#TributeToJalanKemanaGitu – Berburu Kuliner Vege Ala Batam Bareng Iqbal

Ia   hadir di dunia bukan untuk membawa duka  tapi membuat orang bahagia dan bersemangat melalui kisah perjalanan.  Pernahkah kamu membuka blog http://www.jalankemanagitu.com? Pemiliknya tak pernah mengeluh  atau meratapi nasib meski cobaan hidup teramat berat hingga akhir hayatnya.

Jadi jangan pernah berharap kamu akan mendapatkan kisah sedih mendayu-dayu tentang kepergiannya di sini. Ia patut ditangisi tapi tangis itu perlu dikisahkan berulang-ulang tanpa jeda menjadi dongeng cengeng.

Ia sudah bahagia di sana dan yang patut kita ingat adalah semua kisah bahagia tentangnya, bukan sakitnya apalagi dukanya.

Dua tahun lalu saya menderita sindrom mutasi akut. Bagaimana saya merasa kehilangan segalanya ketika kantor memerintahkan untuk pindah tugas . Bahasa halusnya sih saya dibutuhkan di Batam tapi apakah benar di Batam ada yang membutuhkan saya?

Saya merasa dijauhkan dari teman dan sahabat di Jambi . Dan yang paling sakit ,  saya dijauhkan dari kehidupan travelling. Pekerjaan di Batam memiliki pola kerja 5-2 bukan 2-1 yang artinya tak ada travelling seminggu penuh setelah dua minggu bekerja.

Meski di luar saya kelihatan kuat tapi sesungguhnya saya kecewa. Beruntung saya dipertemukan seseorang di Batam yang meyakinkan bahwa pola kerja 5-2 itu bukan kiamat. Kamu masih punya waktu dua hari setelah lima hari bekerja.

Dan akhirnya kami berdialog panjang di sini…

Perayaan tahun kelinci berdasarkan kalender China memang belum usai. Jika semalam hampir semua warga Batam keturunan Tionghoa mendatangi  vihara untuk untuk berdoa. Hari ini warga yang bykan keturunan juga merasakan kemeriahan tahun baru China .

Usai berkeliling kota seorang rekan menurunkan saya di halaman Vihara Duta Maitreya, yang dulunya pernah menjadi komplek vihara terbesar di Asia Tenggara.

“Kamu pasti akan suka… Kita makan besar “,  celoteh teman baru saya seorang Blogger Batam. Ia memang bukan seleb blog yang laris diundang ke sana dan ke sini. Tapi niscaya jika kamu mencari detinasi wisata Kepri dan Batam , maka tulisannya yang akan muncul di laman google.

1

2

“Ini halal dan untuk semua orang?”, tanya saya ragu.

“Bazar ini khusus untuk penggemar kuliner vegetarian , insyaAllah halal . Nanti kamu  lihat  sendiri deh.” Iqbal menjelaskan sambil tersenyum.

Ternyata tidak  hanya kuliner china saja yang ada di sini ,  hampir semua jajanan nusantara maupun panganan turunan alkuturasi budaya Indonesia ada  di sini. Dan penjualnya juga terdiri dari beragam suku . Jadi jangan heran kalau nasi padang ada di sini. Tapi rendangnya tetap menggunakan daging buatan sesuai dengan tema vegetarian.

3

Saya memang baru beberapa minggu di Batam dan belum memiliki banyak informasi di pulau yang  dulunya tak berpenghuni. Meski dekat dari Singapura, di mata saya Batam tak terlalu menarik. Hanya pulau kecil yang digagas oleh Habibie menjadi Singapura-nya  Indonesia, meski pada akhirnya tak ada mirip-miripnya.

4

Namun itu berbeda  ketika dilalui bersama seorang pejalan sejati. Ia tak hanya melihat pengalaman yang hanya mampu dirasakan oleh indra tapi juga hati.

Seolah ia ingin berkisah bahwa Batam tak hanya dekat dengan Singapura. Kota ini memiliki masyarakat yang majemuk namun tetap rukun.

Makanannya pun tak kalah lezat dibandingkan tempat lain di nusantara. Meski hampir semua menu lahir dari alkuturasi budaya, nyatanya banyak kuliner lezat di Batam . Dan kini sudah dibuktikan oleh Batamlicous, akun instragram fenomenal yang  merangkum informasi kuliner Batam.

5

Hari itu saya patut berbangga , selain seharian diajak jalan-jalan keliling oleh blogger tersohor kota ini, saya ditraktir dua kali.

“Saya yang bayar Mas, Mas Danan kan tamu saya”, celoteh Iqbal ketika saya akan membayar makanan.

“Bal, saya ini baru mutasi di sini dan sudah jadi orang Batam.”

“Tapi  KTP nya belum Batam kan?.”

6

Dan akhirnya kami terjebak dalam euphoria kegembiraan berburu makanan vegetarian. Iqbal menyerahkan selembar kupon yang jika disobek memiliki nominal berbeda dari dua ribu sampai sepuluh ribu rupiah.

“Bal kayaknya kalau kita antri bareng kelamaan deh.”

“Ya udah mas Danan antri makanan aku minumnya.”

“Sip nanti kita duduknya di taman tengah sana.”

7 8

Tak menanti lama saya dan Iqbal duduk di taman tengah bersama beberapa pemburu makanan vegetarian lainnya.

Hari ini adalah perjumpaan saya ke dua dengan  Iqbal. Dua hari yang lalu saya sempat berjumpa dengannya namun  sekilas saja. Iqbal sibuk mengurus acara kantornya di salah satu mall di Batam dan sesekali juga harus naik panggung.

Eh ternyata Kakak blogger ini suaranya bagus. Mustinya blogger sekeren Iqbal bisa jadi seleb blog. Apa sih yang kurang dari dia? Penampilan fisik oke (baca : ganteng). Kemampuan menulis dan ngeblog tidak perlu diragukan lagi. Karena selain blog travelling, Iqbal memiliki blog lain gergenre umum dengan tulisan tak kalah asik.

Soal suara Iqbal yang bagus ini tak perlu diragukan lagi karena kalau dikepo’in kisahnya hidupnya  (baca: blognya) banyak penghargaan lomba tarik suara yang ia menangkan.

Tapi itulah Iqbal, meski prestasi dan potensi dirinya tinggi ia tetap rendah hati dan sabar.  Termasuk ketika kami berdua ditolak  ikut famtrip *** (sensor) karena tak ada kuota untuk blogger lokal. Padahal sebelum acara dimulai Iqbal sudah memberikan banyak referensi.

9

“Sabar aja Mas, belum rejeki kita”, kalimat yang selalu meluncur dari Iqbal ketika teringat tragedi PHP jilid satu blogger Kepri.

10

Obrolan panjang sambil mengudapi kuliner vegetarian membuat saya mengenal sosok Iqbal. Kamipun saling berkisah tentang perjalanan masing-masing dan berharap suatu saat akan travelling bersama.

11

“Bal kamu kerja kantoran , sabtu libur?”

“Iya sabtu minggu.”

“Seminggu cuma dua hari jalan kemana ?”

“Singapur, Karimun, Johor… Pulau-pulau kecil sekitar Batam.”.

Bagi saya yang selalu backpacking dan long trip rasanya mustahil. “Bisa itu dua hari?”

“Ya tergantung gaya jalannya.”

Setelah membaca beberapa postigan di blognya  idealisme saya yang tak ingin mengunjungi negara Singapura luruh. Kebanyakan destinasi wisata di sana memang artifisial, namun dari sudut pandang Iqbal selalu ada tempat menarik untuk dikisahkan. Seperti  tempat sholat dan masjid-masjid di Singapura.

12

Setelah berdialog dengan Iqbal rasanya sindrom mutasi mendapatkan obat mujarab. Satu per satu saya  sahabat dan kesempatan baru datang di Batam.

Saya masih ingat pertama kali mendapat job laucnhing produk dari Iqbal . Secara tiba-tiba ia mengirimkan pesan singkat bahwa sebuah perusahaan  telekomunikasi membutuhkan blogger dan saya harus datang ke acara peluncuruan produk mereka .

Mungkin bagi blogger ibukota ini biasa saja tapi bagi saya, blogger yang tinggal di hutan ini jelas luar biasa. Bagaimana hanya dengan hadir dan menulis launching produk blogger dibayar?

 

13

Dan jika pada akhirnya semua kisah tentang Iqbal berakhir, maka saya tak ingin berduka. Duka tak akan mengembalikannya. Jika ingin mengenangnya, kenang saja semua kisah bahagianya karena ia  sudah bahagia di sana.

Tulisan merupakan postingn bersama blogger yang didedikasikan bagi Iqbal Rois Kaimudin , seorang travel  blogger asal Batam yang kisah perjalananya menginspirasi banyak orang.

Tulisan blogger lainnya dapat kamu lihat di bawah ini:

  1. Chairudin Lukman | Nyanyian Terakhir Sang Idola
  2. Silviana | Kenangan Tentang Iqbal Rois Kaimudin
  3. Dian Radiata | Selamat Jalan Sahabat Kami , Iqbal Rois Kaimudin
  4. Chahaya Simanjuntak | Adeeva Ayahmu Orang Hebat
  5. Ahmadi Sultan | Ketika Bertemu Dalam Mimpi
  6. Aji & Yunita | Selamat Jalan, Iqbal
  7. Danan Wahyu | Kuliner Vege Ala Batam
  8. Sarah | Selamat Jalan Sang Motivator Travelingku, Iqbal Rois
  9. Choty | Sebenar-benarnya Kehidupan Adalah Pulang
  10. Ahmad | Selamat Jalan Mas Iq
  11. Dian Fernanda | Nyampe di Sambu Karena Jalankemanagitu
  12. Wenceu | a Tribute to Jalankemanagitu
  13. Fauzi | Kehadirannya Sungguh Berharga
    13. Akut Wibowo | Bagaimana Iqbal Rois Menginspirasi Saya
    14. Ruziana | Iqbal Rois: Pribadi yang Bertanggung Jawab
    15. Harahap Soleh | Sampai ke Rumah yang Sesungguhnya
    16. Ira Sandae | Sepekan Kepergian Almarhum
    17. Agus Saputra Asad | Sang Pemilik Jalankemanagitu Sang Pejuang Kehidupan

33 pemikiran pada “#TributeToJalanKemanaGitu – Berburu Kuliner Vege Ala Batam Bareng Iqbal

  1. Berutung bisa kenal alm bg Iqbal. TributeToJalanKemanaGitu emang pantas diberikan karena selalu muncul di laman terdepan google. Salut buat alm bg Iqbal. Semoga ilmu yang di share bisa bermanfaat bagi pembaca dan memberikan jalan baik ke sisi Allah. Aamiin

    Disukai oleh 1 orang

    1. Itu bukan event 4g KAK tapi Indosat pas aku baru baru di batam dan belum kenal siapa siapa. Iqbal Telp aku dalam waktu satu jam datang ke mega mall ada launching produk dan nulis dibayar . Dan happy ya pulang bawa dapet hadiah. Sebagai Blogger yang blm pernah ke acara gitu Happy banget

      Suka

  2. Sayang belum kesampaian jumpa langsung. Saat dia menang tiket ke Jambi aku udah “nodong” buat sekalian ke Palembang. Nanti deh bisa ketemuan sama Iqbal di tempat yang lain 🙂 you’ll be missed mas bro.

    Disukai oleh 1 orang

  3. mantap bener makanannya, cocok buat para boheler kece nih mas Danan, kirain pas liat gambarnya gak halal, coz chinesse semua..ternyata mas danan memastikan klo halal, n vegetarian semua…sayuran=halal

    Suka

  4. Blog-nya Iqbal mmg mantap soal Batam. Kami malah sempat hampir dapat guestpost dari dia untuk blog pergidulu. Namun dia keburu sakit dan sekarang sudah dipanggil pulang. Semoga blognya bisa tetap jadi panduan buat para pembacanya. Terima kasih atas postingan ini Mas Danan 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.