Sumatra Utara, Travelling

Jejak Warna Warni Budaya Medan

Kawasan Kota Lama Kesawan

Kesawan merupakan nama daerah di kota Medan yang dikenal dengan bangunan-bangunan tua. Kawasan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1800an dan kini memiliki sekitar 600 bangunan tua . Beberapa bangunan tua telah  bermetamorfosis menjadi bangunan moderen dan difungsikan sebagai kantor, hotel dan ruko seperti Hotel De Boer dan dan Gedung Bank Indonesia,

Salah satu yang landmark yang terkenal adalah Gedung PT London Sumatera Tbk , dulunya merupakan  kantor Harrison & Crossfield. Selain posisinya yang tepat berada di perempatan jalan ternyata gedung Losum (London Sumatra) adalah gedung pertama di Sumatra yang menggunakan lift.

Rasa penasaran menuntun saya masuk lebih jauh ke belakang gedung Losum, arah pasar Hindu. Di sini saya menemukan bangunan-bangunan tua, salah satunya supermarket pertama kota Medan, Het Waren Huis.

Semakin dalam menyusuri kawasan Kesawan saya seperti menemukan dunia lain, deretan bangunan tua di antara kesibukan kota. Seolah tersesat (sebetulnya menyesatkan diri) sampailah di pasar Hindu yang sudah sepi. Kursi dan meja pedagang berjajar rapih di tepi jalan yang tidak terlalu luas.

 Semakin sore tempat ini menjadi begitu instagramable. Terpaan cahaya matahari kekuningan membaut gedung-gedung di sini terlihat begitu eksotis di kamera. Ah saya menemukan spot foto baru yang instagramable. Meski  bernama hindup mayoritas pedagang di sini adalah keturunan China bukan India. Menjelang pagi Pasar Hindu merupakan pusat sarapan yang wajib dikunjungi jika jalan-jalan ke kota Medan.

Titik Nol Kota Medan

Rasanya tidak syah jalan-jalan ke kota Medan jika tidak berdiri di titik nol kota ini. Lalu dimanakah letak titik nol kota Medan?  Titik nol kota Medan berada di kantor pos Medan, tidak sulit menemukan bangunan yang di depannya terdapat  kolam  air mancur yang didedikasikan pada salah seorang pionir kota Medan modern, Jacob Nienhuys.

Kantor Pos Medan memiliki gaya arsitektur  khas Belanda dengan  kubah besar  setinggi 20 meter dan jendela-jendela berbentuk setengah lingkaran hampir memenuhi seluruh sisi bangunan.

Kuliner Malam Pagaruyung

Nama jalan ini memang mirip dengan nama istana di Sumatra Barat namun jalan ini berada di Kampung Keling . Lokasinya berdekatan dengan Sekolah Internasional Khalsa dan Kuil Mariamman. Walau berda di  pusat komunitas India, pasar malam kuliner Pagaruyung menjual aneka ragam,  mulai dari sate Padang, nasi goreng ,  nasi briani India, mie Aceh, roti cane, Chinesse food, kerang rebus,  mie sop, nasi gurih, lontong malam, martabak telur dan lainnya.

Jelang akhir pekan kawasan ini selalu ramai diserbu penghujung terutama mereka penghobi masakan india. Meski tidak semuanya masakan India namun jika ingin merasakan keotentikan rasa makanan negeri Bollywood wajib bertandang ke jalan Pagaruyung Kampung Madras.

Agar rasa lapar tertuntaskan dengan sempurna, sebelum menetapkan pilihan menu dan kedai makanan, berjalanlah  dari ujung jalan satu ke ujung jalannya. Setelah haus, lapar dan lelah menyambangi raga saatnya memanjakan lidah dengan kuliner pilihan.

Istana Maimoon

Selain mansion bergaya oriental ternyata kota Medan memiliki istana Melayu yang dikenal dengan istana Maimoon. Jelang akhir pekan istana dua lantai berwarna kuning dengan kubah khas Persia selalu ramai. Tiketnya murah meriah, hanya lima ribu rupiah saja.

Memasuki istana lengkungan pengaruh gaya arsitektur Persia  menyambut, berikutnya 28 anak tangga marmeryang  diimpor langsung dari Italia. Memasuki ruangan dua buah plakat marmer pada pilar mengingatkan tanggal diresmikan bangunan ini, 26 Agustus 1888. Masing-masing menggunakan aksara berbeda, Arab disebelah kiri dan kanan aksar latin berahasa Belanda. Tiga ruang utama dinaungi bangunan berbentuk limas dan kubah besar. Ruang induk seluas 412 meter persegi diapit dua ruang sayap.

Singgasana kuning menyala menjadi pusat perhatian balaiurang berhiaskan kristal dari Eropa,  merupakan ruang protokoler Sultan menjamu tamunya. Dindingnya dipenuhi foto sultan-sultan Deli beserta permaisuri.

Selain bangunan istana ternyata di komplek istana seluas 4 hektar ada bangunan lain dengan atap berbentuk limas. Bangunan yang sebagian dindingnya kisi kayu tempat menyimpan meriam putung atau belah.

Sebuah legenda menceritakan meriam ini merupakan penjelmaan dari adik Putri Hijau yang waktu itu berubah menjadi  meriam karena Kerajaan Deli diserang oleh Kerajaan Aceh akibat pinangan terhadap Puteri Hijau ditolak. Dikisahkan meriam  menembak  terus menerus hingga terbelah  dua. Konon  potongan meriam  terlempar sampai ke daerah tanah tinggi Karo yang jaraknya kurang lebih 70 km dari  istana Maimoon.

Selain terkagum dengan keindahan aristektur paduan budaya  Melayu, Arab, Spanyol, India, dan Italia. Saya juga penasaran dengan legenda dan kisah hidup pewaris tahta dan bangsawan Kesultanan Deli.

Hari itu  tiga  pria berdendang sambil memainkan akordeon, gitar dan kompang. Dalam balutan setelan teluk belanga dan songket Melayu saya berdiri di ujung balkon sambil memandang ke luar istana. Alunan musik dan nuansa Melayu yang kental membuat imaji saya membumbung, berkahayal menjadi seorang Sultan walau hanya sehari.

16 tanggapan untuk “Jejak Warna Warni Budaya Medan”

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s