bekas tambang Kaolin menjadi objek wisata – Pulau Belitung
Siapa menyangka bekas tambang kaolin di pulau Belitung menjadi objek wisata. Meski tidal dikelola secara profesional danau berair kebiruan dan bukit-bukit kecil bagai gundukan salju kerap disambangi wisatawan. Mereka datang untuk mengagumi keindahan alam, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap bencana.
Ini hari ketujuh saya menyelinap diam-diam ke rumah Bu Emi, seorang tetangga yang juga mantan penari. Untuk mengisi liburan kenaikan kelas wanita berdarah jawa mengajar tari anak-anak tetangga secara gratis. Tidak ada target pementasan atau perlombaan kami belajar menari untuk mengisi waktu luang. Lanjutkan membaca “Dari Gambyong ke Tari Perang Lembah Baliem”
mengenakan pelampung bersnorkeling aman bagi diri sendiri dan lingkungan (dokumentasi pribadi)
“Mas pelampungnya kok cuma ada lima, kita kan bersepuluh. Pokoknya tidak jadi berangkat kalau tidak sepuluh.” Cerocos bu Herlina, wanita berusia 50 tahun penghobi travelling.
“Tapi kita adanya lima bu.” Pemilik kapal sekaligus penyedia jasa wisata laut menjawab.
“Ya sudah sewa aja mas. Saya tidak mau mengorbankan keselamatan dengan uang tidak seberapa. Lagian banyak teman yang tidak terlalu jago renang. Nanti kalau lelah kasiah karangnya keinjek-injek.” Kembali Bu Herlina protes.
Membeli tiket penerbangan jauh-jauh hari harus siap mental, apalagi jika promosi murah-meriah. Kemungkinan pergeseran jadwal penerbangan, pembatalan atau maskapainya tutup (baca:bangkrut) bisa terjadi kapan saja.
Sejak kuliah tingkat dua selera fashion berubah total. Dari Mr Mix and Match jadi Mr Simplicity. Pokoknya berpakaian apa adanya, ga neko-neko dan parahnya kalau tidak rusak tidak bakal ganti. Maklum kuliah di teknik tidak dituntut tampil kece untuk menarik lawan jenis. Karena cewek-cewek di kampus pun udah dianggap cowok, apalagi cowoknya tidak ada yang gondek.
Gua ga pernah bermimpi diusir dari kosan. Padahal apa sih kurang gua sebagai anak kos. Bayar tepat waktu. Dan rumah ini sudah gua anggep rumah sendiri. Anak kos mana sih mau bersihin rumah dua lantai dengan 8 kamar tanpa dibayar. Ga cuma jadi pembokat tapi satpam karena gua sendirian di rumah ini.
Setelah sekian kali pulang pergi Jambi -Lampung tiap dua minggu, gue mikir buat kos. Biar punya kehidupan sosial di Jambi. Maklum sebagai pendatang nasib gua mirip pesakitan. Sampai di kota Jambi langsung dideportasi ke hutan. Hu… hu… hu…