Curahan

Jangan ke Rumah Sakit Saat Pandemi, Nanti Dicovidkan

Itulah kalimat yang selalu terngiang di telinga dan sialnya minggu lalu harus ke Rumah Sakit. Tapi dengan lonjakan fantastis poisitif, sesungguhnya yang paling ditakutkan adalah banyak pasien covid di rumah sakit.

Sepulang dari Kuala Tungkal 27 Juli 2021 saya mengalami demam, seluruh badan sakit. Perjalanan yang harusnya 6 jam digeber menjadi 4 jam saja, dari Kuala Tungkal – Batam, goncangan speed boat benar-benar membuat tulang rontok. Biasanya usai patroli laut kami pulangnya menggunakan pesawat terbang tapi kali ini dengan alasan antisipasi penyebaran virus covid-19, bos tidak mengijinkan kami singgah ke bandara manapun. Apalagi sekarang tidak ada penerbangan langsung Jambi-Batam, jadi pilihannya transit ke Jakarta dan sangat beresiko.

Bagian dari prosedur aktivitas pekerjaan yang berhubungan dengan traveling, Senin pagi melakukan rapid test. Alhamdulilah hasilnya negatif, artinya demam semalam bukan karena covid tapi kelelahan perjalanan.

Namun Senin malam badan kembali demam padahal siangnya baik-baik saja dan paginya beberapa bagian wajah bengkak. Karena merasa yakin bukan covid saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Berharap dengan minum obat penurun panas dan istirahat semua akan baik-baik saja.

Nyatanya, hingga Kamis pagi wajah masih bengkak dan badan demam. Tapi saya merasa yakin ini bukan covid karena saya masih mencium aroma tempoyak campur cuka pempek di ketiak sendiri. Yang belum mendapat jawaban adalah mengapa wajah ini bengkak, karena selama ini tidak ada riwayat alergi makanan atau obat-obatan. Saya masih minum obat penurun panas warung dan berharap semua akan baik-baik saja.

Jumat pagi rasanya badan sudah tidak kuat lagi, karena demam semakin menjadi-jadi dan wajah seperti dipukulin orang sekampung. Dengan berat hati berangkat ke rumah sakit (maaf namanya dirahasiakan). Ketika ingin ke dokter umum ternyata CS mengarahkan langsung ke UGD dan begitu sampai di sana antrian di luar sudah banyak, dari beberapa obrolan terdengar pasien dengan indikasi gejala covid, ada yang hasil rapid test positif, kehilangan kemampuan mencium, sesak napas. Duh Gusti, kenapa sih jaman pandemi harus ke rumah sakit.

Setelah melakukan pendaftaran maka pasien di-screening yaitu zone merah dan zone kuning, yang merah buat yang terduga covid sedangkan yang kuning bukan terduga covid. Karena saya agak demam akhirnya masuk ke zone merah tapi beruntung di UGD kami ditempatkan di bilik berbeda. Wishhh aku rasanya lemes dah.

Kabar Duka di Tengah Pandemi

Sebelum melanjutkan kisah di alam bilik bergoyang eh UGD, aku mau cerita minggu kemarin benar-benar ujian berat. Sudahlah sakit lalu mendapat kabar bertubi-tubi. Sebelum berangkat ke Tungkal mendapat kabar bahwa dosen pembimbing kuliah di Unila meninggal dunia karena COVID. Lalu Rabu tanggal 30 Juni 2021 di tengah wajah bengkak dan badan panas mendapat kabar rekan kerja di Jambi kritis karena COVID dengan nilai saturasi 63 dan malamnya beliau wafat. :((

Jumat pagi hati saya kembali ambrol menerima kabar, Ibunda salah seorang rekan kerja yang berdomisili di Bantul. Tapi yang menyedihkan teman saya tidak boleh pulang ke kampung oleh keluarganya karena kasus positif luar biasa tinggi. Bayangkan karena rumah sakit dan pelataran tidak sanggup menampung pasien maka lapangan sepakbola didirikan tenda darurat untuk pasien COVID. Aku mendengarnya saja mau menangis apa lagi yang mengalami.

Ketika sedang menunggu dokter di bilik gawat darurat tiba-tiba mendapat kabar, adik tingkat meninggal dunia karena COVID, padahal ditanggal 23 Juni 2021 almarhum menunggah permintaan maaf jika ia dan keluarga secara tidak sengaja menyebarkan virus dan mohon doanya karena akan menjalankan karantina mandiri. Kami pun sempat mengobrol di kolom komentar.

Yogie El Anwar, seorang junior yang bedanya satu dekade. Saya bertemu dia tahun 2010 saat itu kami sama sama mencoba panggung Stand Up Comedy Lampung. Walau waktu itu dia masih mahasiswa dan saya sudah alumni obrolan masih menyambung sampai di dunia maya karena pada akhirnya ia menetap di Jakarta dan saya pindah ke Batam.

Sebelum diperiksa dokter badan ini benar-benar lunglai, lemas tak berdaya. Begitu cepatnya COVID merenggut orang-orang terderkat, sepertinya circle semakin mengecil dan kita tinggal menunggu giliran saja.

Lalu besok siapa lagi Allah yang akan direnggut oleh COVID?

Kembali di UGD

Akhirnya dokter datang dan saya diperiksa tapi lebih banyak diinterogasi, apa punya alergi makanan, obat atau apapun. Seinget saya tidak pernah alergi apapun apalagi soal makanan tapi mungkin kondisi imun sedang turun jadi bisa saja terjadi. Usai diperiksa seorang datang menanyakan apakah saya siap di test PCR dan jika asuransi tidak mengcover, siap membayar pribadi. Ya sudahlah daripada hidup penuh ketidakpastian saya bersedia dan alhamdulilah setelah konfirmasi ke pihak asuransi bisa ditanggungkan nantinya akan diselesaikan oleh kantor

Penanganan pertama ternyata diberikan beberapa suntikan katanya sih anti alergi dan vitamin tapi lumayan sakit karena diinjeksi di tangan. Setelah menunggu sekitar satu jam (sampai ketiduran) akhirnya tes PCR dimulai. Aku sih ora opo-opo ditusuk hidung dan tenggorokan berkali. Jadi kalau dihitung-hitung selama 10 hari terakhir ini hidung sudah 4 kali diobok-obok (3 kali rapid test dan satu kali PCR). Walau hasil rapid test Senin kemarin negatif, Dokter bilang akurasinya masih kurang. Wish aku manut!!!

Selesai urusan administrasi dan mengambil obat, langsung pulang dan mandi air anget. Ya malam ini berdoa semoga hasil PCR negatif, andai positif anggap saja liburan panjang.

Hasil Test PCR

Alhamdulilah hari Sabtu ini, setelah mengambil PCR test hasilnya negatif. Tapi jangan senang dulu Danan, hari Senin hidung kembali harus dicucuk karena jadwal rutin rapid test.

Ya Allah hidup macam apa ini, cucuk hidung tiada henti. Tapi sudahlah yang penting kita sehat. Walaupun untuk sehat butuh usaha lebih karena saat ini yang kita butuhkan bukan hanya kesehatan fisik tapi juga mental. Karena sedikit saja mood kita kendor dapat dipastikan imun juga turun.

Jadi jangan lupa bahagia ya teman-teman, walau tetap setia di rumah.

5 tanggapan untuk “Jangan ke Rumah Sakit Saat Pandemi, Nanti Dicovidkan”

  1. Semoga cepat sembuh, Mas.
    Bagaimana bisa ketularan covid? Tidak pakai masker atau pakai masker sebatas mulut saja?
    Saya banyal lihat orang-orang di Jakarta tidak patuhi protokol kesehatan. Akibatnya sekarang banyak yang ketularan. Menurut berita di internet ada hampir 20 persen orang Indonesia yang menyangkal adanya covid. Nomor dua diduduki orang-orang Saudi Arabia, kemudian menyusul orang-orang Cina dan Amerika di tempat ke tiga dan ke empat.

    Saya berkali-kali ke puskesmas tapi sampai sekarang aman-aman saja. Bahkan saya pernah berobat gigi dua kali. Kalau sakit jangan takut pergi ke rumah sakit selama masa pandemik ini karena kalau penyakit tidak diobati bisa kondisi kesehatan makin buruk.

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s