cerpen Lomba

Pondok Kopi Apak

“Diminum Pak kopinya.” Secangkir kopi panas kuhaturkan di atas meja sebagai upeti negosiasi.

“Iya… Terimakasih.”

“Hmmm… Bagaimana Pak dengan tawaran kami untuk tinggal bersama di Jakarta? ” Mas Beno membuka percakapan dengan kikuk.

Apak diam. Pria paruh baya itu asik membuat catatan  di buku besar. Aku dan mas Beno saling berpandangan. Suasana pun makin aneh ketika Apak tekun berdiam. Kami bagai dua penunggu kedai kopi . Setia menanti pelanggan terakhir yang tak mau pulang tapi juga tak memulai  seruput pertama.

“Pak… Apak… Tolong dengarkan kami.” Intonasi suaraku semakin tinggi. Kesabaran itu akhirnya surut bersama diam tak berkesudahan.

“Aku tida bisa…”

“Tapi siapa yang akan menjaga Apak. Aku dan Nila jauh di tanah Jawa dan Apak di Kincai. Kami ingin Apak dekat dengan kami”, ibaku.

“Ada Liman dan Amin yang menjagaku.”

“Amin tahun depan ingin  melanjutkan kuliah di Padang dan Liman calonnya orang Merlung  ia akan punya rumah sendiri.”

“Banyaklah ponakan Apak yang lain, lagian aku sendiri tak mengapa.”

“Pak… Apak belum bisa melupakan kepergian Amak. Sudah tiga tahun Pak. Lagian berdiam di sini tak akan mengembalikan Amak .  Kami anak dan cucuk  membutuhkan Apak, beri kesempatan kami untuk berbakti.”

Sekilas Apak terkejut. Meski wajahnya  tak memerah namun rautnya menegang. Mas Beno memandangku tajam tanda tak setuju. Mengungkit kematian Amak tiga tahun adalah senjata rahasiaku untuk menyentuh hati Apak. Peluangnya memang tak besar tapi cukup mengejutkan bukan?

Senjata  pamungkas itu tepat  mengenai sasaran tapi tetap membuat Apak  menyerah. Ia   meninggalkan kami sembari membawa buku besar.  Akankah kami menghujaninya lagi dengan permintaan pindah ke  Jakarta?

Cukup sudah strategi upeti  kopi dan senjata rahasia yang akhirnya membuat Mas Beno ikut-ikutan marah. Sedari awal ia tak mau terlibat urusan ini. Tapi sebagai menantu yang ingin berbakti kepada mertua , Mas Beno menuruti semua rencanaku.

***

“Gimana Yuk?”, suara Nila penasaran di ujung telepon.

“Tak tahulah. Mustinya kau anak bungsu yang merayuk Apak.”

“Tapi Yuk Neni kan anak kesayangan Apak. Kebanggaan Apak. Dokter spesialis anak lulusan  universitas luar negeri. Sedangkan aku anak durhaka yang tak pernah menurut kata-kata orang tua”, suara Nila diikuti derai tawa panjang.

“Ais, apalah kau ini. Profesiku dan kampusku dibawa-bawa. Wajahmu mirip Amak mungkin jika kau yang bicara Apak akan melunak.”

“Apak akan sebal Yuk melihat wajahku. Sudahkah  bicara kepada  Liman dan Amin?”

“Sudah… Mereka bilang setahun belakangan ini Apak tak tidur di rumah. Ia memilih di pondok. Katanya biar tak repot mondar-mandir.”

“Berarti bukan rumah dan kenangan Amak yang membuat ia tak ingin meninggalkan kampung tapi pondok kopi.”

***

Misi  belum selesai. Tanpa Mas Beno aku   menyambangi pondok popi Apak di lereng Bukit Sentiong sebelah Taman Nasional Kerinci Seblat. Ada sistem adat yang menjaga alam Kerinci tetap lestari. Hanya orang berdarah  Kincai (baca : Kerinci)  yang boleh memiliki tanah di sini, itupun dengan aturan ketat. Tak boleh menebang pohon sembarangan, hanya pohon cukup usia yang boleh ditebang.

Seperti kebanyakan kaum tua Kerinci, Apak sangat memegang adat. Ia tak akan membiarkan siapapun merusak Alam Sakti Bumi Kerinci. Dari atas pondok kopinya ia bisa melihat seluruh punggung bukit.  Bagai penjaga alam , ia selalu memastikan pohon di atas bukit tak ada yang mengusik.

“Jika kalian usik pohon di atas bukit sana  maka arwah di sana akan murka dan kampung kita akan kekeringan.” Aku selalu tersenyum jika mengingat kalimat Apak. Batas logika anak-anak memang belum mampu mencerna bukit gundul tak mampu menjadi resapan dan sumber cadangan air.

Dari balik pagar kulihat Liman sibuk memotong ranting kayu.

“Sstttt… Liman. Sudahkah Apak ke surau”, pekikuku tertahan.

“Sudah… Tadi Amin yang menemani.”

“Bagus!” Aku memberi  kode   dengan tangan bahwa semua aman  lalu berlari kecil  masuk ke dalam pondok  di sisi sungai.”

Aroma kopi menghambur bersama irama ritmis alu bertumbukan di lumpang kayu. Biji-biji kopi kering sangrai menjalani takdirnya menjadi bubuk kopi. Terbayang Amak setia menemani Apak di sini. Mengawasi sudu-sudu yang digerakan oleh kincir air agar  terus bergerak.

Sebelum tidur dulu Amak berkisah bahwa  sesungguhnya alam yang membuat kincir air tetap bergerak . Jika kau menjaga hutan di bukit atas pondok ini maka air akan tetap mengalir ke sisi pondok. Karena pohon berfungsi menyimpan air hujan yang jatuh ke bumi.  Cerita Amak lebih dapat diterima logika dibandingkan kisah Apak

Ibunda  Amak , Haji Nurlela yang mendirikan penggilingan kopi tenaga kincir air pertama di kampung kami. Meski banyak yang mengikuti jejak beliau namun pada akhirnya mereka meninggalkan kincir air dan menggantikannya dengan mesin solar. Hingga satu ketika  harga bahan bakar minyak  melambung tinggi   satu per satu penggilingan kopi di kampung kami gulung tikar.

Di tangan Amak usaha penggilingan kopi maju pesat. Kopi bubuk berlabel Haji Nur sangat terkenal di kota Sungai Penuh dan Kerinci. Tingginya permintaan pasar membuat  Apak harus  mencari bahan baku  dari  luar Kerinci bahkan Jambi.  Sembari memasarkan kopi bubuk merk Haji Nur , Apak mencari pemasok  robusta di  Lampung dan Bengkulu.

Usaha rumahan yang diwariskan nenek berkembang pesat menjadi bisnis keluarga. Banyak kerabat yang bekerja di pengilingan kopi kami.   Hingga Amak dan Apak bisa membeli sebuah ruko di pasar Kerinci yang akhirnya menjadi toko oleh-oleh. Dan yang paling membanggakan berkat usaha ini Apak dan Amak dapat membiayai  kami hingga  ke perguruan tinggi.

Setelah memutuskan  kuliah kedokteran dan melanjutkan  spesialis ke Belanda aku menyerahkan hak waris  penggilingan kopi kepada Nila. Lagipula titel  sarjana ekonomi di namanya lebih  cocok dengan semua tanggung jawab ini.

Tapi bukan Nila namanya jika tidak selalu mengejutkan Apak dan Amak. Apak dulu sangat menginginkan semua anaknya  menjadi dokter. Tapi jelang penyerahan formulir pendaftaran UMPTN  diam-diam Nila mengganti pilihannya. Meski awalnya Apak kecewa tapi Amak meyakinkan bahwa mungkin ini takdir Nila  melanjutkan bisnis keluarga.

Setelah ijasah sarjana diraih Nila menolak pulang kampung dengan alasan ingin melanjutkan ke jenjang master . Tapi apa yang terjadi. Uang kuliah yang dikirimkan dijadikan modal usaha Event Organizer bersama teman-temannya. Apak memang tidak pernah terlihat murka, tapi sejak itu ia  bicara seperlunya kepada Nila. Tanda bahwa hatinya luka. Keduanya berdamai dan mengiklaskan hati setelah Amak berpulang.

“Yuk… Kok diam?”, suara Liman membuyarkan lamunanku.

“Benar , Apak jarang pulang dan tidur di sini.?”

“Tidak tapi di pondok sebelah.”

“Pondok rahasia?”

Pondok rahasia , itulah sebutan Amak untuk pondok kecil di sisi hutan. Tempat robusta disulap menjadi kopi bubuk paling nikmat se-Kerinci bahkan Jambi.  Sebelum masuk ke pondok penggilingan biji kopi disangrai di sini.

Ranting-ranting pohon kayu manis yang terbakar di bawah tungku menghamburkan aroma khas. Ia akan menyesap ke dalam biji kopi yang disangrai. Perpaduan aroma keduanya melahirkan cita rasa tak biasa. Inilah rahasia mengapa kopi Haji Nur terasa spesial dan berbeda.

Tak ada yang berubah dari pondok rahasia. Dindingnya  berjelaga menghadirkan aroma kopi dan kayu manis .  Amben kayu tempat Amak biasa duduk sambil memilah biji  tetap berdiri kokoh. Kini di atasnya  bertumpuk selimut dan bantal.  Mereka bersanding rukun bersama cangkir kaleng besar milik Apak .

“Kau yang membuatkan kopi Apak Man?”

“Bukan. Mamok tak mau dibuatkan kopi oleh siapa-siapa.”

Berlahan kubuka cangkir besar berwarna hijau. Cairan hitam di dalamnya terlihat begitu pekat memikat. Lamat-lamat kucium aroma yang membuatku rindu. Bau Amak.

Kuseurput kopi di cangkir besar sambil membayngkan Amak. Astaga , Kopi ini tak manis. Padahal dulu Amak tak pernah lupa  membubuhkan gula aren dan pasir di dalam kopi Apak. Sebegitukah perasaan Apak sejak ditinggal Amak. Ia memilih untuk menikmati rasa  pahit sekligus melupakan manisnya kopi.

***

Ba’da isya  kulihat Apak duduk di meja makan. Aku lega ia memilih tidur di rumah malam ini.

“Nen!  Kau masak apa untuk makan malam.” Suara Apak bergema memanggilku. ” Ajaklah suamimu makan, kita makan bersama.”

“Ado sambal lado dan gulai ikan semah”. Aku bergegas keluar kamar bergegas menghampiri Apak di sisi meja. Ia tersenyum lebar pertanda murkanya telah reda.

Namun Mas  Beno tetap waspada. Ia memilih diam menghadapi sikap Apak yang melunak. Akupun gentar menanyakan hal kemarin lusa tentang kepindahan ke Jakarta dan kopi pahit di pondok.

“Enak ya makan bersama seperti ini. Kapan ya kita terakhir seperti ini?”

“Tahun lalu Pak.”

“Iya lebaran tahun lalu”. Tiba-tiba Mas Beno ikut bersuara.

“Hmm. Kapan kalian pulang?” Suasana menjadi tak enak. Seolah kehadiran kami benar-benar tak diharapkan. Mas Beno menatapku, ia berisyarat agar aku tak kecewa lalu melontarkan kata tak patut.

“Lusa Pak. Kami akan lewat Padang.”

“Hmmm. Boleh aku ikut?”

Aku dan Mas Beno bengong mendengar permintaan Apak.

“Setelah kupikir-pikir lebih baik aku tinggal bersama kalian.”

Susasana kembali hening. Aku dan Mas Beno tak menyangka dengan ucapan Apak.

“Bagaimana dengan toko dan penggilingan kopi?” , tanyaku.

“Harta itu titipan kita kembalikan saja kepada yang punya, Tuhan”, canda Ayah.

“Caranya?” Mas Beno bengong merespon celoteh Apak.

“Aku sudah putuskan bahwa akan menyerahkan penggilingan kopi ke Amin. Tadi sepulang dari langgar ia berkata tak ingin melanjutkan kuliah. Baginya bekerja di pondok mengolah biji kopi sudahlah cukup.  Meski tak bersekolah tinggi anak itu hebat penuh tanggung jawab.  Ia sangat mencintai alam. Dan Toko di pasar biarlah kelak diurus Liman dan istrinya.”

“Apak… tak sayang…”, tanyaku tertahan.

“Aku lebih sayang dengan kalian. Bukankah Amin dan Leman juga cucuk Nenek Nur?”

Aku dan Mas Beno terdiam. Masih takjub dengan keputusan Apak.

“Kemarin lusa Apak tak mau tinggal bersama kami. Kenapa bisa berubah secepat ini?”, tanyaku penuh selidik.

Mas Beno menatapku tajam. Matanya melotot seolah berkata betapa  bodohnya aku.  Tak seharusnya  melontarkan pertanyaan di situasi seperti ini.

“Kamu memang anak Apak yang paling kritis. Tapi sebaiknya kau simpan pertanyaan logismu, buatkan Apakmu ini kopi. Hmmm…tanpa gula ya.”

“Sejak kapan Apak tak suka kopi manis seperti buatan Amak”, tanyaku.

“Sebulan lalu. Tepatnya sejak mantri  di Puskesmas menyarankan untuk diet glukosa. Sulitlah hidup begini kalau sendirian. Tapi berbeda kalau ada kau. Apak punya dokter pribadi.”

“Apak sakit diabetes?”

“Bukan. Ini memang maunya Tuhan agar Apak beristirahat dan dekat dengan kalian.”

Sebelum aku bertanya lebih dalam Mas Beno menginjak kakiku. Ia berisyarat agar tidak merusak suasana sepeti kemarin lusa.

“Baiklah Pak. Kopinya mau di cangkir atau di  gelas?”

“Cangkir besar sepert biasa Amakmu buat.”

Aku berjalan menuju dapur dengan perasaan buncah sekaligus penasaran dengan semua situasi ini. Otakku terus berputar keras mencari jawaban dari pertanyaan yang tak berani kuungkapkan di depan Apak.

***

“Amin, jika rencana kita berhasil kau boleh ambil semua jatah warisanku”, suara Nila di ujung telepon.

~Selesai~

(*Apak = Ayah , Amak = Ibu, Mamok = Paman, Kincai = Kerinci)

 

Cerita pendek ini terinspirasi tulisan Kincir Air Pemecah Biji Kopi.

8 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.