Curahan

Anakku Korban Bully di Pesantren

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menjelekan atau memojokan pihak serta institusi tertentu tapi sebagai pengingat bahwa pembully-an bisa terjadi dimana saja, dan terjadi pada siapa saja. Seperti pada putra kami di tempat ia belajar agama. Saya baru paham bahwa efek bully bisa membuat anak merasa tak berharga hingga ia merasa layak untuk menyakiti dirinya sendiri.

Salah satu ujian terberat keluarga kami adalah tahun ini. Belum setahun saya kehilangan ibu, tiba-tiba sebuah kenyataan mengejutkan terjadi. Pihak pesantren tempat putra kedua kami menuntut ilmu mengundang saya dan suami untuk mendiskusikan pembullyan. Kepala sekolah mendapat surat kaleng dari seorang siswa menggambarkan pem-bully-an yang dialami Rano putra kami. Tak hanya satu orang yang membully tapi dua orang dan keduanya menjalani aksinya sendiri-sendiri dengan motif yang berbeda.

Sebut saja Ali. Ali adalah siswa problamatik, terlahir dari keluarga kaya tapi orang tuanya sibuk luar biasa. Ketika masalah ini disampaikan ke keluarganya bisa dikatakan orang tuanya minim respon, beberapa kali undangan pesantren diabaikan. Karakter Ali ini mungkin sering kita lihat di beberapa adegan sinetron Indonesia. Anak yang lahir dari orang tua yang powerful dari segi kekuasaan dan ekonomi. Hingga sang anak merasa memiliki power yang tidak dimiliki anak-anak lain Ali. Dengan kemampuan ekonomi dan kepandaiannya berdiplomasi mengajak siswa lain melakukan hal-hal di luar nalar manusia. Sebetulnya anak ini pintar tapi bisa dikatakan salah asuhan.

Pelaku berikutnya Baba. Anak tunggal sebuah keluarga harmonis. Baba tidak pernah setuju dimasukan ke pesantren karena ia merasa paling nyaman di rumah. Tapi kedua orang tuanya ingin anak tunggalnya belajar agama dengan baik. Salah satu sifat khas Baba adalah bercanda namun kadang candanya kebablasan menjurus ke kekerasan verbal dan fisik bahkan kriminal . Aksi nakal Baba merupakan bentuk protes ke orang tua yang membuat ia merasa dipisahkan dari keluarga

Putra Kami

Putra kami Rano sejatinya anak yang sangat empati, ia akan menolong teman-teman tanpa pamrih. Salah satu hal yang membuat saya terkejut. Ketika salah satu orang tua murid mengucapkan terimakasih karena baju anaknya dijahitkan oleh Rano. Jujur saya tak pernah mengajarkannya menjahit atau berpesan khusus untk baik kepada teman-teman di pesantren.

Rano jauh berbeda dibandingkan kakak perempuannya yang lebih berani dan ekpresif. Dia lebih pendiam dan melankolis. Bayangkan anak umur lima tahun akan menangis sejadi-jadinya menonton adegan sinetron di layar kaca. Terutama adegan anak kecil disakiti oleh ibu tiri. Ia lebih memilih mengalah atau menghindar jika berkonfrontasi dengan teman-temannya.

Ada satu kejdian tidak terlupakan saat SD. Suatu hari dengan santai ia turun dari mobil abonemen tanpa alas kaki. Entah sepatu dan kaos kakinya kemana. Ketika ditanya dimana sepatunya, ia memilih diam dan dengan santainya esok hari ke sekolah tanpa alas kaki. Beruntung Rano punya kakak Rani yang sifatnya sangat alfa. Bersama teman-teman Rani akhirnya menginvestigasi sepatu adiknya yang hilang. Dan hebatnya sepatu yang ternyata sudah dibuang oleh teman Rano ditemukan. Bersama teman-temannya Rani melabrak si pembuang sepatu dan mengadukan ke sekolah dan orang tuanya. Sungguh luar biasa untuk anak SD kelas enam.

Jarak usia Rano dan Rani terpaut empat tahun. Hubungan mereka sangat erat, tidak mengherankan ketika Rani masuk pesantren Rano ingin seperti kakaknya. Salah satu momen paling mengharukan ketika Rani yang baru lulus SD berangkat pertama kali ke pesantren. Saya tidak pernah sadar hubungan keduanya seerat ini. Ada momen kedua kakak beradik ini saling berpelukan dan menangis. Walau ada momen bertengka seperti anjing dan kucing, Rano selalu bersedih jika Mbaknya Kembali ke pesantren, usai liburan sekolah.

Interogasi Tiga Babak
Setelah orang tua murid dikumpulkan maka pihak pesantren bersepakat agar masalah ini diselesaikan di belakang layer, pelaku dan korban tak perlu tahu. Rano yang baru setahun di pesantren diajak mengobrol baik-baik agar menceritakan apa yang terjadi. Rano tetap bungkam tak bercerita setelah diajak mengobrol dengan ayahnya, ustad dan kepala sekolah. Ia memilih diam, tak bercerita dan jelas motifnya untuk melindungi para pembully.

Setelah berdikusi akhirnya diputuskan untuk melibatkan psikolog anak karena memang terjadi perubahan sifat Rano. Ia menjadi lebih pendiam dari biasanya dan selalu bilang semua baik-baik saja. Saya sekuat tenaga untuk tidak menangis dan tenang di depan Rano. Tapi sesi pertama kunjungan ke psikologi membuat hati saya sebagai ibu benar-benar hancur. Kami menemukan fakta, lengan putra kami penuh luka sayatan yang ia tutupi dengan baju lengan panjang.

Akhirnya Rano bercerita ke psikolog bahwa ia merasa berhak untuk menyakiti diri sendiri karena memang tak berharga. Ia ,merasa jelek dan tak berguna dibandingkan teman-temannya. Sungguhlah saya tak peka dengan apa yang terjadi. Setiap bulan Rano selalu meminta beberapa barang untuk dikirimkan ke pesantrend. Salah satunya adalah gunting kuku yang ia minta setiap bulan dengan alasan hilang dipinjam teman-temannya. Ternyata dia selalu meminta gunting kuku baru yang tajam untuk menyakiti dirinya. Jujur rasanya ingin meledak, menangis dan marah sejadi-jadinya tapi suami berpendapat semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Prioritas kami bukan mencari siapa yang salah tapi menyelesaikan masalah agar Rano Kembali percaya diri. Dengan dibantu pihak pesantren setiap minggu Rano melakukan sesi terapi dengan psikolog anak. Pihak pesantren melakukan sesi investigasi memanggil kembali orang tua murid. Tapi sayang hanya orang tua Baba yang beritikad baik, hadir dalam sesi diskusi. Orang tua Ali selalu berdalih sibuk tak ada Waktu.

Plot Twist
Karena pesantren putra kami berada di kota kecil, setiap akhir pekan Rano pergi ke kota besar untuk memenuhi jadwal konseling psikolog. Hal ini sempat menjadi pertanyaan di kalangan siswa, kemana Rano setiap akhir pekan? Bocorlah informasi bahwa Rano mengalami gangguan psikis karena pembully-an.

Plot twistnya, Ali salah satu pelaku pembully menjadi inisiator untuk membalas pembully-an yang dilakukan oleh Baba. Ia menghimpun masa untuk ganti menghakimi Baba. Suatu malam Baba diseret beramai-ramai keluar kamar, dibully secara kolektif. Hingga anak tunggal itu tak pernah berani tidur di kamar dan memilih tidur di masjid.

Entah apa yang dilakukan oleh Ali dan teman-temannya kepada Baba hingga anak ini ketakutan tapi ia tidak berani menceritakan kejadian ini ke orang tuanya. Keinginan Baba untuk keluar pesantren semakin kuat tapi orang tuanya menolak sebelum masalah Rano selesai.

Rano sempat bingung mengapa semua orang baik kepadanya. Ali dan Baba yang dulu sering melakukan kekerasan verbal dan fisik tak pernah membully lagi. Saya sempat menawarkan kepada Rano untuk pindah sekolah. Ia menolak sesungguhnya ia sangat suka dengan suasan belajar di masjid dan kelas. Satu-satunya hal yang membuatnya tak nyaman adalah kamar dimana ada anak-anak yang suka mengganggu.


Kehilangan Teman

Setelah kondisi Rano stabil dan kepercayaan dirinya Kembali, akhirnya kami terbuka menceritakan kejadian ini ke pihak eksternal (keluarga besar). Sedari awal kami fokus dengan kondisi Rano . Sepenuhnya menyerahkan ke pihak pesantren untuk sanksi dan hukuman kepada pelaku bully. Hingga saat ini Ali masih bertahan di pesantren sedangkan Baba memilih mengundurkan diri. Keluarganya sadar bahwa memaksa anak masuk pesantren bukanlah pilihan baik.

Hingga saat ini Rano tidak tahu proses di belakang layar yang memakan waktu setahun penuh. Sekali ia sempat bertanya kemana ya menghilangnya salah satu teman sekamarnya. Mengapa Baba yang dulu kerap mengejeknya atau menggunting baju dan seprainya memilih tidur di masjid. Lalu setelah libur lebaran anak lelaki iseng itu tak pernah terlihat di pesantren.

Malaikat Penjaga

Lalu apa kabar Ali? Ah bocah ini memang tidak pernah membully lagi dan masih bertahan di pesantren. Dan orang tuanya masih sibuk, hingga tak ada waktu untuk anaknya apalagi menyelasaikan masalah putranya. Tapi aku tahu, putri kami Rani sempat melabrak Lia kakak Ali.

“Kenapa Bunda nggak pernah cerita kalua adek dibully. Kalau tahu dari awal aku bisa kerahkan ihwan untuk jaga adik”, protes Rani.

“Nanti urusannya makin ribet.”

Saat ini Rani sudah kelas tiga SMA dan Rano duduk di kelas dua SMP, artinya tahun depan mereka tidak akan satu sekolah lagi. Sekali lagi saya menanyakan apakah Rano akan ikut pulang kampung jika Rani kuliah. Rano menjawab mantap ia akan tetap di pesantren hingga lulus SMA. Meski secara akademis ia tak menonjol seperti Rani, anak itu memiliki kemampuan yang tak pernah kami sangka. Rano yang dulu dikenal sebagai anak pendiam dan selalu menarik diri dari keramaian , kini berubah. Ia aktif di beberapa organisasi dan dipercaya menjadi ketua karena sifat mengayomi dan empati,

Saya sadar menjadi orang tua adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Semoga kejadian ini mengajarkan kita, agar tidak panik di kondisi seburuh apapun. Bully bukanlah hal yang benar tapi dari pada mencari siapa yang salah, lebih baik orang tua pelaku dan korban bully duduk bersama untuk menyelesaikan masalah.

Semoga ini bisa menjadi pembelajaran kita semua.

2 tanggapan untuk “Anakku Korban Bully di Pesantren”

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar