Cerita Kost Part 2 – Diusir!!!

Nomaden - Tak Punya Rumah
Nomaden – Tak Punya Rumah

Gua ga pernah bermimpi diusir dari kosan. Padahal apa sih kurang gua sebagai anak kos. Bayar tepat waktu. Dan rumah ini sudah gua anggep rumah sendiri. Anak kos mana sih mau bersihin rumah dua lantai dengan 8 kamar tanpa dibayar. Ga cuma jadi pembokat tapi satpam karena gua sendirian di rumah ini.

Paska insiden kosan mesum dapat kosan sederhana di Kampung Manggis. Rumah panggung, pemiliknya keluarga asal Nias yang baik banget. Sebetulnya gua betah banget di sini tapi karena kamar yang gua tempati bakal ditempati anaknya yang baru kawin, gue pindah.

Beruntung dapat kosan baru dan bagus. Rumah mewah dua lantai  tempo dulu dengan luas halaman sebesar lapangan bola. Di depannya ada taman dengan kolam ikan nila. Lumayan nih kalau ga ada lauk bisa digoreng. Konon ini rumah pejabat tapi sekarang pejabatnya sudah meninggal dan istrinya di Jakarta. Kebetulan yang menempati anak bungsunya , lelaki. Tapi si anak lebih senang tinggal di rumah tantenya karena tidak  perlu repot masak.

Jujur liat kondisi rumah yang tidak terawat sayang banget. Berhubung gua tidak ada kerjaan selama off duty, rumah ini gua bersihin. Lantainya gua sapu dan pel, kaca-kacanya gua lap mengkilat. Ga tahu gua suka aja dengan rumah ini , walaupun ada yang nanya apa tidak seram tinggal sendirian di sana. Lingkunganya juga nyaman , tidak terlalu di tengah kota. Dekat kampus kedokteran dan tempat makan, bikin gua gua bisa ngelaba kalo makan siang. Udaranya masih bersih dan ada danau kecil tempat nongkrong.

Sebetulnya mereka punya tukang kebun tapi hanya mengurus  taman, namnya Bang Azis. Konon bang Azis punya ilmu pelet atau ajian sejenisnya. Karena bininya banyak banget , ada delapan. Karena penasaran pengen kenalan dong dengan beliau tapi ternyata ada insiden yang bikin gua ngakak. Jadi pas pertama kali datang ke rumahnya , gua pasang muka seirus .Maklum mau ketemu mantan preman.

Tok… Tok… Tok… “Bang Azis ya?” Gua pakai muka sangar.

“Hmmm bukan… bukan… Orangnya lagi keluaran”,  jawab Bang Azis dengan muka pucat. Badannya sih penuh tato tapi kalah pamor dengan badan besar dan kepala botak gue. Kayaknya gua disangka polisi atau intel.

“Permisi bang… bener ini bang Azis. Kenalin saya yang kontrak di samping.” Sekali lagi bertanya dengan lebih lembut dan senyum lebar.

“Eeh saya bang Azis. Kirain nyari sapa.” Kali ini mukanya udah santai tapi masih tegang apalagi anduk yang dipake hampir melorot karena gugup.

***

Tiga minggu kemudian setelah gua balik dari hutan dapat kabar buruk. Bang Aziz bilang ibu pemilik rumah tidak suka gua tinggal disitu dan gua musti angkat kaki.

“Alasan tidak suka kenapa Bang?”

Bang Azis diem. Dia bingung antara mau cerita tapi takut.

“Ibu curiga adik yang kasih pengaruh buruk ke anaknya. Jadi  si bungsu menggadaikan kebun di belakang rumah untuk beli narkoba. Ibu tahunya, kamu kan sewa rumah dengan si bungsu. Karena Ibu marah kamu diusir.” Rasanya seperti dengar petir di siang hari.

“Oke Bang, saya pasti keluar tapi mau ketemu dengan Ibu. Saya masuk baik-baik dan keluar harus baik-baik.”

“Katanya besok Ibu datang dari Jakarta, mau mampir kesini.” Muka Bang Azis makin bingung.

Besoknya gua tungggu si Ibu yang katanya sudah jadi istri anggota dewan (nikah lagi). Sampai sore yang gua tunggu tidak keliatan, akhirnya ada mobil datang tapi pengendaranya laki-laki. Ternyata menantunya dari Serang bareng anaknya. Beruntung si menantu bijaksana dia berpikir postif dan menyambut niat baik gue. Tapi tetap si ibu tidak mau ketemu gue.

Obrolan gua dengan sang menantu akhirnya menguak kisah lama keluaraga ini. Kenapa si bungsu sepertinya jadi masalah besar. Sang menantu cerita , ketika SMA si bungsu MBA (married by accident). Tapi sayang pernikahannya tidak bertahan lama karena istrinya selingkuh. Sebetulnya si bungsu tidak mau menceraikan istrinya tapi keluarga besar memisahkan mereka karena si istri memang nakal. Teman kerja gue cerita pernah mergokin istrinya dugem pas si bungsu berangkat kuliah. Paska perceraian si bungsu kaya ga stabil , kerjanya cuma main game ga mau kerja. Yang kasian ternyata si bungsu udah punya anak , dan anaknya yang ngurus tantenya. Mungkin narkoba pelarian karena kecewa dengan keluarganya.

Bodohnya gua juga ga curiga kalau rumah ini jadi tempat pesta narkoba. Pertama kali datang lantai dua penuh abu rokok dan botol minuman tapi gua ga curiga. Dengan lugunya gua bersihin aja. Betapa naifnya gue. Pernah si bungsu bilang ke gua kalau ada temannya datang atau manggil jangan dibukain pintu. Mungkin dia kontrakin rumah ini dan dia tinggal di rumah tantenya buat ngindarin temen-temennya.

Akhirnya semaleman gua ngobrol dengan si menantu dan kita jadi akrab. Terakhir dia minta maaf ke gua karena jadi terlibat masalah keluraganya. Gua juga minta maaf ke doi dan Ibu. Dia berharap kita bisa ketemu lagi dengan suasana yang lebih enak. Tidak pake drama usir-usiran. Atas kebaikan si menantu  gua dikasih waktu sampai lusa tapi gua bakal cabut besok pagi.

Setelah subuh si menantu pergi, jam tujuh pagi gua keluar rumah. Beberapa barang sengaja gua tinggal buat Bang Azis dan keluarga. Sedih aja rasanya diusir, walaupun masalahnya sudah clear. Tetep ada rasa sakit, apalagi gua sudah terlanjur suka dengan rumah ini. Usai balikin kunci dan pamitan dengan bang Azis gua jalan. Ga tahu jalan kemana ngikutin kaki aja sambil gemblok ransel. Gue berpikir daripada kos mending gua jalan aja. Iya jalan, gua backpacking. Mulai dari detik ini gua akan selalu jalan ketika off duty… tidak akan menetap apalagi kos.

 

 

 

 

33 pemikiran pada “Cerita Kost Part 2 – Diusir!!!

  1. sama, aku pernah diusir juga dari kosan dg alasan kamarnya mau dipake sodaranya padahal ujung2nya dikoskan lagi buat orang lain.
    wah keren juga nih jadi nomad, makin banyak pengalaman buat dibagi. Enjoy traveling!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.