Hype Gadis Keretek dari Netflix mencuri perhatian pecinta series Indonesia, kisah yang diangkat dari novel Ratih Kumala bertajuk sama. Saya bukanlah pecinta kretek tapi hapal sekali bagaimana aroma tembakau. Bapak saya perokok tulen, mengenal rokok sejak kelas 5 sd dan baru berhenti di usia 60 tahun. Yang saya tahu, bau bapak adalah aroma kretek. Saat balita saya baru bisa tidur nyenyak saat bersandar di ketiak bapak dan mencecapi aroma ketiak campur tembakau. Tapi kali ini saya tak akan menceritakan bapak tapi ibu yang usianya kurang lebih sama dengan Rukayah, adik Dasiyah.
Ibu memang tak memiliki ambisi sebesar Dasiyah tapi kemampuan literasinya setara. Orang-orang di era itu terbiasa membuat catatan kecil dan berkoresponden untuk mengungkapkan rasa termasuk cinta. Ibu yang sejak SMP sudah menulis cerpen untuk surat kabar piawai merangkai kata. Beruntung Mbah Ti (ibunya ibu) mendapat kesempatan belajar baca tulis dari majikannya orang Belanda. Tak hanya menulis tapi hobi membaca diturunkan ke ibu. Tak mengherankan di usia 70 tahun, ibu setia berselancar di laman google.
Ibu merupakan bungsu dari 8 bersaudara, jarak dengan kakak-kakaknya cukup jauh. Saat ibu lahir, kakak pertamanya sudah menikah dan memiliki anak. Anak bungsu merasa paling tua, itulah ibu dijuluki oleh saudara-saudaranya. Semua orang harus memanggil Mbak karena tidak mau dianggap kecil. Ibu tumbuh di keluarga pecinta seni, kakak-kakaknya hobi bermain musik keroncong. Tak mengherankan di usia 8 tahun, beliau punya grup musik “Musisi Alat Pukul Bambu”. Anak SD dan SMP pemain alat musik terbuat dari bambu. Tahun 2017 saya sempat melihat fotonya di rumah sahabat ibu di Madiun.

Jika kakak-kakaknya lahir di era sebelum kemerdekaan RI , ibu lahir setelah Indonesia merdeka, tahun 1951. Wanita Jawa di era itu memang masih memegang teguh ada istiadat dan etika ketimuran. Tapi pemikiran beliau lebih terbuka dan logis, salah satunya ia tidak mau menjalankan ritual klenik yang diwariskan, seperti membuat sesaji di tanggal tertentu.
Salah satu langkah radikalnya adalah di usia 18 tahun, beliau merantau ke Jakarta. Meski lahir bungsu dan dilingkupi kasih sayang, nyatanya setiap orang punya masalah hidupnya masing-masing. Beberapa bulan setelah Mbah Ti wafat ibu memutuskan keluar dari rumah. Awalnya beliau merantau ke Jakarta karena dijanjikan kerja sebagai mandor di pabrik tekstil sesuai dengan pendidikan ibu, ST tekstil. Tapi nasib berkata lain, ibu menyebrang ke Sumatra dan memulai kehidupannya di Lampung hingga wafat. Saya tidak dapat membayangkan perjalanan yang harus dilalui dari Jawa ke Sumatra tahun 70 awal.
Partai Merah
Sejak peristiwa G 30SPKI banyak perubahan dengan partai sosalis yang akhirnya dianggap makar dengan negeri ini. Pendukung dan pengurusnya diburu dan diminta pertanggung jawaban oleh publik dan paling ekstrim diburu. Ibu yang waktu itu masih remaja putri belum paham dengan apa yang terjadi . Yang ia ingat rekan-rekan seniornya di Karang Taruna berusia 17 tahun ke atas menghilang. Usai bergabung dengan komunitas afiliasi partai merah dan peristiw G30SPKI.

Gerakan partai merah sangat masive, mereka masuk ke lini-lini masyarakat dalam beragam organisasi dan kegiatan, mulai dari serikat buruh, aktivitas pemuda , mahasiswa, hingga aktivitas olahraga dan tari-tarian.
Ironisnya banyak yang awalnya hanya ikut-ikutan, namanya masuk dalam daftar merah dan ditangkap pemerintah lalu menghilang. Mereka yang menghilang kadang jasadnya ditemukan di sungai, selama dua tahun orang-orang di Madiun tak berani makan ikan sungai. Karena ditemukan potongan tubuh manusia di dalam ikan.
Keluarga Madiun
Madiun memang terkenal sebagai basis partai merah tapi bukan berarti semua orang Madiun aktivis partai ini. Tapi di era orde baru, pegawai negeri dan TNI yang berkaitan dengan Madiun, baik tempat lahir atau memiliki kerabat di Madiun akan di-screening ekstra.
Itulah salah satu alasan kakak pertama ibu Pak De T menghilang dan sempat tak berkabar. Pak De T polisi dan ditempatkan di Sulawesi, untuk menghindari screening beliau tak pernah berkirim surat dengan keluarga di Madiun hingga berpulang. Beruntung anak cucunya kembali menjalin tali silaturahmi setelah era reformasi. Ya pencarian melalui facebook dan whatss app, hingga tahun 2017, Ibu sempat bertemu dengan cucu Pak De T di Jakarta.
Keluarga besar Pak De T tinggal di pulau Selayar bukan di Makassar, lucunya tahun 2010 saya ke Selayar untuk liburan. Andai waktu itu tahu punya keluarga di sana.
Ada juga kisah lain Pak De M kakak perempuan ibu di Lampung yang tidak tahu apa-apa jadi tersangka partai merah. Pak De M sekeluarga memutuskan kembali ke Sumatra setelah merantau di Dilli Sumatra Utara dan mudik ke Madiun. Beliau mendengar di Lampung ada perkebunan baru yang membutuhkan pekerja.
Setelah bekerja di perkebunan Lampung beliau ditawari bergabung dengan serikat buruh merah dengan imin-iming menjadi mandor. Malangnya belum sampai 40 hari bergabung partai merah, G30SPKI pecah. Ia pun langsung dicokok dan menjadi pesakitan. Banyak orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban partai merah. Belum lagi tuduhan dan fitnah yang sengaja disebarkan orang-orang tak bertanggung jawab sebagai ajang balas dendam seperti Soejagad.
Patriaki
Salah satu alasan ibu keluar dari rumah adalah melawan sistem patriaki. Beliau sadar bahwa perempuan tak akan memiliki hak suara yang sama di dalam rumah. Laki-laki tak pernah salah dan perempuan yang harus mengalah, apalagi jika tak memiliki kemampuan finansial.
Sebagai anak perempuan dan bungsu harusnya paling dilindungi. Tapi kakak laki-laki yang harusnya sebagai pengganti ayah nyatanya tak memiliki kekuatan. Maka pilihan ibu mengandalkan diri sendiri untuk bertahan.

Ibu memang tak pernah merasa lemah atau tergagap di lingkungan yang didominasi laki-laki. Saat STM beliau satu-satunya siswi di jurusan listrik. Meski kehadirannya di lingkungan yang didominasi laki-laki kadang melahirkan kisah lucu atau diskriminatif tapi sejujurnya ibu berkisah masa mudanya indah.
Ada momen dimana mendapat bocoran soal ujian karena ada admin Tata Usaha Sekolah yang jatuh hati. Belum lagi kisah celana dalam bekas menstruasi yang tiba-tiba bersih. Saat pulang kerja praktik shift dua di pembangkit listrik, beliau mengurungkan niatnya mencuci karena udara malam Sarangan dingin. Niatnya besok subuh bangun awal untuk mencuci pakaian. Mengejutkan esok hari semua pakaian yang ia tinggalkan di kamar mandi sudah terjemur manis. Ibupun menangis malu.
Tapi paling mengharukan adalah ketika ibu tak masuk sekolah satu bulan karena harus menjaga Mbah Ti di rumah sakit. Teman-teman di kelasnya setiap hari bergantian mencatatkan pelajaran dan mengantarkan ke rumah sakit, agar ibu tidak ketinggalan pelajaran.
Hidup ibu mungkin tak sedramatis Dasiyah tapi saya sangat paham dengan kondisi sosial dan politik di era itu. Bagaimana perubahan politik negeri ini membawa perubahan di keluarga-keluarga, mengubah pola pikir perempuan-perempuan.
Tapi bagaimana dengan kisah asmara ibu, apakah sedramatis Dasiyah?
Tunggu ditulisan berikutnya 😀 (kalau banyak yang komentar).
Buat kamu yang malas membaca dan ingin menyimak versi audionya silakan klik tombol podcast Jalan2Cuap2.
