Kincir Air Pemecah Biji Kopi

bilik penggilingan kopi Nur - Sungai Penuh
balok kayu mengangguk-angguk memecah biji kopi

Delapan balok kayu mengangguk bergantian menandaskan biji kopi sangrai, dari butiran hitam menjadi remah-remah. Dua lelaki cekatan menggoyang ayakan logam berkilat-kilat. Bubuk kopi berjatuhan membentuk gundukan kecil  di lantai. Suara gemericik air dan ritmis kayu bertumbukan menghipnotis bersama aroma kopi di pagi hari.  

dua pekerja mengayak remah-remah kopi
dua pekerja mengayak remah-remah kopi
kincir besar di sisi bilik digerakan air mengalir di kanal
kincir besar di sisi bilik digerakan air mengalir  kanal

Langkah kaki tertahan melewati bilik sederhana usai menikmati matahari terbit di Bukit Khayangan, Sungai Penuh Jambi. Di depannya kincir air berputar penuh semangat,  setengah badannya di kanal berkubang dengan air . Sudu-sudunya di hantam air silih berganti-ganti tiada henti. Mengingatkan proyek tugas akhir PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro)  masa kuliah. Meski hanya konsep dan perencanaan semuanya tergambar sangat jelas, bagaimana energi potensial menjadi energi kinetik lalu energi listrik. Listrik yang dihasilkan memang tidak sebesar PLTA tapi mampu  memenuhi kebutuhan beberapa rumah tangga. Mengurangi ketergantungan PLN yang tarifnya rutin naik setiap tahun.

Poros kincir tak dihubungkan dengan generator tapi dimanfaatkan untuk memecah biji kopi. Teknologi sederhana ramah lingkungan yang memanfaatkan energi terbarukan. Seperti sinar matahari, air merupakan energi yang tidak akan pernah  habis. Selama ekosistem sumber air terjaga , air  akan terus mengalir menuruni bukit. Gugusan Bukit Barisan di Sumatra kaya akan air terjun yang dapat dimanfaatkan sebagai PLTMH, namun tingginya ketergantungan terhadap energi fosil membuat orang enggan memanfaatkan sumber daya alam ini secara maksimal.

Kopi Nur
Haji Irwan Efendi pemilik kincir air . Pria  berpenampilan sederhana  mengawasi pekerja di bilik sebelah.  Sesekali mengangkat karung berisi biji kopi untuk disangrai .  Pria paruh baya memperkenalkan diri sebagai generasi ketiga kopi  Nur ,  kopi bubuk terkenal asal Sungai Penuh.

“Nur, Nurcaya itu nama mamah saya,  usianya 74 tahun sekarang. Penggilingan kopi ini warisan nenek moyang mamah,” ujar pria yang beken dengan nama Haji Pen kopi Nur.

Sudah tiga puluh tahun lebih Haji Pen menjalani bisnis kopi yang diwariskan secara turun temurun. Dengan  kapasitas produksi 500 kg biji kopi robusta sehari kopi olahannya  mensuplai pasar Jambi,  Bengkulu, Sumatra Barat dan Pekanbaru.

“Dulu banyak yang seperti ini tapi banyak yang digantikan mesin dan  tak jalan lagi.”

Kenaikan harga BBM menyebabkan  tingginya ongkos produksi.  Berat bagi industri rumah tangga membeli bahan bakar industri yang harganya makin tinggi. Sudah harganya tak menentu begitu juga ketersediannya di pasaran . Masalah klasik distribusi BBM di negeri ini , terutama di daerah.  Akhirnya usaha  penggilingan  kopi yang mengandalkan mesin gulung tikar.

Bijksanalah Nurcaya dan keturunannya tetap mempertahankan kincir air hingga roda-roda usahanya tetap berputar hingga anak cucu.

“Lihat ini anak saya  yang satu dokter umum , satunya mahasiswi kedoteran di USU tingkat tiga.” Sumringah wajah Haji Pen seraya menunjukan foto kedua putrinya. Rasa syukur tak terhenti keluar dari mulutnya karena dari usahanya mampu membiayai anaknya sekolah. Walau tak menjadi dokter, Haji Pen berharap si bungsu yang kini SMA juga melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Dari Balik Dapur
Hawa panas menyeruak  dari dua tungku besar   dengan lidah api berkobar menjilati drum dari bawah.  Sesekali drum diputar manual dan  kayu kering   disorongkan ke dalam tungku. Panasnya udara di dalam drum tak membuat  biji kopi blingsatan seperti berondong jagung. Mereka tenang sampai mengering dan hitam.

menyangrai kopi - drum diputar agar biji kopi matang merata
menyangrai kopi – drum diputar agar biji kopi matang merata

Asap pembakaran dan aroma kopi berbaur, baunya mirip dapur Bude di kampung. Hampir semua dinding tertutup jelaga hitam. Tak perlu ngopi untuk menikmati hitam dan rasa kopi melalui indra penciuman. Hanya rasa pahit yang tak ada.

kayu kering disorongkan agar api tetap menyala
kayu kering disorongkan agar api tetap menyala
memutar drum agar kopi matang merata
drum diputar dengan tongkat besi

Tapi nanti dulu. Melihat kayu-kayu yang dibakar rasa getir  pahit muncul. Berapa banyak pohon yang ditebang setiap harinya.   Jika pohon diambil  dari bukit sana, akankah  menganggu serapan air hujan. Bisa saja esok atau lusa debit air tak mampu menggerakan kincir, karena bukit tak memiliki cadangan air.

bilik (dapur) menyangrai biji kopi
persediaan kayu di sampung dapur

Andai saja ada energi alternatif yang lebih ramah lingkungn untuk menyangrai biji kopi. Mungkin biogas. Bukankah di Sungai Penuh banyak kerbau pembajak sawah, tentu kotorannya dapat dimanfaatkan.

Bagaimana dengan cell surya? Idealnya energi terbarukan ini untuk penerangan dikombinasikan dengan lampu hemat energi. Butuh teknologi tambahan mahal agar sinar matahari mampu menyalakan oven. Kalau mau murah ya dijemur saja, tapi sampai kapan matangnya. ~ berpikir dalam sambil berhalunasi~

Nampaknya senyawa alkaloid xantina meracuni otak saya. Meski hanya aroma ternyata kafein membuat saya berhalunasi. Usai berpamitan sayapun melangkah pulang,  meninggalkan kincir air pemecah biji kopi dan ide-ide gila.

 

13 pemikiran pada “Kincir Air Pemecah Biji Kopi

  1. Bener sih…kalo pohon ditebang terus bisa gundul trus pasokan air tanah berkurang, mesti diganti tenaga yang lebih ramah lingkungan 🙂
    Masuk ke area ini mudah dijangkau dari jalan raya kah?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s