Kuliner Sumatra Utara Travelling

Horas Medan 2012 (part 1): First Food , First Step

Landmar kota Medan - Gedung London Sumatra
Jelajah Kota Medan

Penghujung November 2012 kembali menyambangi komunitas jalan-jalan asal Medan. Hajatnya menjelajah sisi lain Danau Toba, Air Terjun Situmurun di akhir pekan. Impian mengunjungi danau vulkanik terbesar di Indonesia bisa terwujud. Maklum saja,  dua trip sebelumnya hanya singgah sejenak di sini. Lalu melanjutkan perjalanan ke Aceh.

Rasa lelah  perjalanan darat 31 Jam Jambi-Medan hilang seketika. Rombongan sepeda motor anak-anak BPM (Backpacker Medan) menjemput di pool bus Rapi, Ampalas. Waktu menunjukan pukul 22:30, kami bergegas menuju simpang Limun mencari tempat nongkrong. Nampaknya rekan perjalanan saya, Lilia rindu berat kuliner Medan.

Medan kota terbesar di pulau Sumatra. Tidak pernah kehilangan denyut kehidupan. Pada malam hari Kedai-kedai makanan atau tempat nonkrong khas anak muda – warung TST – makin ramai di malam hari. Begitu juga dengan sebuah kedai sederhana yang kami sambangi. Berjajar penjual makanan yang menggoda air liur. Warung  sate dan mie rebus Bang Min menjadi tempat menuntaskan lapar. Aroma sate kambing merebak menggoda pelintas jalan. Hmm, sate di sini konon memang maknyus. Tapi sabar, menu pembuka malam ini mie rebus Medan.

Mie rebus bersama tauge bercampur di antara kuah kental panas. Aroma gurih menyeruak menghambur masuk ke indra penciuman. Taburan kerupuk aci merah melengkapi hidangan pertama di Medan. Pelan-pelan mencicipi sedikit kuah, rasanya mirip mie Belitung tapi tidak terlalu manis. Aroma rempah lebih dominan berpadu dengan rasa udang. Sebutir telur rebus turut menyempurnakan tampilan dan rasa mie rebus khas Medan.

Sate kambing. Makanan tradisional menjadi sangat nasional. Mampir bisa dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Tapi ada yang berbeda dari sate kambing yang kami santap malam ini. Bahan dasarnya tetap mamalia “beraroma” khas dan dipanggang. Saos kacangnya digilang kasar bersama bumbu. Lalu ditabur bawang goreng dengan porsi berlebih. Bayangkan kombinasi rasa renyah kacang dan bawang goreng ketika menyantap sepotong daging. Sensasinya pas dengan lembutnya daging kambing muda. Meskipun perut terasa penuh, rasanya sayang meninggalkan sajian ini di piring . Walhasil mata terasa mengantuk berat. Jelang tengah malam saya menuju basecamp, numpang tidur.

Rencananya, pagi-pagi sekali mau jelajah kota Medan. Efek kekenyangan dan kelelahan membuat jadwal bangun pagi ngaret. Biar afdol jelajah kita start dari titik nol. Memang di mana titik nol kota Medan? Balaikota Medan – sekarang Hotel Aston – yang terletak di depan Lapangan Merdeka Medan kini sering disebut sebagai titik nol Kota Medan. Letaknya yang tepat di jantung Kota Medan menjadikannya sebagai landmark kota ini. Tapak tanah tempat berdirinya Balaikota Medan sekarang, merupakan lahan hutan dibuka pertama kalinya oleh Guru Patimpus, 1 Juli 1590 yang dikenal sebagai areal “Kampung Medan”.

Bangunan bersejarah lainnya adalah Kantor Pos Medan, berhadapan langsung dengan Lapangan Merdeka. Bangunan dominasi warna putih dan oranye berdiri tahun 1911, yang diarsiteki oleh salah seorang arsitek Belanda Snuyf. Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter.

Puas mengitari lapangan Banteng, menyusuri jejak Medan tempo dulu. Bergerak menuju perempatan Lonsum, London Suamatra. Bangunan arsitektur “Indsiche Empire” berdiri megah dengan pilar-pilar gaya Yunani atau Romawi. Bangunan ini milik Harrisons & Crossfiled Plc, lalu dinasionalisasikan menjadi PT PP London Sumatra Indonesia (Lonsum). Konon bangunan berlantai 4 ini, bangunan pertama di Sumatra yang memiliki lift dan masih berfungsi hingga sekarang.

Penjelajahan berlanjut menelisik kota Medan lebih dalam. Kali ini rekan saya Lilia menggajak menyusuri jalan Masjid. Mencari jajanan favorit rujak Teng-Teng. Gerobak sederhana dengan ornamen buah segar menggoda dalam kotak kaca transparan. Pilihan kali ini adalah manisan jambu biji berwarna kekuningan. Hmmm cukup menyegarkan dimakan bersama saus pedas gula merah di siang hari.

Medan dan makanan dua kata tak terpisahkan. Jejak langkah pertama jelajah kota ini  diawali  dengan wisata kuliner.

hidangan pembuka di kota Medan - sate dan mie rebus
hidangan pembuka di kota Medan – sate dan mie rebus
titik nol kota Medan
titik nol kota Medan
Gedung Lonsum (kiri) - Penjual Rujak Teng-Teng  (kanan)
Gedung Lonsum (kiri) – Penjual Rujak Teng-Teng (kanan)
Penjual rujak di jalan Masjid
Penjual rujak di jalan Masjid
segar - manisan jambu biji
segar – manisan jambu biji

Horas Medan 2012 (part 1): First Food , First Step
Horas Medan 2012 (part 2): Stop di Tip Top
Horas Medan 2012 (part 3): Bertandang ke Rumah Tjong A Fie
Horas Medan 2012 (part 4): Petang di Masjid Raya
Horas Medan 2012 (part 5): Pan Cake Durian Plus
Horas Medan 2012 (part 6): Merapat di Perapat
Horas Medan 2012 (part 7): Air Terjun Situmurun
Horas Medan 2012 (part 8): Menuju Taman Eden 100
Horas Medan 2012 (part 9): Kebersamaan Backpacker
Horas Medan 2012 (part 10): Air Terjun Penutup
Horas Medan 2012 (part 11): Pelajaran Pagi Hari
Horas Medan 2012 (part 12): Istana Maimoon
Horas Medan 2012 (part 13): Harmoni Religi,Alam dan Kuliner

2 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.