Sumatra Utara, Travelling

Jejak Warna Warni Budaya Medan

Masjid Raya Al Mashun

Sebetulnya Masjid Raya Al Mashun masih berada dalam satu kawasan istana Maimoon, namun kini dengan perkembangan kota Medan seolah kedunya terpisah, padahal jarak komplek keduanya sekitar 200 meter saja.

Dari pertigaan jalan Brigjen Katamso di depan Istana Maimoon, saya menyusur jalan Sisingamangaraja lalu dengan mudah menemukan  Masjid Raya Al Mashun yang usianya lebih dari satu abad. Sebelum masuk ke halaman masjid memanjakan lidah  dengan aneka jajanan grobak di depan masjid.

Masjid bergaya arsitektur Timur Tengah, India dan Spanyol  dibangun oleh Sultan Mamun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 10 September 1909.

Memasuki halaman masjid seluas 18.000 meter persegi  pengunjung disambut pintu gerbang lengkung. Serambi depan masjid yang dulunya lapangan rumput kini telah berganti menjadi lantai batu agar dapat menampung lebih banyak jamaah.

 Atas inisiatif keluarga Sultan sejak tahun lalu  Masjid Raya Al Mashun mulai direnovasi besar-besaran. Beberapa bagian dinding marmer yang rusak diganti tanpa mengubah motif awal. Kolam besar di halaman masjid dipercantik dengan air mancur dan lampu warna-warni.

Memenuhi penasaran saya mengeliling bangunan masjid yang memiliki empat kubah bergaya Turki. Jika diperhatikan dengan sekasama masjid ini berbentuk segi delapan kongruen menghadap arah mata angin.

Mengulik interior masjid seluas 5000 meter persegi  saya makin terkagum jejeran jendela dengan kaca patri bergaya  Art Nouveau  dan juntaian lampu gantung asal Perancis. Bayangkan seabad lalu sang Sultan memiliki selera seni yang tinggi untuk sebuah karya arsitekural.

Gereja Annai Velangkanni

Gereja Annai Velangkanni  bukanlah bangunan bersejarah berusia ratusan tahun, namun keberadaannya memberikan warna baru kota Medan. Bagaimana sebuah gereja memiliki desain arsitketur mirip kuil Hindu.

Berlokasi di Jalan Sakura III Nomor 7-10, Perumahan Taman Sakura Indah, gereja yang didominasi warna biru,  didesain seorang pastor bernama James Bharataputra dan desain kontruksinya dipercayakan kepada  Johannes Tarigan. Inspirasinya dari gereha  Indo-Mogul di India Selatan dan dibuat untuk mengakomodir umat kristiani keturunan Tamil di Medan.

Seperti kebanyakan rumah ibadah yang menjadi objek wisata religi, maka ada beberapa adab yang harus dipatuhi pelancong , seperti mengenakan pakaian sopan serta tidak berisik agar tidak mengganggu aktivitas peribadatan.

Waktu dua hari menjelajah kota Medan rasanya tidak cukup, terutama bagi pecinta kuliner. Tapi apa boleh buat saya harus mengejar pesawat terakhir. Tapi sebelum menuju stasiun saya singgah sejenak ke jalan Mojohpahit untuk membeli bika ambon sebagai buah tangan.

Sebagai kota perdagangan Medan mengalami banyak perubahan  dari masa-masa. Kedatangan pedagang dan kaum imigran   dengan latar belakang budaya, suku, agama yang berbeda melahirkan alkturasi membuat kota semakin berwarna.

5 Sense Taste  – Soda Cap Badak

Softdrink berumur seratus tahun penawar dahaga dan panasnya udara kota Medan. Pabrik minuman tempo dulu yang masih bertahan hingga sekarang ini berada di Pematang Siantar.  Cara asik menikmati minuman ini bersama es batu dan susu kental manis.

5 Sense Touch  – Pakaian Melayu

Rasakan sensasi menjadi sultan dan bangsawan dengan mengenakan pakaian Melayu lengkap. Tak hanya baju teluk belanga bagi pria dan kebaya kurung panjang tapi lengkap dengan hiasan kepala dan aesosories. Cukup membayar 35 ribu rupiah, pelancong dapat berfoto mengenakan baju adat Melayu sepuasnya.

5 Sense  Hearing  –  Musik Melayu

Setiap hari Minggu pukul 09:00 -12:00 pengunjung istana Maimoon dapat menikmati pertunjukan musik Melayu gratis di serambi lantai dua istana. Dendang lagu Melayu membahana selama tiga jam penuh memenuhi sermabi istana.

5 Sense Sight  – Kota Lama Kesawan

Mau nuansa foto berbeda kota Meda yang tidak biasa?  Datanglah ke Kesawan dan pasar Hindu jelang sore hari ketika cahaya matahari mulai kekuningan. Gedung-gedung tua tidak terawat akan terlihat sangat fotogenik dan bisa menjadi koleksi baru feed di  Instagram. Dijamin teman-temanmu akan bertanya. “ Ini di Medan sebelah mana?”

Kawasan Kota Tua Kesawan 

16 tanggapan untuk “Jejak Warna Warni Budaya Medan”

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s