karena selalu ada penyebrangan kesana. Ongkosnya tidak terlalu mahal, sekitar seratus ribuan untuk 5 jam pelayaran. Lanjutkan membaca “Derawan Flashpacking (part 5) : Si Mancung Nan Pemalu”
Matahari dan Pantai bagai dua sisi keindahan saling bertautan, sayang untuk dilewatkan. Berburu sunset atau sunrise seolah menjadi ritual wajib ketika berada di tepi lautan. Seperti pagi ini , bersama beberapa rekan bergegas menuju Derawan Dive Resort. Tempat terbaik menyaksikan matahari terbit. Menyusuri jalanan kampung lalu masuk ke dalam resort pribadi. Empunya cukup berbaik hati, pintu gerbangnya tidak dikunci hanya dikaitkan. Lampu dermaga masih menyala tapi sudah banyak orang menanti sang surya. Lanjutkan membaca “Derawan Flashpacking (part 4) : Cerita Pagi”
Rasa penasaran masih tersisa usai menyaksikan keunikan biota danau Kakaban. Hasil evolusi jutaan tahun akibat naiknya permukaan karang atol di bagian dalam pulau. Lalu bagaimana dengan karang atol di luarnya? Terumbu karang di kepulauan Derawan memiliki tutupan rata-rata karang keras 17,41% dan tutupan karang hidup 27,78%. Dengan jumlah spesies 460 sampai 470 menunjukkan bahwa ini menjadi kekayaan biodiversitas nomor dua setelah Kepulauan Raja Ampat. Lanjutkan membaca “Derawan Flashpacking (part 3) : Kejutan Dunia Bawah Laut”
Mendung kembali menggantung di ufuk timur tapi tetap berpikir positif. Jika hari ini kembali hujan maka sia-sia perjalanan kali ini. Melewati sarapan dengan segenap doa berharap matahari bersinar. Tapi nyatanya butiran air berjatuhan dari langit. Kami terdiam, hiburan terbaik menyaksikan penyu hilir mudik di bawah penginapan. Mas Budi berkata apapun yang terjadi kita tetap harus berangkat pukul 08:00. Bisa saja di sini hujan bisa jadi di Maratua atau Kakaban tidak. Lanjutkan membaca “Derawan Flashpacking (part 2) : Rainy Morning”
Mungkin ini rencana trip tersingkat. Lysya – rekan backpacking asal Jakarta – mengajak menerawang keindahan dunia bawah air Derawan. Tujuan utamanya, melihat keindahan jellyfish stingless di Pulau Kakaban. Pilihan perjalanan ada dua, lewat Balikpapan atau Tarakan. Jika lewat Balikpapan maka ongkos pesawat lebih mahal, maklum saja penerbangan di sini merupakan jalur premimum. Di mana banyak pekerja bidang migas yang konon berkocek tebal. Alternif kedua melalui Tarakan dengan harga tiket pesawat setengah menuju Balikpapan. Tapi penyebarangan dari pelabuhan Tengkayu menuju Derawan cukup jauh dan membutuhkan buget lebih . Lanjutkan membaca “Derawan Flashpacking (part 1) : 1st Day”
Mendengar Teluk Kiluan yang terbayang adalah atraksi ratusan lumba-lumba di laut lepas , menari menyambut pengunjung di atas jukung warna-warni. Teluk Kiluan mulai dikenal sebagai tujuan ekowisata bahari di ujung selatan pulau Sumatra. Konon tempat ini merupakan habitat lumba-lumba terbesar di Asia, bahkan dunia. Maka tidak mengherankan semakin banyak wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung di teluk kecil merupakan daerah administratif Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung. Lanjutkan membaca “Teluk Kiluan Tak Hanya Lumba-Lumba”