Tambang Bagi Anak Cucu

bekas tambang Kaolin menjadi objek wisata - Pulau Belitung
bekas tambang Kaolin menjadi objek wisata – Pulau Belitung

Siapa menyangka bekas tambang kaolin di pulau Belitung menjadi objek wisata. Meski tidal dikelola secara profesional danau berair kebiruan dan bukit-bukit  kecil bagai gundukan salju kerap disambangi wisatawan. Mereka datang untuk mengagumi keindahan alam, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap bencana.

dari udara - lubang besar bekas tambang timah di Belitung
dari udara – lubang besar bekas tambang timah di Belitung

Apa namanya bukan bencana, jika lahan berhumus subur harus digali agar bisa mengeruk kandungan mineral di dalamnya. Lalu dibiarkan terbuka menyisakan danau buatan yang airnya tercemar apalagi dikonsumsi. Belum lagi tanah tandus tak  berhumus membuat tumbuhan enggan hidup. Segenggam mineral harus dibayar mahal dengan kerusakan alam dengan  tidak  menyisakan  masa depan dan kehidupan bagi mahluk hidup.

dahulu tidak ada yang menyangka bekas tambang Kaolin diminati wisatawan dan memberikan dampak ekonomis
dahulu tidak ada yang menyangka bekas tambang Kaolin diminati wisatawan dan bernilai eknomis

Masa depan memang tidak terduga, lahan tambang yang tidak produktif kini menjadi objek wisata dan menghasilkan pundi rejeki bagi masyarakat sekitar penyedia jasa akomodasi dan transportasi. Secara kasat mata bekas tambang tidak  produktif tapi jelas memiliki nilai ekonomis. Mungkin dengan sedikit sentuhan pengelolaan dan pemasaran profesional bisa memberikan nilai ekonomis lebih.

bekas tambang di Belitung Timur menjadi danau cantik
bekas tambang di Belitung Timur menjadi danau cantik

Namun yang membuat saya kembali tertegun melihat bekas tambang timah di Belitung Timur menjadi danau asri lengkap dengan tumbuhan dan mahluk hidup di dalamnya.  Meski butuh waktu, alam memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri.  Belajar dari alam seharusnya manusia mampu mengembalikan fungsi alam seperti semula paska   kegiatan eksplorasi dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi masyarakat sekitar.

Memperbaiki kerusakan alam tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi menyakinkan banyak pihak akan berhasil. Selain membutuhkan waktu dan biaya, rendahnya kepercayaan publik membuat program tidak berjalan lancar.  Memang dulu beberapa aktivitas penambangan  tidak mempertimbangkan keberlangsungan ekosistem dan masyarakat sekitar  tapi jangan berpikiran negatif. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan penilaian  awal.

Even domino pertambangan adalah dampak sosial ekonomi baik jangka pendek maupun panjang. Kesenjangan sosial penduduk lokal dengan pekerja menjadi konflik tak terelakan. Karena skill dan kemampuan, pekerja pendatang memiliki kesempatan lebih dibandingkan penduduk lokal, imbasnya kecemburan sosial.

tambang Mbah Suro - objek wisata tambang andalan kota Sawahlunto
Lubang Suro – objek wisata tambang andalan kota Sawahlunto

Efek jangka panjang yang harus diwaspadai, ketika lokasi tambang tidak produktif dan alam rusak maka kemiskinan menyambangi penduduk lokal. Memang selalu ada jalan jika mau bersama tapi jika diwaspadai dari awal akan lebih baik.  Kita dapat belajar dari Sawalunto , bagaimana kota penghasil batubara menjadi kota wisata. Era kejayaan permata hitam atau batubara membuat Sawahlunto bagaikan gula-gula didatangi banyak pekerja. Namun ketika produksi batubara menurun tajam tahun 1940 jumlah penduduk  berkurang drastis, dari 43.576 orang pada tahun 1930 menjadi 13.561 orang pada tahun 1980. Menurunnya jumlah penduduk jelas berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi  dan  kemakmuran.  Gula-gula telah ditinggalkan semut dan Sawahlunto menjadi kota mati.

Gedung Info Box Lubang Suro - memaksimalkan potensi wisata Sawahlunto
Gedung Info Box Lubang Suro – memaksimalkan potensi wisata Sawahlunto

Beruntung Sawahlunto memiliki putra daerah pandai serta  peduli dengan kampung halamanya. Amran Nur, pria lulusan Institut Teknologi Bandung mampu mengubah kota Sawahlunto menjadi kota wisata dalam satu dasawarsa 2003-2013. Angka kemiskinan merosot tajam, dari 17,18 persen pada 2005 menjadi 2,42 persen pada 2009. Belajar dari kesuksesan Sawahlunto semestinya kita yakin , selalu ada peluang dari tanah yang sudah dianggap mati. Peluang bukanlah sekedar keberuntungan yang dinanti tapi harus dicari dan diusahakan sedari awal.

Ini pekerjaan rumah bagi perusahaan tambang  di negeri kita, bagaimana membangun peluang agar lokasi tambang yang ditinggalkan tetap bernilai ekonomis dan produktif  di kemudian hari. Sehingga masyarakat tetap memperoleh manfaatnya terus menerus. Karena tambang bukan hanya untuk saat ini tapi untuk masa depan dan anak cucu kita.

6 pemikiran pada “Tambang Bagi Anak Cucu

  1. Kolong-kolong timah serupa yang ada di Bangka kini ada yg diubah menjadi kebun raya bernama Bangka Botanical Garden. Disebut juga kebun raya dari tai sapi, karena untuk menetralkan air rawa/danaunya menggunakan kotoran sapi dan kapur. Keren sih jadinya. Tapi dana yang digunakan untuk mereklamasi juga gila-gilaan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.