Flashpacker adalah julukan bagi pengelana beransel (backpacker) yang melakukan perjalanan dengan kenyamanan lebih. Karena memiliki kebebasan finansial dibandingkan backpacker namun memiliki keterbatasan waktu. Walaupun istilah ini masih menjadi kontroversi di antara pecinta ransel karena lebih dekat dengan traveller, namun jalan-jalan gaya ini yang sering menjadi pilihan para pegawai yang tidak memiliki banyak waktu luang. Dengan memanfaatkan libur akhir pekan dan promo tiket pesawat, penganut flashpacker dapat mengekplorasi daerah wisata yang jauh dalam waktu singkat.
Lanjutkan membaca “Mengunjungi Candi di Jawa Tengah Ala Flashpacker”




Pekan ini saya memutuskan untuk pindah kosan, dengan tujuan untuk lebih mengenal kota Jambi dengan mengeksplorasi setiap sudut kota. Buluran menjadi tempat baru saya untuk singgah di kota Jambi. Ternyata dari daerah Buluran banyak lokasi menarik yang bisa saya kinjungi. Salah satunya adalah Danau Sipin. Danau alam yang berada di Simpang Buluran Kenali ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Posisinya tepat di samping Fakultas Universitas Kedokteran Universitas, membuat danau ini terkesan sepi teduh dan sejuk. Tempat yang tepat untuk anda yg menyukai suasana alami karena bagian tepi danau sangat banyak pohon dan perdu.
Bermodalkan informasi dari internet dan modal percaya diri, hari ini saya berencana ke Batam via Pelabuhan Kuala Tungkal , Jambi. Jujur informasi yang saya dapatkan tidak begitu lengkap, berapa harga tiket dan prosedur masuk pulau Batam tidak tahu. Ya anggap saja perjalanan kali ini adalah blind backpacking.
Masjid Raya Magatsari adalah salah satu masjid tertua di Kota Jambi. Meskipun penampilan luarnya biasa saja, Masjid Magatsari tak memiliki banyak kelebihan. Namun bagi pandangan saya Masjid ini sangat eksotis karena mayoritas bangunan masjid di dominasi oleh kayu. Apalagi di lantai dua tampak beberapa pilar dan penyangga kayu yang tampak tua namun tetap kokoh menyangga atap masjid.
Mendengar kata-kata Masjid 1000 tiang ada perasaan penasaran untuk segera mengunjungi rumah Allah yang berada di tengah kota Jambi. Masjid dengan luas 6.400 M2 dan daya tampung 10 ribu jamaah ternyata memiliki sejarah yang panjang. Tanah dimana maskid ini berdiri ternyata, dulunya merupakan tempat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan/benteng Belanda.