Malaysia Travelling Video

Menikmati Kota Muar Dengan River Cruise

Meski Muar tidak sepopuler Melaka, distrik di utara negara bagian Johor ini dikenal sebagai kota yang makmur dan kaya akan sejarah. Konon  Muar telah ada lebih dahulu  dibandingkan Kesultanan Melaka. Kisah-kisah legenda seperti Hikayat Malim Deman (kisah Malim Deman), Legenda Lembing Awang Pulang Ke Dayang dan Legenda Puteri Gunung Ledang (Putri Gunung Ophir) selalu mengingatkan orang akan kota yang tahun lalu dinobatkan sebagai kota paling bersih di Asia Tenggara.

Kesan saya pribadi ketika memasuki kota Muar  seperti kembali ke Indonesia tahun 80-an dimana rumah gaya art deco  berhalaman luas mendominasi jalan-jalan utama. Tidak mengherankan Muar mendapat julukan sebagai  kota “pensiun”, dimana orang-orang berpunya atau pejabat  di Malaysia menghabiskan masa tua di Muar.

Jika kamu merasa bahwa Melaka sudah terlalu ramai dan turistik, saatnya kamu melirik Muar sebagai destinasi akhir pekan di Johor. Tapi jangan berharap akan menemukan kafe tersohor berlabel “rock” di sini atau hotel berbintang dengan layanan super.

Cara Cepat Menikmati Muar

Saya bukanlah seorang “flashpacker”, itu lho pelancong dengan gaya  perjalanan cepat berkunjung dari satu kota ke kota lain, yang penting sudah berfoto di destinasi A tanpa mempedulikan sejarah destinasi A atau budaya orang-orang di sana. Bukannya mau memberi stigm negatif traveler yang menganut gaya traveling seperti ini tapi keterbatasan waktu membuat kita mau tidak mau menjadi seorang flashpacker atau mungking “time jumper”.

Jadi jangan salahkan saya ketika tiba di Muar langsung memutuskan untuk mengambil Muar River Cruise karena sepertinya ini cara tercepat menikmati Muar sebelum nanti malam berwisata kuliner.


Muar River Cruise

Untuk mengikuti jelajah sungai ini tidaklah mahal penumpang hanya dikenakan biaya 16 RM sahaja. Bagi warga negara Malaysia ada harga spesial yaitu lebih murah 1 RM.

Lalu naiknya dari Mana? Naiknya dari Jeti Tanjung Emas yang lokasinya tidak jauh dari Dataran Tanjung Emas. Tour dimulai setiap jam dan ada sejak pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Tidak ada syarat khusus bagi peserta tour ini.

Oh iya, ini peringatan saja bagi kaum hisab (baca perokok), di kawasan ini tidak diperkenankan merokok, jika kedapatan mengisap tembakau bakar akan dikenakan denda. Sepertinya akan semakin banyak kota di dunia yang tidak bersahabat bagi perokok.

Kapal tour yang kami tumpangi sangat bersahabat dengan pelancong karena hampir tak memiliki penutup sehingga pelancong dapat bebas melihat ke sisi sungai tanpa penghalang.

Ketika naik saya langsung menuju tempat duduk paling depan karena pasti pemandangannya paling indah dan besar tak lama jalan saya melihat sisi lain Dataran Tanjung Emas yang tersohor dengan mural Bangsa Johor.

Berikutnya adalah Masjid Sultan Ibrahim Jamek.

Masjid Jamek Sultan Ibrahim adalah Masjid Jamek kedua Muar, dibangun antara tahun 1925 dan 1930, menggantikan Masjid Jamek pertama yang dibangun antara 1884 dan 1887. Terletak di seberang  Sungai Muar, itu adalah masjid tertua di distrik Muar. Cetak biru masjid itu digambar oleh seniman lokal, Sulaiman Ilyas.

Seperti banyak bangunan pada masa itu, masjid ini menampilkan pengaruh Kolonial yang berbeda dalam arsitekturnya, dengan campuran unsur-unsur Melayu tradisional dan Melayu. Menara utamanya mungkin adalah fitur yang paling menonjol – contoh mencolok dari desain Timur bertemu Barat. Kolom Romawi klasik bergaya-Doric menghiasi balkon dan porticoes-nya.

Meski tidak ada guide yang menjelaskan nama bangunan di sepanjang sungai Muar, pelancong tetap akan mendapatkan informasi dari pengeras suara yang ada di depan kapal.

Istana Sultan, kantor polisi lama, dermaga lama, pasar Rabu hingga hotel bertingkat pertama di kota Muar terlihat jelas dari atas kapal. Jangan lupa untuk mengabadikan keindahan ini di dalam jepretan kamera.

Setelah melewati jembatan Bandah Maharani kapal tour berputar arah kembali ke Jeti Tanjung Emas. Hembusan angin sepoi-sepoi membuai perjalanan berduarasi 45 menit. Memang rasanya terlalu singkat, tapi inilah mungkin cara terbaik kota Muar, kamu tidak perlu membuka buku atau membaca prasasti yang ada di sepanjang jalan.

Sebagai pejalan yang kepo banget bukan kepo aja, perjalanan seperti ini memang tidak memuaskan hasrat. Ah tapi sayang, besok pagi saya harus kembali ke Johor Bahru dan Batam.

Tenang Kak, Muar tak akan lari, ia akan tetap menantimu untuk kunjungan selanjutnya.

Tulisan ini tayang di rubrik Jalan-Jalan Harian Batam Post 11 November 2018

7 komentar

  1. Itu naik perahunya kalo ada guide yang bisa menjelaskan lebih detail setiap tempat yang dilewati kayaknya lebih asyik ya kak.. Kalo infonya cuma lewat pengeras suara kurang afdal sih, gak bisa tanya2 soalnya.. Hehehe maklum, soalnya aku juga pejalan kepo, kak..

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s